Bagikan Artikel Ini:

Gangguan mental OCD bisa dialami oleh siapa pun. Penyembuhannya juga terbilang menghabiskan waktu lama. Terlebih lagi jika anak-anak yang menderitanya.

Obsessive-compulsive disorder (OCD) adalah penyakit mental yang kedatangannya bisa saja tidak ada yang menyadarinya. OCD pada anak dapat menghalangi aktivitas dan menghambat tumbuh kembang anak.

Pada rentang usia anak di bawah 7 tahun, adalah saat anak-anak sedang semangat bermain menyusun benda berdasarkan warna dan menyusun mainan berdasarkan kegunaan.

Namun, di tengah semangat dalam mengorganisasikan dan menyortir sesuatu. Ternyata, ada bahaya yang mengintai bila tidak ada pengawasan. Jika anak memiliki obsesi pada hal tersebut. Maka orang tua perlu diwaspadai.

Jadi, apa penyebab OCD pada Anak dan bagaimana cara mengetahuinya lebih dini?

Apa itu OCD?

Kenali Tanda Tanda Gangguan OCD pada Anak dan Ketahui Penyebabnya - Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Paige Cody on Unsplash

OCD merupakan keadaan yang mengganggu kesehatan mental seseorang dalam jangka panjang karena selalu mencemaskan segala hal sehingga menimbulkan obsesi atau obsessive tak berdasar. Agar kecemasan itu hilang, seseorang tersebut akan melakukan suatu ritualistik secara kompulsif, atau berulang, atau terus-menerus.

Anak yang menderita OCD akan selalu merasa tidak yakin, apa yang dilakukannya benar kemudian dia akan melakukan pembenahan kembali sampai beberapa waktu lamanya.

Mereka akan menata-nata ulang mainan terus-menerus sampai terasa rapi kemudian menyeka tangan atau meja belajar dengan tisu basah hingga merasa semua bakteri terbunuh. Lalu, anak akan merasa takut pada sesuatu yang kotor secara berlebihan.

Secara umum, rasa cemas pada anak umur 1-2 tahun adalah wajar karena segalanya masih terasa asing dan lambat laun terbiasa dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi, jika memasuki umur 4,5 tahun atau lebih anak masih mengalami kecemasan yang berlebih. Maka, itu menjadi lampu merah anak menderita OCD.

Penyebab OCD pada Anak

OCD tidak mungkin muncul begitu saja tanpa ada penyebabnya. Melansir Medlineplus penyebab OCD terbagi menjadi 4, yang meliputi:

1. Genetika, dari Keluarga Terdahulu

Anak yang memiliki sejarah keluarga mengidap OCD, risikonya atau kemungkinannya lebih tinggi menurunkan gangguan kesehatan.

Karena hormon serotonin otak yang menimbulkan perasaan nyaman dan senang tidak terhubung dengan sel aktif lainnya dengan baik.

Orang tua dapat menurunkan OCD pada anaknya. Hubungan pertama antara orang tua dan anak seperti ini risikonya lebih besar dibandingkan dengan saudara dengan anak atau kakek-nenek dengan anak.

2. Lingkungan yang Menuntut Kebersihan

Berada di lingkungan yang mengutamakan kebersihan dan keteraturan dapat menjadi penyebab anak menderita OCD. Anak yang sudah biasa dengan ritual lingkungan tersebut, ketika keluar dari akan memperlihatkan kecemasan yang begitu besar.

3. Trauma Masa Kecil

Beberapa penelitian menemukan bahwa ada hubungan antara trauma anak dengan OCD. Anak yang mengalami kekerasan rumah tangga, bullying di sekolah, dan kehilangan secara cepat orang yang ia cintai.

Menyebabkan anak tidak kuasa menahan perubahan cepat tersebut. Fisik dan emosi yang terkuras dapat menjadi penyebab anak mengidap OCD.

4. Terinfeksi Bakteri

Meskipun terdengar tidak logis, namun infeksi bakteri tertentu juga dapat menimbulkan OCD pada anak karena mengganggu kerja otak sampai membuat logika pikir terganggu dan menimbulkan kecemasan.

Studi menunjukkan bahwa struktur dan fungsi otak orang dengan gangguan mental OCD dan yang tidak memiliki perbedaan di bagian tertentu.

Dalam beberapa kasus, 5% anak-anak mengalami OCD atau OCD setelah infeksi streptokokus atau autoimun. Ini disebut Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders Associated with Streptococcal Infections (PANDAS).

Selain itu, anak laki-laki lebih banyak terkena OCD daripada perempuan saat masih usia anak. Namun, berbanding terbalik ketika beranjak remaja. OCD pada anak laki-laki perlu adanya perhatian khusus karena dapat menjadi gejala gangguan lainnya.

Gejala Gangguan OCD pada Anak

Asosiasi Anxiety dan Depresi Amerika menyatakan, anak-anak yang terkena OCD tidak sadar dengan aktivitas kompulsifnya.

Mereka masih belum mengerti emosi yang dihasilkan dan memilih diam padahal pikirannya sedang berkecamuk. Anak penderita OCD menceritakan jika ada suara yang memerintahkan mereka bekerja tanpa henti.

Terdapat gejala yang terbagi atas kategori berupa obsesi dan kompulsif sebagai berikut ini:

1. Takut terhadap Sesuatu

Anak OCD mempunyai rasa takut pada sesuatu tertentu. Jika tidak sedang mengatur objek secara berulang, mereka akan menimbulkan ketakutan berupa:

  • Dirinya atau orang lain akan mudah mati karena hal sepele seperti terkena pisau
  • Selalu punya pikiran buruk terhadap dirinya atau orang lain. Biasa disebut dengan overthinking
  • Takut dan cemas telah membuat suatu kesalahan
  • Selalu merasa paling berdosa karena melakukan sesuatu yang jahat

Kebanyakan anak mengubur ketakutan tersebut dan tidak mengungkapkannya pada orang tua maupun guru bimbingan konselingnya. Sehingga, perlu kesabaran ekstra agar anak bercerita dengan sendirinya.

2. Memaksakan Kehendak Agar Sesuai dengan Apa yang Ia Inginkan

Tanda anak dengan OCD selanjutnya bisa terlihat saat anak mau segala hal yang ada harus sesuai dengan keinginannya. Ciri ini dapat Anda antisipasi ketika anak meminta bantuan orang yang lebih tua untuk menge-cek sesuatu secara terus-menerus.

Anak pun memilih orang kepercayaan yang dapat membantu. Jika saat dicek terjadi ketidaksesuaian maka anak akan gusar. Apalagi barangnya di-cek oleh orang dewasa yang belum ia percayai.

  • Selalu meminta bantuan dalam membasuh tangan berulang kali
  • Mondar-mandir kembali ke rumah menyatakan rumah telah tertutup rapat dan aman
  • Membuat jadwal berpakaian dan wajib mengaplikasikannya.
  • Menata suatu benda berdasarkan kategori tertentu dan memastikan semua tidak ada yang miring agar selalu rapi.
  • Menghitung uang di dompet secara berulang untuk meyakinkan bahwa tidak ada yang jatuh dan sebagainya
  • Mengulangi kata atau pembicaraan padahal telah ia katakan
  • Bertanya hal yang seragam dengan sebelumnya
  • Pengulangan angka, lagu, dan lain sebagainya

3. Mempunyai Pemikiran yang Terlampau Jauh

Anak dengan gangguan mental OCD mempunyai pola pikir yang tidak biasa dengan orang kebanyakan. Hal ini membuat orang tua harus membantunya dengan memberikan pemahaman.

Pikiran yang Anak OCD ajukan antara lain:

  • Saat membersihkan sesuatu yang kotor dan jorok mesti digosok terus-menerus agak bakteri dan virus hilang. Termasuk gagang pintu, jendela, bantalan tangan, badan, dan masih banyak yang lainnya,
  • Semua barang harus rapi sesuai dengan garis dan ditempatkan ditempat yang sesuai. Jangan sampai melihat gunting di atas TV atau buku di meja makan. Ketika hal berjalan tidak semestinya akan membuat pengidap OCD merasakan kecemasan yang tidak bisa terhenti.
  • Memastikan segalanya aman. Jendela terkunci, listrik padam, kompor telah dimatikan, gas tercabut, tiap pintu kamar tertutup, kunci tidak ada yang tertinggal, dan lain-lain saat meninggalkan rumah dalam waktu lama atau singkat sekalipun.

4. Sulit Berkonsentrasi dengan Baik

Konsentrasi tinggi sangat perlu dalam mengerjakan aktivitas apapun. Konsentrasi juga penting untuk pertumbuhan anak kedepannya. Namun, OCD yang diderita anak dapat membuat konsentrasinya terganggu.

Sebab, ada banyak pikiran dalam otak seperti sedang terjadi perang. Sehingga, anak lupa cara fokus karena mereka masih ingin menyelesaikan masalah di dalam pikirannya sendiri.

Mereka akan mengalami kebingungan antara cuci tangan atau membersihkan rumah dahulu.

Kesusahan dalam menentukan segala macam hal pasti membuat kehidupan anak terganggu dan tidak dapat menikmati masa mudanya dengan bahagia.

5. Merasakan Emosi yang Naik Turun dan Berubah dengan Cepat

Penderita OCD termasuk pada anak-anak umumnya mudah tantrum. Emosi kecemasan, kesedihan, kekesalan, dan kemarahan akan meluap dengan sendirinya.

Di lain sisi, jika anak tidak dapat mengeluarkan emosi yang ia punya, maka ia akan menjadi anak yang anti sosial apalagi saat hal yang anak inginkan tidak berjalan sesuai keinginannya.

Emosi dapat meledak seketika bila ada hal yang tidak sesuai penataannya atau barang yang tidak dikembalikan ke tempat semula.

Dari lima gejala tersebut dapat disimpulkan jika OCD akan selalu melakukan pengulangan dalam pencucian (washer), pemeriksaan (checker), penimbunan (hoarding), penataan (organize), dan kerapian (symmetry and orderliness).

Bagaimana Cara Menangani OCD pada Anak?

Kenali Tanda Tanda Gangguan OCD pada Anak dan Ketahui Penyebabnya - Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Benjamin Manley on Unsplash

Pada saat anak terdiagnosa menderita OCD. Sebagai orang tua hendaknya membimbingnya dengan sabar dan santai agar keluar dari lingkaran setan tersebut.

Menderita OCD berarti aktivitas anak terganggu, stres, depresi, fokus menurun, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, peran orang tua sangat dibutuhkan pada saat-saat seperti ini.

Untuk menangani anak OCD dalam proses penyembuhan ada hal-hal spesial yang harus orang tua lakukan. Karena perlakuan pada anak dengan gangguan.

Simak beberapa kiat dalam menangani anak OCD berikut ini:

1. Menjelaskan Apa yang Sedang Anak Alami dan Mendengarkan Keluh Kesah Anak

Untuk meringankan Anda saat proses penyembuhan. Orang tua harus bertukar pikiran dengan anak. Anak harus Anda memberitahu dan menjelaskan tentang sesuatu yang ada dalam dirinya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Setelah itu, Anda dapat bertanya. Apakah buah hati Anda mengalami masalah atau merasakan sesuatu pada dirinya. Kemudian, ajaklah anak menemui seorang ahli untuk penyembuhannya tanpa paksaan.

2. Bikin Sebutan untuk Gangguan

Buatlah nama lain untuk gangguan mental OCD yang sedang menyerang anak. Hal ini akan memudahkan apa yang sedang anak rasakan mengungkapkan kepada orang tua. Serta, anak juga bisa melawan penyakitnya dengan berusaha menyingkirkannya.

3. Jangan Langsung Menghentikan Aktivitas Anak

Saat anak melakukan sesuatu yang berulang kali. Jangan langsung meminta anak menghentikan kebiasaannya tersebut. Bimbing anak dengan memintanya mengurangi pengecekan dari 5 kali menjadi 3 kali. Serta memberikan semangat kalau anak dapat melawan.

4. Memberikan Perhatian dengan Kata-kata Positif

Ketika anak menanyakan apakah dia sudah menghitung atau mengecek barang. Orang tua harus dengan suara yakin menyatakan barang sudah terbawa agar anak merasa tenang. Ucapkan kata-kata positif seperti “kamu bisa” dan pujian agar anak percaya apa yang telah dilakukan tidak perlu dilakukan kembali.

5. Selalu Temani Anak Ketika Menjalani Terapi

Anak dengan OCD akan menjalani terapi CBT (Cognitive behavioural therapy). Dalam setiap terapi dan konseling, sebaiknya Anda memberikan pendampingan sebagai bentuk dukungan.

Kesimpulan

Penyebab OCD pada anak mungkin terlihat sepele dan dapat menghilang dengan sendirinya. Namun, anak penderita OCD memerlukan perlindungan ekstra oleh orang tua. Jika anak mengalami beberapa gejala gangguan mental OCD, bawalah anak ke psikolog dan psikiater untuk pengobatan lebih lanjut.

Sebagai sekolah yang konsen dengan kesehatan mental. Prestasi Global memiliki guru-guru pendamping yang ahli untuk membantu para siswa melewati masa anak-anak dan remaja dengan mental yang sehat. Mari peduli kesehatan mental.

Baca juga: 11 Tips Mengatasi agar Anak Tidak Cengeng dan Mudah Nangis

1. Apa pengertian gangguan OCD pada anak?

OCD merupakan keadaan yang mengganggu kesehatan mental seseorang dalam jangka panjang karena selalu mencemaskan segala hal sehingga menimbulkan obsesi atau obsessive tak berdasar. Anak yang menderita OCD akan selalu merasa tidak yakin, apa yang dilakukannya benar kemudian dia akan melakukan pembenahan kembali sampai beberapa waktu lamanya. Mereka akan menata-nata ulang mainan terus-menerus sampai terasa rapi kemudian menyeka tangan atau meja belajar dengan tisu basah hingga merasa semua bakteri terbunuh. Lalu, anak akan merasa takut pada sesuatu yang kotor secara berlebihan. Secara umum, rasa cemas pada anak umur 1-2 tahun adalah wajar karena segalanya masih terasa asing dan lambat laun terbiasa dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi, jika memasuki umur 4,5 tahun lebih anak masih mengalami kecemasan yang berlebih. Maka, itu menjadi lampu merah anak menderita OCD.

2. Apa saja gangguan OCD pada anak?

Gangguan OCD pada anak bisa ditandai dengan anak takut terhadap sesuatu, mereka akan memaksakan kehendaknya agar sesuai dengan apa yang ia inginkan, sulit berkonsentrasi dengan baik, dan terakhir mereka akan merasakan emosi yang naik turun dan berubah dengan cepat.

3. Apa penyebab gangguan OCD pada anak?

Penyebab OCD pada anak bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor genetika, faktor lingkungan, factor trauma masa kecil, atau faktor kesehatan yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

(Visited 59 times, 2 visits today)
WhatsApp WhatsApp us