Bagikan Artikel Ini:

Keutamaan Mendidik Anak dalam Islam

Seiring bertambahnya literasi masyarakat mengenai Islam, semakin banyak orang tua yang meningkat kesadarannya akan pentingnya pendidikan yang Islami. Berbeda dengan dekade 80-an, sekarang parenting Islami pun telah menjadi pilihan utama bagi orang tua. Apa saja keutamaan mendidik anak dalam Islam?

Anak Sholeh, Dambaan Tiap Orangtua

Parenting Islami : Keutamaan Mendidik Anak Dalam Islam - Sekolah Prestasi Global

Setiap orang tua pasti mendambakan memiliki anak yang sholeh. Sejak di kandungan, selama bulan dan hari berlalu, hati tiap ayah dan ibu senantiasa dipenuhi harapan.

“Akan jadi apa anakku kelak?”,

“Aku harap ia menjadi anak yang sholeh dan berbakti”,

“Cepat lahir ya, nak, ayah dan ibu tidak sabar untuk melihat senyummu”,

Adalah beberapa pikiran yang melintas di benak mereka yang menanti buah hati.

Lalu ketika tangisan pertama pecah di ujung penantian, betapa banyak yang juga tak bisa menahan air mata haru-nya ikut mengalir. Sungguh momen tersebut adalah hikayat yang akan selalu terkenang di memori para ayah dan ibu. Momen yang indah ketika kecemasan luntur lalu berganti kegembiraan.

1. Keutamaan Memiliki Anak Sholeh Pertama: Menjadi Penyejuk Mata Di Dunia

Seiring berjalannya waktu, si kecil pun mulai berkembang. Mulut mungilnya yang asalnya bahkan tak bisa mengunyah makanan paling lembut pun kini mulai memanggil kedua orang tuanya. Setelah bulan demi bulan berlalu, kaki kecilnya pun mulai tertatih menopang satu-dua langkah meski akhirnya terjerembab lagi.

Setelah tahun demi tahun, nalarnya mulai berkembang. Ia yang dahulu tak bisa membedakan antara warna merah dan biru, kini sudah bisa dengan fasih menyebut ragam mainan yang dibelikan ayahnya, nama keluarganya, dan jenis-jenis makanan serta minuman.

Meski tubuhnya kian membesar, namun kedudukannya di hati ayah dan ibu tetap sama: sebagai penyejuk hati yang menghilangkan gundah. Ingatkah anda hari-hari ketika tidak ada yang lebih anda tunggu kecuali agar segera pulang kerja lalu menemui buah hati di rumah?

Sungguh, anak-anak adalah penyejuk hati bagi kedua orang tuanya. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an, menceritakan tentang do’a hamba-hambaNya:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا – ٧٤

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS Al-Furqon: 74]

Para hamba-hamba Allah (‘Ibadurrahman), mereka senantiasa berdoa agar Allah mengaruniai mereka pasangan dan keturunan yang menjadi penyenang (penyejuk) hati.

2. Keutamaan Kedua: Menjadi Simpanan Amal Yang Terus Mengalir

Selain menjadi penyejuk hati, anak-anak pun bisa menjadi sarana agar kedua orang tua mendapatkan pahala yang senantiasa mengalir setelah meninggal. Dalam hadits yang masyhur, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Dalam hadits tersebut, terdapat kabar bahwa ketika seseorang meninggal, maka amalannya terputus. Ia tidak lagi bisa beramal, karena sekarang ia sudah berada di alam barzakh.

Namun, ternyata ada hal-hal yang bisa tetap mengalirkan pahala baginya setelah kematiannya. Salah satunya, adalah anak sholeh yang senantiasa mendoakannya.

Karena, anak yang sholeh adalah hasil dari kerja keras orang tuanya dalam mendidiknya. Oleh karena itu, agama ini sangat menekankan pentingnya pendidikan anak dalam hal agama, agar kelak mereka bisa menjadi anak yang sholeh. Seorang anak yang sholeh selain bermanfaat untuk sesama, juga bisa terus mengalirkan pahala bagi orang tuanya yang telah meninggal.

3. Keutamaan Ketiga: Reuni Di Surga

Parenting Islami : Keutamaan Mendidik Anak Dalam Islam - Sekolah Prestasi Global

Ketika melihat anak tersebut taat, orang tua pun optimis dan berharap bisa berkumpul kembali di surga, sebagaimana dijelaskan dalam surat Ar-Ra’du:

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ – ٢٢

Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang men-dapat tempat kesudahan (yang baik),

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ – ٢٣

(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ – ٢٤

(sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu. [QS. Ar-Ra’du: 23-25]

Maka anak yang sholeh selain menjadi penyejuk mata kedua orang tuanya di dunia, juga akan membersamai mereka di akhirat kelak di dalam surga yang kekal.

4. Keutamaan Keempat: Meninggikan Derajat Orang Tua Di Surga

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول: أنى هذا ؟ فيقال: باستغفار ولدك لك

“Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), lalu ia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istighfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.’”

Sebagian ulama menerangkan makna hadits ini, yakni: jika seorang anak menempati kedudukan yang lebih tinggi dari ayahnya di surga kelak, maka ia akan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah meninggikan kedudukan ayahnya sebagaimana kedudukan anak tersebut. Kemudian Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya.

Menempuh Sebab, Untuk Mencetak Anak Yang Shalih

Tentu saja, mendidik seorang anak agar menjadi sholeh bukan perkara yang mudah. Apalagi di tengah zaman yang penuh beragam godaan dan cobaan seperti sekarang ini. Baik cobaan dan godaan yang bersifat syahwat (kesenangan duniawi seperti pergaulan bebas dan narkoba), maupun yang bersifat syubhat (kesesatan pemikiran seperti komunisme dan sebagainya).

Rasa-rasanya jika kita lengah sedikit saja, sangat mudah bagi anak-anak kita tergelincir ke berbagai penyimpangan. Oleh karena itu, setiap orang tua harus bekerja keras agar bisa menjadi sebab anaknya menjadi seorang insan yang sholeh.

Dalam menafsirkan ayat ke-74 dari surat Al-Furqon yang telah berlalu di atas, ulama ahli tafsir pun menjelaskan makna dari permohonan hamba-hamba Allah akan pasangan dan anak-anak yang menjadi “penyejuk hati” tersebut.

Mereka menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan pasangan dan anak-anak yang menyejukkan hati adalah pasangan dan anak-anak yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dalam sebuah riwayat pun seorang ulama besar pada masa-nya, Hasan Al-Bashri, menjelaskan bahwa tidak ada yang lebih menyejukkan hati seorang kepala keluarga kecuali ketika melihat istri dan anak-anaknya taat dan senantiasa beribadah kepada Allah.

Jadi, anak yang menjadi penyejuk mata orang tua-nya bukanlah sekedar anak yang cantik/tampan serta cerdas, namun adalah anak yang sholeh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang tua harus cerdas dalam mempelajari dan mempraktekkan ilmu parenting bagi anak-anaknya.

Pendidikan, Jalan Utama Menjadikan Anak Sholeh

Salah satu cara utama agar anak menjadi sholeh (selain dengan senantiasa berdoa kepada Allah) adalah dengan memberinya pendidikan terbaik, yakni pendidikan agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala membebankan tanggung jawab pendidikan ini secara langsung kepada para orang tua:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).

Seorang tabi’in (orang yang belajar kepada para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam), Qatadah, mengatakan ketika menafsirkan ayat ini,

تأمرهم بطاعة الله وتنهاهم عن معصية الله وأن تقوم عليهم بأمر الله وتأمرهم به وتساعدهم عليه فإذا رأيت لله معصية ردعتهم عنها وزجرتهم عنها

“Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga membebankan secara langsung tanggung jawab ini kepada para orang tua. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Maka, hendaknya orang tua bersungguh-sungguh dalam mendidik anaknya. Orang tua harus menjadi pendidik yang baik, serta memilihkan guru dan sekolah Islam yang baik bagi anak-anaknya.

Urgensi Pendidikan Dalam Islam Dan Ancaman Bagi Yang Meninggalkannya

Dalam Islam, mendidik anak adalah sebuah kewajiban dan bukanlah sesuatu yang bersifat opsional. Jika orang tua melalaikan pendidikan ini, maka dapat berdampak buruk tidak hanya bagi anak tetapi juga bagi orang tua itu sendiri.

Seorang ulama besar pada masanya, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Salah seorang ulama berkata, ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak akan meminta pertanggungjawaban terhadap orang tua tentang anaknya, sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak mengenai baktinya pada orang tuanya.

Karena, sebagaimana orang tua mempunyai hak yang mesti anaknya penuhi, begitu pula anak mempunyai hak yang mesti orang tuanya penuhi. Oleh karena itu sebagaimana Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْناً

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.” (Qs. al-‘Ankabuut: 8)

Allah pun berfirman,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6)

Oleh karena itu, siapa yang tidak mendidik anaknya dengan pendidikan Islam yang bermanfaat bagi anak tersebut serta membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh ia telah melakukan keburukan yang besar kepada anaknya tersebut.

Mayoritas kerusakan (moral) pada anak-anak timbul justru karena kesalahan dari pihak orang tua sendiri, yakni dengan tidak memberikan pengarahan bagi mereka, serta tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran dalam agama.

Sehingga sebab mereka tidak memerhatikan pendidikan anak-anak mereka sewaktu kecil, anak-anak tersebut pun tidak bisa melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri, dan akhirnya mereka juga tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang tua mereka ketika orang tua telah lanjut usia.

Sebagaimana yang terjadi ketika salah seorang ayah mencela anaknya yang durhaka padanya, maka anak itu menjawab: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah berbuat durhaka kepadaku (tidak mendidik-ku) sewaktu aku kecil, maka aku pun mendurhakaimu setelah engkau tua. Karena engkau menyia-nyiakanku di waktu kecil maka aku pun menyia-nyiakanmu di waktu engkau tua.”

Kesimpulan

Sebagai agama yang ilmiah dan sangat memerhatikan kepentingan umatnya, Islam sangat menekankan pentingnya pendidikan dan parenting Islami untuk mencetak anak-anak yang sholeh dan berbakti.

Syariat menjelaskan banyak keutamaan mendidik anak, dari mulai menjadi penyejuk mata, menjadi simpanan amal yang terus mengalir (amal jariyah), hingga kesempatan untuk bisa reuni di surga dan meninggikan derajat di surga kelak.

Namun, orang tua pun harus sangat serius dalam menjalankan pendidikan ini karena pendidikan anak adalah kewajiban agung yang Allah dan Rasul-Nya tanggungkan langsung ke pundak kedua orang tua.

Baca Juga : Alasan Orang Tua Menyekolahkan Anak Di Sekolah Islam

Apa yang dimaksud dengan menjadi penyejuk mata di dunia?

Seiring berjalannya waktu, si kecil pun mulai berkembang. Mulut mungilnya yang asalnya bahkan tak bisa mengunyah makanan paling lembut pun kini mulai memanggil kedua orang tuanya. Setelah bulan demi bulan berlalu, kaki kecilnya pun mulai tertatih menopang satu-dua langkah meski akhirnya terjerembab lagi.

Apa Ancaman Urgensi Pendidikan Dalam islam Bagi Yang Meninggalkannya?

Dalam Islam, mendidik anak adalah sebuah kewajiban dan bukanlah sesuatu yang bersifat opsional. Jika orang tua melalaikan pendidikan ini, maka dapat berdampak buruk tidak hanya bagi anak tetapi juga bagi orang tua itu sendiri. Seorang ulama besar pada masanya, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Salah seorang ulama berkata, ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak akan meminta pertanggungjawaban terhadap orang tua tentang anaknya, sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak mengenai baktinya pada orang tuanya. Karena, sebagaimana orang tua mempunyai hak yang mesti anaknya penuhi, begitu pula anak mempunyai hak yang mesti orang tuanya penuhi.

Mengapa keutamaan parenting islami menjadi simpanan amal yang terus mengalir?

Karena, anak yang sholeh adalah hasil dari kerja keras orang tuanya dalam mendidiknya. Oleh karena itu, agama ini sangat menekankan pentingnya pendidikan anak dalam hal agama, agar kelak mereka bisa menjadi anak yang sholeh. Seorang anak yang sholeh selain bermanfaat untuk sesama, juga bisa terus mengalirkan pahala bagi orang tuanya yang telah meninggal.

 

(Visited 20 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us