Bagikan Artikel Ini:

Setiap orang tua memiliki gaya parenting tersendiri. Begitu juga bagaimana masing-masing anak membutuhkan parenting berbeda. Diantara itu, tiger parenting dan elephant parenting merupakan dua gaya yang sedang banyak menarik perhatian.

Dalam mendidik dan menjaga anak, orang tua tentunya menginginkan apa yang terbaik bagi buah hati mereka. Gaya parenting yang diadopsi masing-masing orang tua tentu berbeda. Beberapa orang tua mungkin berfokus pada kedekatan, keharmonisan dan menjaga sang buah hati. Memperlakukan anak layaknya teman dekat untuk berbagi cerita dan kasih sayang. Sedangkan untuk orang tua lain, fokus parenting mereka justru bagaimana membangun anak yang tangguh dan kuat. Baik itu melalui latihan kedisiplinan, kemandirian, sampai juga menaruh hormat yang besar pada orang tua. Kedua gaya parenting anak tersebut di atas disebut juga dengan Tiger Parenting dan Elephant Parenting.

Mengenal Apa Itu Tiger Parenting

Dari namanya saja sepertinya sudah ada bayangan bagaimana gaya pengasuhan Tiger Parenting. Meski gaya pengasuhan ini tidak seekstrim layaknya orang tua harimau dengan anak-anak mereka. Sebaliknya, Tiger Parenting mengambil istilah dari buku best seller “Battle Hymn of the Tiger Mother” dari Amy Chua. Amy Chua yang juga seorang profesor hukum di Yale University, Amerika Serikat, menyebut diri sendiri sebagai “The Tiger Mother”. Sebabnya karena sosok harimau yang dilambangkan dengan kekuatan dan keberanian.

Orang tua dengan pola pengasuhan tiger parenting mengutamakan kedisiplinan dan kemandirian pada anak. Anak dididik sekaligus disiapkan untuk menghadapi dunia yang keras di masa depan. Caranya? dengan pengasuhan yang tidak kalah keras. Seperti lambang harimau di pola pengasuhan ini. Anak diajarkan untuk menjadi mandiri. Kedisiplinan dan sikap hormat anak pada orang tua juga ditekankan melalui berbagai aturan yang diberikan. Sehingga anak diharapkan akan memiliki landasan karakter yang baik saat mereka dewasa.

Pola pengasuhan ini juga berfokus pada akademis. Mengingat kesuksesan secara akademis akan membantu anak di masa depan. Demi hidup mereka yang lebih baik serta tergapainya cita-cita. Fokus pada akademis ini membuat anak dengan pola asuh tiger parenting dituntut untuk berprestasi. Mereka memiliki jadwal belajar yang sibuk. Baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Di sisi lain, orang tua memberikan dukungan penuh untuk pendidikan anak. Tidak jarang orang tua dengan pola asuh tiger parenting terlibat secara langsung dalam pelajaran anak-anak mereka.

Karakter Tiger Parenting

Disadur dari buku “Parenting No Drama: Mengasuh dengan Ilmu, Bukan Sekadar Naluri”, karakter pola asuh tiger parenting adalah:

  1. Anak dididik untuk disiplin dan bekerja keras. Agar saat dewasa nanti mampu bertahan dan berhasil di dunia yang keras dan dipenuhi dengan persaingan.
  2. Pengajaran untuk keberanian, kekuatan, dan determinasi pada anak.
  3. Fokus pengasuhan di pendidikan. Anak yang mendapatkan pola asuh ala Tiger Parents akan memiliki jadwal belajar yang padat di dalam dan luar sekolah.
  4. Anak akan memiliki perasaan tertekan ketika mendapat pola asuh ini. Meski diyakini, perasaan tertekan yang dihadapi anak justru untuk mempersiapkan mereka menjadi anak kuat. Anak diharapkan tidak menjadi cengeng di masa depan.
  5. Tiger Parents tidak sekedar meminta anak melakukan kegiatan atau pelajaran. Orang tua dengan pola asuh ini akan terlibat secara langsung dalam kegiatan dan pelajaran tersebut.
  6. Tiger Parenting merupakan gabungan metode pengasuhan anak tegas (asertif) dan penuh dukungan (suportif).

Seperti disebut di atas, orang tua menyadari bahwa gaya pengasuhan ini akan membuat anak tertekan. Walaupun hal tersebut dilakukan demi melatih kekuatan mental anak. Harapannya tekanan yang dihadapi mengajarkan anak untuk tidak menjadi cengeng, lebih tangguh, dan kuat.

Hasil penelitian Asian American Journal of Psychology yang diterbitkan di tahun 2013 menunjukan bahwa gaya pengasuhan ini tidak sekedar tegas dan keras. Sebaliknya, Tiger Parents mengusung pola asuh anak yang merupakan perpaduan dari asertif dan suportif. Orang tua memberikan ketegasan pada anak sekaligus dukungan sepenuhnya. Tidak sekedar bersikap menuntut dan otoriter yang memberi paksaan pada anak. Melainkan turut terlibat sepenuhnya. Bahkan orang tua bisa jadi ikut mempelajari bersama anak demi memberikan dukungan yang diperlukan.

Dampak Tiger Parenting Pada Anak

Pola parenting anak layaknya Tiger Parents ini sudah tentu memberi dampak tersendiri pada anak. Baik itu dampak yang sifatnya positif maupun negatif. Berikut ini beberapa dampak yang dihadapi anak dari pola pengasuhan tiger parenting.

1. Motivasi Belajar Tinggi

Tiger Parents yang berpusat pada pendidikan memberikan motivasi anak untuk belajar. Anak menjadi terdorong untuk menunjukan hasil dan prestasi akademis serta non akademis. Tentu ini membuat anak lebih rajin, disiplin, dan giat belajar. Ekspektasi tinggi dari orang tua memberi motivasi lain untuk anak untuk menunjukan hasil lebih baik. Belum lagi orang tua yang aktif berkontribusi dengan dukungan yang diberikan. Entah itu belajar bersama, sampai memberikan berbagai fasilitas untuk anak belajar.

2. Lebih Patuh Pada Orang tua

Pola pengasuhan yang keras dan tegas tentu membuat anak menjadi patuh. Aturan yang diberikan orang tua mendorong anak untuk tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran. Terlebih bila orang tua juga menghadirkan hukuman jika anak melanggar aturan tersebut.

3. Tuntutan Menjadi Perfeksionis

Tipe parenting dari orang tua memang akan sangat berpengaruh pada karakter dan pribadi anak. Tiger parenting, salah satunya akan membuat anak menjadi sosok perfeksionis. Tingginya tuntutan dan tekanan dari orang tua tidak hanya memotivasi anak. Melainkan juga menuntut anak untuk memberikan hasil sempurna. Hal ini pada akhirnya berdampak lahirnya karakter anak yang perfeksionis.

4. Kurangnya Empati

Dampak negatif dari pola asuh Tiger Parents membuat anak kurang memiliki empati. Pengasuhan yang keras, tegas, dan penuh aturan serta berpusat di pendidikan membuat anak fokus pada hal-hal tersebut. Di sisi lain, empati anak juga akan berkurang kepada orang tua. Anak akan merasa bahwa perhatian, kasih sayang, bahkan pujian yang diberikan orang tua berasal dari hasil yang mereka berikan. Bila mereka mendapat nilai tinggi misalnya, maka mereka akan mendapat pujian dan kasih sayang. Keadaan ini akhirnya akan mengurangi kedekatan anak dan orang tua. Hingga rasa empati anak, untuk orang tua terutama, berkurang.

5. Mengalami Tekanan Psikologis

Orang tua dengan pola asuh layaknya Tiger Parents memang menyadari bahwa mereka memberikan tekanan pada anak. Sayangnya tidak semua orang tua sadar bahwa tekanan tersebut tidak selalu berujung dampak positif. Anak bisa mengalami tekanan psikologis. Beban ekspektasi dari orang tua serta tekanan yang dirasakan bisa memberati mental anak. Bahkan bila orang tua terlalu tegas, anak akan dibayangi rasa ketakutan. Selain itu fokus pada pendidikan yang membuat anak sangat sibuk dengan pelajaran juga bisa menyebabkan anak kehilangan waktu bermain. Masa-masa bahagia mereka bisa berkurang karena tuntutan pelajaran.

Mengenal Apa Itu Elephant Parenting

Layaknya ibu gajah yang penuh kasih sayang dan perlindungan, pola pengasuhan ini fokus pada kedekatan anak dan orang tua. Elephant Parenting adalah pengasuhan orang tua yang selalu mendukung, menolong, dan bahkan cenderung memanjakan anak. Priyanka Sharma-Shndar, penulis dengan domisili San Fransisco, Amerika Serikat pernah menulis di majalah America The Atlantic mengenai kaitan pola pengasuhan gajah dengan orang tua.

Ibu gajah dikenal sangat melindungi anak-anak mereka. Tidak hanya rela berkorban dan menyelamatkan sang anak dari predator. Ibu gajah membimbing sang anak untuk berjalan, memberikan pertolongan saat jatuh. Bahkan juga melimpahi anak gajah dengan kasih sayang. Tidak jarang ibu gajah juga bermain-main dengan sang anak sampai melingkarkan ekor mereka agar tidak tersesat. Pola pengasuhan layaknya ibu gajah inilah yang diadopsi dalam elephant parenting.

Orang tua dengan pola pengasuhan ini melimpahkan kasih sayang untuk anak-anak mereka. Mereka tidak menuntut sang anak untuk berprestasi di sekolah. Sebaliknya justru memahami kemampuan dan batasan ketidakmampuan anak. Anak dengan pola pengasuhan ini mendapat kesempatan untuk bermain-main. Menikmati masa kanak-kanak mereka tanpa dorongan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Tidak hanya itu saja. Elephant Parents juga selalu siap di sisi anak. Memberikan bantuan bila anak mengalami kesulitan, pertolongan dan penjagaan sepenuhnya bagi buah hati mereka.

Karakter Elephant Parenting

Cenderung penuh kasih sayang, bahkan memanjakan, berikut ini merupakan karakter utama untuk pola pengasuhan elephant parenting.

  1. Orang tua memberi kesempatan pada anak untuk menikmati masa kecil yang bahagia.
  2. Orang tua selalu ada di samping anak. Memberikan pertolongan dan penjagaan setiap kali anak membutuhkan.
  3. Anak dan orang tua memiliki hubungan dekat secara emosional. Hal ini menghindarkan adanya konflik dengan orang tua.
  4. Anak cenderung memiliki sifat manja karena pola asuh yang memanjakan.
  5. Adanya orang tua setiap saat untuk anak membuat karakter bergantung. Sehingga anak juga sulit menjadi mandiri.
  6. Memiliki pola parenting anak yang sama dengan persimif. Dimana orang tua memberikan kebebasan untuk anak dalam membuat keputusan. Tanpa adanya aturan yang jelas serta konsekuensi yang dihadapi anak.

Elephant parenting, seperti pola asuh lain memiliki sisi baik dan buruk. Kedekatan emosional antara anak dan orang tua menumbuhkan hubungan harmonis. Bahkan sampai anak tumbuh dewasa. Di sisi lain, pola asuh yang memanjakan ini membuat anak berkarakter lemah. Anak juga akan lebih banyak bergantung kepada orang tua saat menghadapi masalah.

Dampak Elephant Parenting

1. Hubungan Anak Dekat Dengan Orang tua

Limpahan kasih sayang yang diberikan orang tua membuat hubungan dengan anak menjadi dekat. Anak menganggap sosok orang tua sangat berharga dan penting di hidup mereka. Kedekatan hubungan ini akan berpengaruh juga di masa depan. Dimana saat dewasa, anak tetap memiliki ikatan emosional kuat dengan orang tua.

2. Anak Lebih Terbuka

Hubungan orang tua dan anak yang dekat juga menumbuhkan sikap terbuka pada anak. Anak akan melihat sosok orang tua layaknya sahabat. Ia bisa mengutarakan isi hati, perasaan, sampai apa yang menjadi beban di hidupnya.

3. Empati Kuat

Pengasuhan elephant parenting menumbuhkan empati yang kuat pada anak. Baik itu empati pada orang lain sampai orang tua. Anak juga akan lebih mudah menjadi dekat dan memberi kasih sayang untuk orang lain.

4. Memiliki Sifat Manja dan Tergantung

Adanya orang tua untuk membantu, menyelamatkan, dan menolong membuat anak memiliki sifat tergantung. Anak juga akan biasa dimanjakan. Sehingga karakter manja dan sangat mudah tergantung ini dapat terbawa sampai anak dewasa. Sifat manja anak juga muncul ketika orang tua tidak memberikan aturan yang tegas. Anak menjadi lebih cengeng dan bergantung kepada orang tua mereka.

5. Tidak Mandiri

Adanya orang tua yang siap membantu juga membuat anak tidak mandiri. Anak akan meminta tolong orang tua untuk masalah yang dihadapi. Bahkan bisa saja, anak bergantung sepenuhnya pada orang tua. Masing-masing gaya parenting anak memberikan dampak tersendiri. Elephant maupun tiger parents pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Namun dengan cara dan fokus berbeda.

Baik itu elephant parenting atau tiger parenting bisa dijadikan pola pengasuhan sesuai kebutuhan anak. Kami, di Prestasi Global akan membantu anak mencapai prestasi dan karakter terbaik mereka.  Sekaligus memaksimalkan dampak positif pola pengasuhan orang tua.

Sebutkan 3 karakter elephant parenting!

Orang tua memberi kesempatan pada anak untuk menikmati masa kecil yang bahagia. Orang tua selalu ada di samping anak. Memberikan pertolongan dan penjagaan setiap kali anak membutuhkan. Anak dan orang tua memiliki hubungan dekat secara emosional. Hal ini menghindarkan adanya konflik dengan orang tua.

Apa yang dimaksud dengan Elephant Parenting?

Elephant Parenting adalah pengasuhan orang tua yang selalu mendukung, menolong, dan bahkan cenderung memanjakan anak.

Bagaimanakah pola asuh karakter Tiger Parenting?

Anak dididik untuk disiplin dan bekerja keras. Agar saat dewasa nanti mampu bertahan dan berhasil di dunia yang keras dan dipenuhi dengan persaingan. Pengajaran untuk keberanian, kekuatan, dan determinasi pada anak. Fokus pengasuhan di pendidikan. Anak yang mendapatkan pola asuh ala Tiger Parents akan memiliki jadwal belajar yang padat di dalam dan luar sekolah.

(Visited 141 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us