Bagikan Artikel Ini:

Pernahkah Anda berlaku sangat keras dan menuntut terhadap anak Anda yang masih remaja? Perlakuan yang kelewat tegas dan keras terhadap anak tersebut merupakan bagian dari strict parenting. Simak pembahasan mengenai pengertian, akibat, dan cara mencegah perilaku tersebut berikut ini.

Pengertian Strict Parenting

akibat menerapkan strict parenting - Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Morgan Basham on Unsplash

Strict parents adalah orang tua yang menetapkan standar tinggi terhadap anaknya. Biasanya, orang tua dengan pola asuh strict seperti ini akan bertindak sangat tegas dan cenderung menuntut anaknya dalam segala hal.

Pola didik yang seperti ini tidak sepenuhnya salah, selama orang tua tetap memberikan dukungan dan kasih sayang yang seimbang. Namun, banyak orang tua yang hanya menuntut anaknya untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan tanpa mendukungnya.

Akibatnya, orang tua dengan pola asuh seperti ini cenderung menjadi sosok yang bersifat otoriter. Orang tua yang seperti ini tidak begitu memikirkan dampak jangka panjang dari pola asuhnya, yang terpenting anaknya bisa memenuhi ekspektasi mereka.

Melansir dari kompasiana.com, Terri Apter, seorang ahli psikiatri remaja dari Newnham College, Cambridge turut memberikan pendapatnya. Menurut Terri, orang tua cenderung memaksakan ekspektasi tinggi terhadap anaknya karena adanya tuntutan yang terbentuk dari lingkungannya.

Akibat Menerapkan Strict Parenting

Pola asuh yang bersifat otoriter seperti ini dapat membawa dampak negatif terhadap anak. Berikut akibat yang timbul akibat penerapan pola asuh strict yang berlebihan terhadap anak:

1. Perubahan Sifat Anak Menjadi Semakin Tertutup

Orang tua yang memberikan terlalu banyak tuntutan terhadap anak, secara tidak langsung akan membuat hubungan keduanya renggang. Jurang yang terbuka lebar di antara orang tua dan anak semakin tidak dapat terjangkau oleh keduanya.

Di satu sisi, anak menjadi lebih tertutup dan semakin menjaga jarak dengan orang tua. Sedangkan di sisi lain, orang tua tidak menyadari adanya perubahan sifat anaknya sehingga terus melancarkan pola asuh strict.

Jika orang tua terlambat menyadarinya, bukan tidak mungkin anaknya akan semakin ‘jauh’ dan tertutup. Dalam beberapa kasus, anak yang memiliki orang tua strict pun kerap kali melihat orang tuanya sebagai musuh. Jelas hal ini bukan merupakan hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.

2. Kurang Percaya Diri dan Menyendiri

Anak akan mendapatkan berbagai arahan, aturan, dan tuntutan lainnya dari orang tua strict. Jika tidak melaksanakan apa yang telah orang tuanya katakan atau minta, anak akan kena marah. Bahkan, saat memarahi anaknya, orang tua terkadang menggunakan kata-kata yang cenderung kasar.

Akibatnya, anak menjadi kurang percaya diri. Anak selalu ragu-ragu dalam bertindak karena takut apa yang Ia lakukan tersebut salah. Ia takut jika melakukan kesalahan, akan kena marah oleh orang lain.

Tidak hanya itu, kepercayaan diri pun cenderung kurang baik ketika bergaul dan berkomunikasi dengan temannya. Bagi anak tersebut, menjalin interaksi dengan orang lain merupakan suatu hal yang mengerikan.

Anak akan selalu terbayang berbagai tuntutan dan aturan orang tuanya ketika berinteraksi dengan orang lain. Menurutnya, menyendiri adalah jalan terbaik supaya Ia tidak harus berinteraksi dengan orang lain dan memenuhi ekspektasi mereka.

3. Sulit Mengambil Keputusan

Hampir semua yang anak lakukan selalu salah dan tidak tepat menurut orang tua. Hal ini menyebabkan anak menjadi tidak yakin dengan diri sendiri. Anak merasa bahwa Ia adalah kesalahan sehingga tidak berhak memutuskan sesuatu.

Pada tahap ini, anak sulit mengambil sebuah keputusan bahkan keputusan kecil sekalipun. Bayang-bayang kesalahan yang Ia lakukan selalu terlintas setiap ingin memutuskan sesuatu. Akibatnya, anak cenderung tidak berani mengambil keputusan dan meminta bantuan orang lain.

4. Membuat Anak Menjadi Pribadi yang Pembangkang

Anggapan orang tua bahwa anak akan menjadi pribadi yang penurut jika terus diatur adalah kesalahan besar. Bukannya menjadi anak yang penurut, Ia justru akan semakin membangkang. Anak merasa bahwa Ia juga berhak bebas menentukan pilihannya tanpa aturan kaku dari orang tuanya.

Oleh karena itu, anak akan selalu melawan dan tidak menuruti apa yang orang tua katakan. Anak melakukan hal ini karena mereka ingin ‘lepas’ dan bebas dari ‘kurungan’ yang selama ini mengekangnya. Ia ingin membuktikan bahwa tidak selamanya ekspektasi orang tua merupakan yang terbaik baginya.

5. Anak Sering Berbohong

Strict parents yang terlalu otoriter terkadang menerapkan hukuman bagi anaknya yang melanggar aturan dan tidak memenuhi ekspektasinya. Hukuman tersebut bisa berupa caci maki dengan kata-kata kasar hingga siksaan fisik. Hal ini dapat menimbulkan trauma bagi anak sehingga Ia takut kejadian serupa terulang.

Oleh karena itu, anak mengandalkan kebohongan supaya Ia tidak mendapat hukuman. Menurutnya, dengan berbohong Ia dapat ‘lepas’ dari hukuman yang menantinya. Misalnya, berbohong dengan mengatakan Ia tidak mendapat nilai rendah saat ujian supaya tidak mendapat hukuman dari orang tuanya.

6. Merasa Terkekang dan Tidak Bebas

Aturan yang mengelilingi diri anak membuatnya merasa terkekang. Ia merasa terkurung di dalam sebuah penjara tak kasat mata. Apapun yang Ia lakukan, dibatasi oleh berbagai aturan kaku yang orang tuanya terapkan.

Anak yang mendapat berbagai aturan ini tidak dapat menjalankan aktivitasnya tanpa pengawasan orang tua. Hak anak untuk bebas seakan terenggut dari dirinya. Di usianya yang masih remaja, Ia tidak dapat berbuat sesuatu selain menurut pada orang tua.

7. Berpotensi Menjadi Pelaku Bullying

Pola asuh yang anak terima dengan dasar ‘Harus memenuhi seluruh keinginan orang tua’ membuatnya menyerap hal tersebut. Akibat penyerapan pola asuh tersebut, anak berpotensi menjadi pelaku bullying. Anak akan menindas orang yang lebih lemah daripada dirinya karena merasa bahwa Ia lebih berkuasa.

Menurutnya, orang yang lebih lemah harus menuruti keinginan orang yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa orang tua jauh lebih berkuasa dan kuat daripada anak, maka hal tersebut berlaku juga pada orang lain.

8. Anak Membenci Diri Sendiri

Anak merasa selalu salah dan tidak pernah berhasil menjadi apa yang orang tua inginkan. Hal tersebut akan menimbulkan tanda tanya besar bagi diri anak. “Aku anak yang tidak berguna”, akan terus terngiang di pikirannya.

Akibatnya, anak jadi membenci diri sendiri. Ia akan beranggapan bahwa dirinya tidak berguna dan tidak pantas untuk hidup. Kebencian yang mendalam terhadap diri sendiri ini berpotensi menimbulkan gangguan psikis pada anak.

9. Gangguan Psikis

Tuntutan yang tiada henti terhadap anak akan membuat psikisnya terganggu. Setiap langkah yang Ia ambil selalu disertai pengawasan ketat sehingga Ia akan selalu merasa tertekan. Tekanan yang anak rasakan ini dapat berpengaruh jangka panjang terhadap psikisnya.

Anak akan menjadi lebih mudah cemas, gelisah, dan merasa ketakutan. Apapun yang Ia lakukan, harus sesuai aturan dan selalu memenuhi ekspektasi orang tuanya. Kondisi ini lambat laun dapat menyebabkan anak menjadi depresi.

Jika anak sampai menderita depresi, kehidupan sosialnya pun terganggu. Anak akan merasa tidak berdaya dan tidak pantas hidup sehingga akhirnya keinginan untuk bunuh diri terlintas di benaknya.

10. Berkemungkinan Mencontoh Pola Asuh Orang Tua

Meski tidak memberi contoh secara langsung, orang tua dapat menjadi contoh yang menyebabkan perilaku buruk pada anak. Secara tidak sadar, anak merekam segala perilaku yang orang tuanya berikan padanya. Rekaman perilaku tersebut akan terus tersimpan dalam otaknya dan mempengaruhi perilakunya.

Anak tanpa sadar terus mengingat segala pola asuh strict orang tuanya, hal tersebut akan terbawa hingga dewasa. Anak akan cenderung menjadi pribadi yang otoriter. Ia menganggap bahwa segala sesuatunya harus berjalan sesuai keinginannya.

Cara Mencegah Strict Parenting

Pengertian Strict Parenting - Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Eye for Ebony on Unsplash

Setelah mengetahui berbagai dampak negatif strict parenting, Anda tidak ingin hal tersebut terjadi pada anak. Oleh karena itu, kami akan membantu Anda supaya dapat mencegah pola asuh strict tersebut. Berikut cara-cara yang dapat Anda lakukan untuk pencegahan:

1. Berpikir Positif dan Terbuka terhadap Anak

Orang tua yang strict sering kali berpikiran negatif terhadap anaknya sehingga mereka membuat banyak aturan. Batasan yang dibuat dalam aturan tersebut mereka maksudkan supaya anak tidak nakal dan membangkang.

Padahal, kalau ingin anaknya menurut dan berperilaku baik, orang tua seharusnya lebih berpikiran positif terhadap anaknya. Percayakan pada anak bahwa segala yang Ia jalani sudah dipertimbangkan dengan baik oleh dirinya sendiri. Dengan begitu, anak menjadi segan dan menuruti Anda tanpa tekanan.

Selain itu, Anda juga harus lebih terbuka kepada anak. Anda bisa menjadikan diri sendiri sebagai tempat curhat bagi anak sehingga Ia merasa dipedulikan dan disayang. Dengan begitu, anak tidak akan mungkin berbohong pada Anda karena Ia terbiasa untuk terbuka terhadap segala sesuatu yang terjadi.

2. Turunkan Ekspektasi

Anda harus belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan Anda. Memiliki ekspektasi sah-sah saja, tetapi jangan menjadikan harapan dan keinginan tersebut sebagai beban yang semuanya dilimpahkan ke anak. Biarkan anak mencari tahu apa yang baik bagi dirinya sendiri.

Dalam hal ini, Anda harus mencoba untuk ikhlas apabila sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan. Selain itu, cobalah ajak anak berdiskusi tentang keinginan yang ingin Ia raih dalam hidupnya. Dengan begitu, Anda dapat memikirkan perasaan dan keinginan anak sebelum memutuskan segala sesuatu.

3. Melakukan Evaluasi Diri Sendiri

Berperan sebagai orang tua bukan berarti Anda telah menjadi sosok yang sempurna dan tanpa kekurangan. Evaluasi diri penting untuk Anda lakukan supaya dapat terus memperbaiki kekurangan sebagai orang tua. Jika ada pola asuh yang dirasa kurang tepat, teruslah belajar untuk memperbaikinya.

4. Perbanyak Bacaan tentang Parenting

Tidak usah malu untuk terus belajar menjadi orang tua. Terkadang, strict parents menganggap bahwa pola asuh yang dilakukan sudah ideal tanpa celah. Strict parents cenderung menolak untuk belajar dari sumber lain karena menganggap mereka lah yang terbaik.

Pola pikir tersebut jelas salah besar. Meski sudah menjadi orang tua, Anda tetap harus belajar banyak hal supaya dapat menjadi sosok yang lebih baik bagi anak. Perbanyak baca buku bertemakan parenting untuk mengetahui pola asuh yang tepat dan baik bagi anak Anda.

Kesimpulan

Begitu banyak dampak buruk strict parents yang dapat terjadi pada anak. Tidak hanya berpengaruh pada kehidupan sosial anak, melainkan berpengaruh juga pada kesehatan psikisnya. Anda tentunya tidak ingin bila hal tersebut terjadi pada anak Anda bukan?

Jika tidak ingin anak menjadi korban dari strict parenting, Anda harus menerapkan cara pencegahan tersebut. Selama Anda menjadi sosok yang bijak dan penuh kasih sayang, anak pun akan menuruti Anda tanpa harus disuruh. Anak juga akan merasa lebih disayang oleh orang tuanya.

Baca juga: Alasan Mengapa Tidak Boleh Menyebut Nakal Pada Anak 

1. Apa pengertian dari strict parenting?

Pengertian strict parents adalah orang tua yang menetapkan standar tinggi terhadap anaknya. Biasanya, orang tua dengan pola asuh strict seperti ini akan bertindak sangat tegas dan cenderung menuntut anaknya dalam segala hal.

2. Apa akibat menerapkan strict parenting?

Akibat menerapkan strict parenting yaitu: Perubahan sifat anak menjadi tertutup, kurang percaya diri dan menyendiri, sulit mengambil keputusan, membuat anak menjadi pribadi yang membengkang, anak sering berbohong, merasa tertekang dan tidak bebas, berpotensi menjadi pelaku bullying, anak membenci diri sendiri, gangguan psikis, dan bermungkinan mencotoh polah asu orang tua.

3. Bagaimana cara mencegah strict parenting?

Cara mencegah strict parenting bisa dengan berpikir positif dan terbuka terhadap anak, turunkan ekspetasi, melakukan evaluasi diri sendiri, dan perbanyak bacaan tentang parenting.

 

 

(Visited 168 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us