Bagikan Artikel Ini:

Masalah kesehatan mental mulai ramai dibicarakan di masyarakat. Kesadaran tentang kesehatan mental memang penting untuk dibangun. Karena kesehatan mental menjadi salah satu peranan utama dalam kehidupan selain kesehatan fisik, terutama kesehatan mental saat remaja.

Masa remaja adalah fase penting menuju kedewasaan dan pembentukan jati diri. Proses transisi yang seharusnya terlalui dengan baik dan penuh kegembiraan. Masih banyak remaja mengisi saat remaja dengan bergelut oleh keadaan mental yang tidak stabil dan memprihatinkan.

Mengapa Kesehatan Mental Remaja Penting?

Kesehatan Mental Remaja Penting - Prestasi Global

Kesehatan mental pada remaja dapat membentuk perilaku maupun tatanan hidup mereka di masa depan. Remaja memiliki banyak kekhawatiran dan stress yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar.

Proses pendidikan yang tidak bisa berjalan dengan baik, keinginan untuk bebas dan mandiri, keinginan lebih baik dari teman sebaya, dan keinginan mengakses teknologi lebih leluasa menjadi faktor yang menyebabkan kesehatan mental remaja terganggu.

Selain itu, keadaan keluarga yang tidak harmonis, pelecehan seksual, dan kekerasan teman sebaya merupakan faktor penentu lainnya yang mempengaruhi kesehatan mental remaja.

Lalu, macam-macam masalah kesehatan mental apa saja yang rawan pada para remaja? Berikut contohnya!

Macam-Macam Masalah Kesehatan Mental yang Sering Dialami Remaja

Macam-Macam Masalah Kesehatan Mental yang Sering Dialami Remaja - Prestasi Global

1. Depresi atau Gangguan Emosi

Semua orang dari segala usia pasti menghadapi depresi. Dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry yang terbit tahun 2011, bahwa manusia paling tidak mengalami 1 kali fase depresi.

Remaja pun banyak mengalaminya, bahkan bisa lebih parah daripada orang dewasa. The British Medical Journal mencatat gejala depresi parah dialami 8-10% siswa sekolah menengah .

WHO menyatakan masalah kesehatan yang umum menyerang adalah depresi dan kecemasan dan 75% penderitanya mengalaminya sebelum umur 24 tahun.

Depresi menjadi masalah kesehatan mental yang awalnya dari perasaan sedih yang berlanjut atau berkepanjangan. Hingga kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dijalani, tidak bersemangat, merasa rendah diri atau rasa bersalah, tidur dan makan tidak teratur, hingga daya konsentrasi menjadi rendah setidaknya selama dua minggu.

Dampak psikologis dari gangguan emosi atau depresi pada remaja ialah menjadi mudah marah dan frustasi berlebihan, kesulitan memulai aktivitas di sekolah, dan terlihat murung. Selain dampak psikologis, depresi juga dapat menyerang kesehatan fisik. Seperti, terkena GERD, pusing, sampai mual. hingga yang terburuk adalah percobaan bunuh diri

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merangkum gejala depresi yang harus diperhatikan oleh penderita depresi dan orang disekitarnya:

  • Kehilangan energi dan minat pada kegiatan sehari-hari
  • Nafsu makan turun atau bertambah
  • Mengalami gangguan tidur seperti insomnia, kurang tidur, atau terlalu lama tidur
  • Cemas pada diri sendiri dan keadaan
  • Konsentrasi menurun
  • Tidak dapat membuat keputusan
  • Perasaan putus asa dan tidak berguna
  • Perasaan tidak aman dan khawatir
  • Merasa bersalah dan,
  • Berpikiran dan membicarakan untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri

Jika Anda bertemu atau merasa mengalami depresi, bicarakan dengan orang terdekat yang Anda percayai atau hubungi pihak-pihak professional.

2. Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan merupakan kondisi saat seseorang merasa cemas ketika berada dalam situasi tertentu atau berhubungan dengan objek yang menakutkan baginya. Akibatnya, seseorang yang mengalami gangguan kecemasan mengalami cemas yang tidak dapat terkendali dan terjadi secara terus-menerus.

Melansir National Institute of Mental Health, gangguan kecemasan terdapat pada kurang lebih 8% remaja yang berusia 13 sampai 18 tahun.

Dampak remaja yang memiliki gangguan ini yaitu kemampuan bersosialisasi dengan teman maupun guru kurang, proses belajarnya juga terganggu. Kasus paling parah, dapat membuat penderita tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun dan mengunci diri di kamar.

American College of Obstetricians and Gynecologists mengatakan bahwa gangguan kecemasan termasuk pada gangguan panik, OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), dan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Rasa cemas kerap timbul saat kejadian tertentu, seperti melakukan presentasi di depan kelas, akan memulai ujian, atau akan melakukan wawancara. Namun, untuk seseorang yang menderita gangguan kecemasan, perasaan cemas akan muncul setiap waktu. Sehingga mereka akan sulit rileks dan tenang.

Berikut gejala fisik yang kemungkinan dialami penderita gangguan kecemasan menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia:

  • Susah tidur
  • Gemetar disertai keringat berlebihan
  • Otot tegang
  • Jantung berdegup kencang
  • Sesak napas
  • Cepat lelah
  • Sakit perut
  • Sakit kepala
  • Mulut mudah kering
  • Kesemutan

Penyebab pasti gangguan kecemasan tidak dapat diketahui, namun diduga pemicunya adalah trauma dari kekerasan dalam rumah tangga, bullying oleh teman sebaya, pelecehan seksual, konsumsi minuman keras, dan menggunakan narkoba atau obat terlarang.

Gejala-gejala gangguan kecemasan akan menghambat kegiatan dan kualitas hidup remaja. Risikonya pada remaja diantaranya stress, hormon pengendali suasana hati serotonin dan noradrenalin tidak seimbang.

Masalah kesehatan mental berupa gangguan kecemasan ini sebenarnya dapat sembuh secara mandiri. Lewat cara menjalani pola hidup sehat, menghindari minuman keras dan obat-obat terlarang, dan olahraga relaksasi seperti yoga secara rutin. Sebelum pengobatan ke dokter atau psikolog, jika tidak ada perubahan signifikan.

3. Gangguan Perilaku Makan

Saat remaja, tubuh mengalami perubahan fisik yang berbeda-beda. Para remaja sering membandingkan tubuhnya dengan tubuh orang lain. Hal ini yang menyebabkan remaja mengalami gangguan makan seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan makan berlebihan (binge-eating disorder). Gangguan perilaku makan tersebut lebih banyak menyerang perempuan daripada laki-laki, karena wanita lebih perhatian pada bentuk tubuh.

Melansir Verywell Mind, ingin mendapatkan tubuh yang langsing sering terjadi pada remaja karena pemberitaan atau iklan di ruang publik yang memperlihatkan bahwa tubuh yang bagus adalah tubuh yang kecil dan kurus layaknya artis. 1-2% remaja dapat mengalami gangguan perilaku makan sejak umur 12 tahun

Resikonya yaitu merusak kesehatan dari dalam tubuh beserta masalah kesehatan mental yang lain seperti depresi, gangguan kecemasan, hingga menyalahgunakan obat-obat terlarang.

Penderita anoreksia akan selalu merasa dirinya gemuk sepanjang waktu. Sehingga, ia mengurangi porsi makan secara ekstrim, menghitung kalori yang masuk ke tubuh, dan olahraga berlebihan. Akibatnya, penderita dapat mengalami penipisan tulang, darah rendah, sampai merusak jantung dan otak.

Pada penderita bulimia, mereka senang bila ada orang yang memuji tubuhnya yang langsing. Lalu mereka akan makan seperti biasa bahkan berlebihan.

Kemudian mereka dengan sembunyi-sembunyi memuntahkan makanan, biasanya dengan menusukkan jari ke tenggorokan, menggunakan obat pencahar, dan olahraga berlebihan. Akibatnya yaitu tubuh mudah dehidrasi, elektrolit tidak seimbang, pencernaan terganggu, dan gigi rusak.

Seseorang yang mengidap binge eating disorder akan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak dan cepat, meskipun sudah kenyang, dan melakukannya dengan cara menyendiri. Penyebabnya adalah trauma emosional seperti stress, bullying, merasa bentuk badannya tidak ideal, hingga depresi. Risikonya adalah obesitas yang juga menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya lain.

Untuk semua gangguan perilaku makan, akan mengalami gangguan sistem reproduksi dan gangguan fisik. Apalagi untuk remaja yang masih dalam masa pertumbuhan.

Untuk semua gangguan perilaku makan, akan mengalami gangguan sistem reproduksi dan gangguan fisik. Apalagi untuk remaja yang masih dalam masa pertumbuhan.

Perlu adanya pendampingan khusus dan dukungan dari orang-orang terkasih bagi penderita gangguan perilaku makan.

4. Gangguan Mood Bipolar

Pada tahun 2016, WHO mencatat 35 juta orang menderita depresi, 21 juta orang menderita skizofrenia, dan 60 juta orang menderita bipolar. Setiap negara memiliki pasien bipolar sebanyak 1-3% dari jumlah populasi.

Oleh karena itu, di Indonesia sendiri pasien bipolar akan terus bertambah seiring pertambahan penduduk dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Bipolar sering disalah artikan sebagai gangguan berkepribadian ganda. Tetapi nyatanya, bipolar merupakan perubahan mood atau suasana hati secara ekstrim dan tiba-tiba. Gangguan bipolar sering dialami saat remaja dan jika tidak diobati saat dewasa gangguan mental ini dapat lebih parah.

Seseorang yang awalnya bahagia tertawa terbahak-bahak bisa langsung menjerit dan menangis tersedu-sedu. Remaja yang menderita bipolar akan mengalami lonjakan suasana hati yang disebut fase mania atau hipomia, kemudian turun secara cepat atau disebut fase depresi. Fase depresi pengidap gangguan bipolar biasanya lebih serius dan timbul secara periodic.

Hingga sekarang, gangguan mood bipolar belum ada obatnya secara pasti. Namun, masalah kesehatan mental ini dapat terdeteksi sedini mungkin di usia remaja, agar mendapatkan penyembuhan yang lebih optimal. Karena penderita gangguan mood bipolar dapat melakukan tindakan bunuh diri.

Sebagai perhatian, berikut tanda-tanda khusus gangguan bipolar menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia:

  • Perasaan sedang berada di tempat tertinggi, senang tanpa alasan jelas, dan gampang tersinggung saat mengobrol.
  • Berpikiran bahwa ia adalah orang spesial dan memiliki kekuatan khusus, selalu merasa ada orang yang ingin menyakitinya, menyangkal mengidap gangguan mental.
  • Berperilaku tidak bertanggung jawab dalam pergaulan, bicaranya cepat, tidak bisa santai dan duduk tenang saat mengobrol, kurang tidur, mencoba berbagai hal namun tidak ada yang bisa yang selesai.
  • Persepsi mendengar suara yang tidak terdengar orang lain, bisa berupa pujian bahwa ia orang hebat atau ejekan yang berusaha menyakitinya.

Segera hubungi psikolog atau psikiater untuk pengobatan yang lebih maksimal.

5. Gangguan Halusinasi Skizofrenia

Gangguan halusinasi atau Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kesehatan mental berat yang kebanyakan terdiagnosis mulai usia remaja.

Seseorang yang menderita skizofrenia dapat menjadi agresif atau menarik diri dari orang sekitarnya, bicara sendiri dan ngelantur. Mereka tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan. Penderita akan mengalami halusinasi, delusi, dan gangguan kesehatan mental lain.

Beberapa gejala skizofrenia juga terdapat pada gejala bipolar seperti mendengar bisikan yang tidak dapat orang lain dengar. Orang dengan skizofrenia tidak menyadari bahwa ia mengalami gangguan kesehatan mental dan menolak untuk melakukan pengobatan.

Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental yang dapat hinggap pada tubuh selama bertahun-tahun. Sehingga, memerlukan pengobatan dan penyembuhan yang intensif dalam pengawasan khusus.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merangkum ciri-ciri penderita skizofrenia sebagai berikut:

  • Fisik: merasa ada benda atau binatang yang berjalan di dalam tubuh.
  • Perasaan: gangguan depresi, hilang minat dan motivasi pada aktivitasnya sehari-hari, merasa takut terserang oleh sesuatu atau seseorang.
  • Pikiran: pikiran kacau, meracau, tidak berpikir jelas, sulit berkomunikasi, mengalami delusi atau waham yaitu otaknya percaya bahwa ada orang yang ingin membunuhnya, pikirannya seperti terkontrol oleh orang lain.
  • Perilaku: menjauh dari hal-hal yang membuatnya tertarik, berperilaku agresif, badan tidak terawat, menjawab pertanyaan dengan ngelantur
  • Persepsi: halusinasi pendengaran yaitu mendengar suara yang membicarakan didinya, halusinasi penglihatan yaitu melihat sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat.

Kesimpulan

Sebagai remaja, hendaknya memelihara kesehatan mental sedini dan sebaik mungkin agar tidak terjadi hal-hal yang memperparahnya di kemudian hari. Apabila menderita berbagai gejala seperti di atas, jangan ragu meminta bantuan dokter, psikolog, atau psikiater.

Jika belum siap, hubungi orang terdekat yang Anda percayai untuk berbagi perasaan. Atau jika menemui teman, sahabat, atau keluarga yang memiliki gejala gangguan kesehatan mental. Dampingi mereka dengan sabar dan pelan-pelan ajak ke orang-orang yang ahli.

Sebagai sekolah yang konsen dengan kesehatan mental. Prestasi Global memiliki guru-guru pendamping yang ahli untuk membantu para siswa melewati masa remaja dengan mental yang sehat. Mari peduli kesehatan mental.

Baca Selanjutnya: 4 Cara Menanamkan Rasa Tanggung Jawab Kepada Anak Remaja

Mengapa kesehatan mental remaja penting?

Kesehatan mental pada remaja dapat membentuk perilaku maupun tatanan hidup mereka di masa depan. Remaja memiliki banyak kekhawatiran dan stress yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar.

Apa faktor penentu lain yang mempengaruhi kesehatan mental remaja?

Keadaan keluarga yang tidak harmonis, pelecehan seksual, dan kekerasan teman sebaya merupakan faktor penentu lainnya yang mempengaruhi kesehatan mental remaja.

Macam-macam masalah kesehatan mental yang sering dialami remaja?

Depresi atau gangguan emosi, gangguan kecemasan, gangguan perilaku makan, gangguan mood bipolar, gangguan halusinasi skizofrenia.

(Visited 50 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us