Bagikan Artikel Ini:

Sebagai orang tua, tentu Anda akan merasa senang jika buah hati Anda tumbuh menjadi anak pemberani, bukan? Namun, sebenarnya berani itu apa sih?
Menurut Moore, seorang psikologis klinis di Princeton menyebutkan bahwa berani di sini bukan berarti tanpa rasa takut. Akan tetapi, anak dapat mentolerir rasa takut tersebut dan tidak membiarkan perasaan takut itu menahan mereka.
Setiap anak tentu memiliki ketakutannya masing-masing. Nah, ketakutan seperti apakah yang masih dianggap normal dan wajar?

Mengenal Berbagai Ketakutan Anak Berdasarkan Usianya

Cara-Mendidik-Anak-Menjadi-Pemberani - Sekolah Prestasi Global

Seperti yang dilansir dari Kid’s Health.org, rasa takut merupakan suatu bentuk emosi yang wajar dirasakan oleh anak-anak atau bahkan orang dewasa. Rasa takut ini dapat berfungsi untuk membantu anak lebih waspada dan berhati-hati.
Seiring dengan bertambahnya usia, rasa ketakutan itu mungkin akan berubah-ubah. Berikut adalah beberapa ketakutan yang biasa terjadi pada anak sesuai dengan usianya.

  • Saat bayi

Pada saat bayi, khususnya usia 8-9 bulan, umumnya mereka akan takut dengan orang asing. Pada usia ini, mereka mulai mampu mengenali wajah-wajah yang mereka lihat. Itulah sebabnya mereka terkadang merasa takut dan d=tidak nyaman saat bertemu dengan orang asing.
Anak-anak pada usia ini umumnya lebih nyaman dengan orang tuanya atau beberapa orang yang familiar saja.

  • Saat balita

Saat menginjak masa-masa balita, anak cenderung takut akan perpisahan. Mereka takut bila harus ditinggal oleh orang tua atau orang-orang terdekatnya.
Perlu Anda ketahui, pada rentang usia 10 bulan hingga 2 tahun mereka  cenderung sangat lengket dengan orang tuanya. Mereka akan menangis saat ditinggal orang tua meski hanya sebentar saja. Mereka juga tidak suka jika harus ditinggal di rumah nenek, tempat penitipan anak, atau bila harus tidur sendiri.

  • Saat usia lebih dari 4 tahun

Saat anak memasuki usia 4-6 tahun, mereka cenderung mulai mengembangkan pikiran mereka yang imajinatif. Mereka juga sudah mulai membayangkan sesuatu.
Namun sayang, pada usia ini mereka kurang dapat membedakan mana hal yang nyata dan tidak nyata. Akibatnya, mereka kerap mimpi buruk.
Tak hanya itu, imajinasi mereka juga kerap membuat mereka merasa takut. Terkadang, mereka akan merasa seperti tengah diintai oleh monster atau hantu yang bersembunyi di lorong atau lemari.

  • Saat usia lebih dari 7 tahun

Umumnya, anak dengan usia 7 tahun ke atas sudah mulai masuk sekolah. Pada usia ini, mereka cenderung takut pada hal-hal yang terlihat nyata dalam kehidupan. Seperti misalnya, pembunuh, pencuri, penculik, dan lain sebagainya.
Anak dengan usia ini juga cenderung takut jika ada orang yang menyakitinya atau mereka menyakiti orang-orang yang mereka sayang.
Mereka juga mungkin akan merasa tidak nyaman saat berada di lingkungan yang baru. Sebab, mereka merasa takut bertemu orang-orang yang baru dikenalnya.

  • Saat remaja dan dewasa

Ketika anak sudah beranjak remaja dan mulai memasuki masa pubertas, mereka cenderung akan merasa takut pada hal-hal yang lebih besar. Seperti misalnya, kemarahan guru, ujian, dan lain-lain.
Pada usia ini, rasa kompetitif juga sudah muncul secara alami dalam diri anak-anak. Akibatnya, mereka juga kerap merasa takut akan penolakan dan kekalahan. Selain itu, mereka juga takut jika dikucilkan.
Nah, itulah tadi beberapa ketakutan yang mungkin saja dirasakan oleh anak-anak sesuai dengan usianya. Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir karena rasa takut tersebut dapat diatasi dan anak juga dapat dilatih agar lebih berani.

 

Membantu Anak Mengatasi Rasa Takut dan Lebih Berani

Prestasi Global - 5 Cara Memahami Rasa Takut Anak - Sekolah Prestasi Global

Perlu Anda ketahui, mendidik anak agar menjadi anak yang berani tentu tidak bisa instan. Setiap anak juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Namun, Anda tetap dapat terus menstimulasinya dengan beberapa kebiasaan berikut.

     1. Latih anak untuk dapat mengakui perasaan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, anak yang berani bukan berarti dia tidak takut terhadap apapun. Maka dari itu, latihlah anak untuk dapat memvalidasi perasaannya. Jangan paksa anak untuk merasa baik-baik saja sementara ia sangat merasa ketakutan.
Jika anak memberikan reaksi berlebihan pada hal-hal yang sekiranya menurut Anda tidak terlalu membahayakan, biarkan saja. Moore mengungkapkan jika pada kondisi tersebut ayah dan bunda perlu memvalidasi perjuangan anak.
Dengan begitu, anak merasa dimengerti dan dihargai. Anak juga lebih berani untuk mengekspresikan dan mengakui perasaannya.

     2. Beri anak informasi

Moore juga mengatakan jika anak merasa ketakutan, tanyakan apa yang menjadi penyebabnya. Setelah itu, beri anak penjelasan sesuai usia mereka. Pasalnya, anak-anak kerap merasa takut sebab mereka salah paham pada hal-hal yang mereka tidak ketahui informasinya.
Jangan lupa juga beri anak penjelasan bahwa mereka tidak perlu merasa terlalu takut. Beri juga anak keyakinan bahwa ayah dan bunda akan selalu berada di sisi mereka sehingga mereka dapat merasa lebih aman.

     3. Beri anak contoh

Untuk mendidik anak menjadi anak yang pemberani tidak dapat dilakukan hanya dengan menasehatinya saja. Namun, Anda juga perlu memberikan contoh.
Ingat, anak adalah seorang peniru ulung. Ia akan mencontoh segala hal yang ia lihat dan ia dengar tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan.
Untuk itu, berikan anak contoh bagaimana merespon rasa takut itu dan dapat tetap tenang dalam menghadapi suatu hal. Selain itu, Moore juga mengungkapkan jika ayah dan bunda juga dapat memberikan keyakinan kepada anak bahwa mereka mampu mengatasi rasa takut tersebut.
Seorang psikolog anak bernama Novita Tandry juga menyebutkan jika proses pembentukan karakter anak menjadi peran dari orang tua, khususnya ibu. Dalam hal ini, seorang ibu menjadi contoh pertama bagi anak-anaknya. Ibarat kata, ibu merupakan role model bagi anak.

     4. Tumbuhkan kedekatan bersama anak

Jika anak merasa takut akan suatu hal, ajak anak untuk mengenal lebih dalam hal tersebut. Anda dapat mengenalkannya pada momen-momen tertentu saat Anda sedang bersama anak.
Namun sebelum itu, bangun kedekatan Anda bersama anak terlebih dahulu. Jika kedekatan Anda dan anak Anda sudah terbangun, anak akan jauh lebih percaya pada apa yang Anda ucapkan. Anda juga akan lebih mudah untuk membangun komunikasi dengan anak Anda.

     5. Lakukan secara perlahan

Yang dimaksud melakukan secara perlahan yaitu kenalkan pada anak hal-hal yang membuat ia merasa takut. Lakukan hal tersebut secara bertahap.
Sebagai contoh, saat anak merasa gugup dan takut untuk ikut karate, ajak anak untuk mengenal karate dulu lebih jauh.

     6. Apresiasi keberhasilan anak

Saat anak berhasil mengelola rasa takutnya, jangan lupa untuk memberikan apresiasi. Anda dapat memberi anak pujian dan ungkapan-ungkapan lain yang menumbuhkan semangat anak.
Tak hanya itu, Moore juga menyarankan untuk selalu mengingat momen keberhasilan anak. Saat anak mulai merasa takut lagi, Anda dapat mengingatkan anak pada momen tersebut.

     7. Mendidik anak dengan sabar, tanpa emosi

Ada kalanya, sebagai orang tua merasa capek, terlebih saat anak tidak menurut. Pada kondisi ini, tak jarang orang tua akan membentak anak, memarahi, atau bahkan mengancamnya.
Namun, tahukah Anda? Membentak, memarahi, dan mengancam anak ternyata menjadi salah satu penyebab anak tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Jika hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang, anak akan merasa rendah diri, tertekan, dan selalu takut untuk melakukan sesuatu.
Perlu Anda ingat, saat mendidik anak agar berani, sebaiknya Anda dapat menahan emosi Anda. Jangan biarkan anak semakin merasa takut dengan bentakan, hukuman, atau cacian yang Anda berikan.

     8. Jangan terlalu memanjakan anak

Saat anak merasa takut, meyakinkan anak bahwa ia akan aman bersama Anda itu tidak mengapa. Namun yang harus digarisbawahi, jangan sampai Anda terlalu memanjakan dan berusaha untuk menghindarkan anak dari rasa takut.
Mengapa hal itu dilarang? Sebab, hal tersebut justru akan membuat anak lebih menyukai hal-hal yang instan. Anak juga akan lebih bergantung pada orang tua dan kurang dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Akibatnya, anak cenderung menjadi sosok yang penakut saat dihadapi sebuah masalah.
Saat anak merasa takut, berikan anak dorongan dan pengertian. Yakinkan bahwa mereka mampu mengatasi dan menghilangkan rasa takut yang dialaminya.

     9. Ajak anak untuk berpetualang

Anak-anak umumnya memiliki rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi. Untuk itu, Anda dapat mengajaknya untuk melakukan hal-hal baru. Ajak juga anak untuk berpetualang dan menciptakan pengalaman-pengalaman baru.
Perlu Anda ketahui, mengajak anak untuk berpetualang dan melakukan sesuatu hal yang baru dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk melatih keberanian anak. Pasalnya, kegiatan tersebut tak hanya seru, tetapi juga menantang.
Semakin sering Anda mengajak anak berpetualang atau melakukan sesuatu yang baru, anak akan semakin terbiasa untuk mengendalikan rasa takutnya.

     10. Bangun rasa percaya diri anak

Untuk mendidik anak menjadi anak yang berani, Anda dapat memulai dengan membangun rasa percaya diri anak. Umumnya, anak yang berani memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Membangun rasa percaya diri anak tidak perlu hal-hal yang sulit. Anda dapat melakukannya dari hal-hal yang sederhana.
Bagaimana caranya? Cobalah untuk membiarkan anak untuk melakukan sesuatu sendirian. Jika ia berhasil, jangan lupa untuk memberikan pujian.
Semakin sering hal itu dilakukan, anak akan semakin merasa percaya diri. Anak juga akan merasa dipercaya oleh orang tuanya dan berambisi untuk selalu menyenangkan hati mereka.

     11. Dorong anak untuk bersosialisasi

Mendorong anak untuk bersosialisasi juga menjadi salah satu cara mendidik anak menjadi orang yang berani. Dengan bersosialisasi dan bertemu dengan orang-orang baru membuat anak menjadi lebih berani dan tidak terlalu bergantung dengan orang tua.
Saat anak merasa takut untuk mengawali, Anda dapat mencoba mengajak mereka untuk bertemu atau berkumpul dengan kerabat dan teman terdekat. Jika anak sudah mulai berani dan dapat berinteraksi dengan baik, ajak anak jalan-jalan dan bertemu dengan orang lain.
Jadi, rasa takut yang muncul pada anak itu wajar adanya. Umumnya, ketakutan mereka akan berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun Anda jangan khawatir. Sebab, Anda tetap dapat melatih anak untuk menjadi anak yang berani dengan beberapa cara di atas.

Itulah tadi beberapa penjelasan mengenai cara-cara mendidik anak agar menjadi anak yang berani. Perlu Anda ingat, lakukan hal-hal di atas secara bertahap dan terus menerus karena pada dasarnya tidak ada sesuatu yang instan.

Sekian dan tetap semangat kalian, para orang tua hebat!

Bagaimana cara bangun rasa percaya diri anak

Cobalah untuk membiarkan anak untuk melakukan sesuatu sendirian. Jika ia berhasil, jangan lupa untuk memberikan pujian. Semakin sering hal itu dilakukan, anak akan semakin merasa percaya diri. Anak juga akan merasa dipercaya oleh orang tuanya dan berambisi untuk selalu menyenangkan hati mereka.

3 Cara Mendidik Anak Menjadi Pemberani

1. Latih anak untuk dapat mengakui perasaan 2. Beri anak informasi 3. Beri anak contoh

Mengapa Jangan terlalu memanjakan anak

Sebab, hal tersebut justru akan membuat anak lebih menyukai hal-hal yang instan. Anak juga akan lebih bergantung pada orang tua dan kurang dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Akibatnya, anak cenderung menjadi sosok yang penakut saat dihadapi sebuah masalah.

(Visited 15 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us