Bagikan Artikel Ini:

Masa masa paling tepat untuk parenting anak adalah saat usia anak masih balita. Anak balita biasanya sudah mulai memiliki inisiatif dan mulai memahami perintah dari orang tua nya. Jika anak balita dibiarkan begitu saja tanpa diberi didikan yang layak, bisa bisa si kecil tumbuh menjadi anak yang manja. Dan malah makin susah untuk dididik. Oleh karena itu orang tua perlu memberikan didikan yang tepat agar si kecil tumbuh menjadi anak yang disiplin dan mau berbakti kepada orang tua nya. Mendidik anak kecil tidak bisa disamakan dengan mendidik anak yang sudah sekolah. Anak balita perlu diterapkan didikan khusus agar mereka bisa mengerti nantinya.  

7 Cara Berikut ini bisa Anda Terapkan Dalam Mendidik si Buah Hati 

 

1. Berikan Anak Tanggung Jawab Sejak Usia Dini

Menjelaskan Hal-hal Dengan Baik

Salah satu bentuk mendisiplinkan anak sejak usia dini adalah dengan memberikan tanggung jawab kepada anak. Anak balita sebenarnya sudah bisa diberikan tanggung jawab, tetapi tentu saja tanggung jawab tersebut sifatnya yang sederhana. Misalnya seperti meletakkan mainan pada tempatnya setelah digunakan. Tindakan tindakan kecil seperti ini akan sangat baik untuk melatih kedisiplinan anak. Memang pada awalnya sangat sulit untuk menerapkan tanggung jawab tersebut. Tetapi jika dilakukan secara terus menerus maka si anak akan mengerti dan melakukan tanggung jawabnya.

Agar anak mau melakukan tanggung jawabnya, orang tua perlu memberikan motivasi berupa pujian atau memberikan hadiah pada anak. Jika si kecil berhasil merapikan mainannya setelah dipakai, berikan pujian pada anak biar anak paham bahwa perbuatannya tersebut merupakan perbuatan benar. Atau sesekali berikan hadiah pada anak, sehingga dia semakin termotivasi untuk melakukan hal hal yang disenangi oleh orang tuanya. Berikan tanggung jawab yang sesuai dengan umur anak, agar sifat disiplin nya terbentuk dengan baik. Tetapi jika anak tidak berhasil melaksanakan tanggung jawabnya, pemberian peringatan atau hukuman juga bisa dilakukan. Tetapi harus dalam taraf yang wajar dan ringan.

 

2. Gunakan Kalimat Ajakan Bukan Kalimat Perintah

Jangan Menggunakan Kalimat Ancaman Kepada Anak Anda

Usia balita merupakan usia emas. Oleh karena itu sangat penting untuk memberikan yang terbaik untuk anak pada usia tersebut. Mendidik anak yang masih balita diperlukan kelembutan, karena anak kecil memiliki perasaan yang sensitif. Salah satu cara mendidik anak kecil adalah dengan memberikan tugas dan tanggung jawab kepada anak dalam bentuk tanggung jawab kecil. Misalnya meminta anak merapikan sendiri mainannya. Mulailah memberikan tanggung jawab kepada anak untuk mengurus hal hal yang berkaitan dengan dua anak, misalnya seperti mainan atau hal lainnya. Hal yang juga paling penting orang tua terapkan adalah dalam penggunaan kalimat yang diberikan pada anak.

Sebisa mungkin selalu gunakan kalimat ajakan kepada anak, bukan kalimat perintah. Karena mengajak anak merapikan mainan akan memberikan dampak positif bagi si anak daripada menyuruh anak merapikan mainan. Kalimat ajakan membuat anak lebih bahagia menjalankannya, daripada kalimat perintah. Kalimat perintah membuat anak merasa terintimidasi, dan hal ini memberi dampak negatif pada si anak. Oleh karena itu usahakan selalu menggunakan kalimat ajakan untuk membuat anak lebih disiplin. Dan hindari selalu penggunaan kalimat yang berkonotasi negatif.

 

3. Gunakan Konsistensi

Melarang anak untuk tidak memukul orang lain

Dalam mendidik anak kecil konsistensi juga sangat diperlukan. Karena konsistensi lah yang membuat anak bisa paham dan mengerti tentang didikan yang dimaksud. Para ahli menemukan saat usia anak berada pada usia 2 sampai 3 tahun, otak anak biasanya mulai mencoba memahami apa yang diinginkan dari orang tuanya. Saat orang tua melarang perbuatan yang dilakukan anak, otak anak balita tidak langsung memahami mengapa tindakannya dilarang. Oleh karena itu diperlukan konsistensi dalam mendidik agar anak memahami maksud larangan yang diberikan.

Misalnya saat anak memukul orang lain. Orang tua harus segera memperingatinya dan melarangnya memukul orang lain. Larangan tersebut tidak bisa langsung dipahami anak untuk pertama kalinya. Tetapi jika pada kesempatan lain, kejadian serupa dilakukan dan orang tua kembali memperingati dan melarangnya, anak akan paham bahwa tindakan yang dia perbuat salah di mata orang tuanya. Oleh karena itu dia tidak akan melakukan perbuatan itu lagi. Itu lah sebabnya mengapa konsistensi sangat penting diterapkan saat mendidik anak.

Jika pada satu kesempatan orang tua melarang anak memukul, dan di kesempatan lain orang tua membiarkan, maka bisa jadi anak merasa kebingungan. Hal ini bisa membuat anak tidak disiplin nantinya. Saat anak berbuat kesalahan usahakan gunakan teguran atau peringatan yang sifatnya bersahabat. Bukan memarahi. Hal ini akan baik bagi perkembangan emosi anak.

 

4. Berikan Hukuman Saat Berbuat Kesalahan 

 

Berikan Hukuman Saat Berbuat Kesalahan 

Photo by https://edukasi.kompas.com/read/2020/02/24/12000041/ternyata-pola-asuh-otoriter-masih-dibutuhkan-ini-syaratnya?page=all

Kesalahan paling fatal yang sering dilakukan orang tua adalah tidak tega menghukum anaknya yang masih kecil. Padahal rasa tidak tega tersebut bisa berakibat fatal nantinya. Bentuk kasih sayang itu bukan hanya diperlihatkan lewat memberikan apapun yang menjadi kebutuhan anak. Hukuman juga merupakan bentuk kasih sayang. Walaupun berat rasanya melihat si buah hati menangis, tetapi demi kebaikan, tindakan tersebut harus tetap dilakukan. Jika anda melihat si buah hati berbuat kesalahan jangan pernah segan untuk menghukumnya. Hukuman bisa membuat anak menjadi lebih patuh sejak kecil. Jika kesalahan tersebut dilakukan pertama kalinya, orang tua tidak perlu langsung menghukumnya. Cukup beri peringatan agar si kecil tidak melakukannya lagi. Tetapi walaupun sudah diberi peringatan si kecil tetap melakukan kesalahan nya, maka hukuman perlu diberikan pada si kecil.

Bentuk hukuman yang diberikan sebisa mungkin jangan hukuman fisik. Banyak hukuman lain yang bisa diberikan kepada si kecil untuk membuatnya jera. Misalnya mengurangi jatahnya bermain, atau tidak memberikan makanan kesukaannya. Hukuman ringan perlu diberikan kepada anak agar tidak mengulangi perbuatannya. Jika dengan hukuman yang diberikan anak tetap tidak berubah perlu diberikan hukuman yang lebih berat.  Hal yang paling penting dilakukan adalah usahakan anak memahami mengapa dia dihukum. Karena jika dia tidak tau alasan dia dihukum, bisa bisa anak jadi depresi dan tidak terkontrol.

 

5. Buat Lingkungan yang Efektif Untuk Perkembangan Anak

 

Tak dapat dipungkiri bahwa lingkungan memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan anak. Jika anda ingin membentuk disiplin pada diri anak, maka anda harus membuat lingkungan yang kondusif untuk mendukung disiplin anak. Usia balita merupakan usia dimana anak sangat menyukai hal hal yang mudah menarik perhatian. Misalnya seperti animasi, video game, atau hal hal lainnya. Agar anak tumbuh menjadi seorang yang disiplin usahakan lingkungan anak tidak dipenuhi oleh TV, video game, smartphone, atau permainan elektronik lainnya.

Buatlah lingkungan anak yang mendukung pertumbuhan proses kreatifnya. Seperti memberikan mainan yang mampu mengasah pola pikir anak, memberikan buku, dan mainan atraktif lainnya. Jika sejak balita si kecil lebih menyukai video game daripada permainan atraktif lainnya, maka akan sulit membentuk disiplin pada anak. Si kecil akan lebih menyukai sesuatu yang instan dan menarik secara visual. Oleh karena itu saat usia balita usahakan mengakrabkan anak dengan buku buku atau permainan yang sifatnya mengasah kecerdasan otak dan emosional anak. sesekali mungkin boleh diberikan anak kelonggaran menikmati televisi atau video game. Tetapi waktunya harus dibatasi.

 

6. Jangan Pernah Perlihatkan Emosi Marah Pada Anak

Jangan Pernah Perlihatkan Emosi Marah Pada Anak

Ketegasan sangat penting diperlihatkan pada anak. Karena jika orang tua tidak tegas, bisa bisa anak jadi lebih manja dan bertindak sesuka hati.  Hal yang perlu orang tua lakukan adalah tumbuhkan rasa segan dalam diri anak bukan rasa takut. Segan merupakan bentuk rasa hormat anak terhadap orang tua, tetapi rasa takut bukanlah bentuk rasa hormat. Rasa takut hanya menimbulkan efek negatif pada psikologi anak. Oleh karena itu saat anak berbuat kesalahan, gunakan ketegasan dalam mendidiknya bukan kemarahan. Seberapa berat pun kesalahan yang dibuat anak, jangan pernah sekali kali menunjukkan emosi marah di depan anak, terutama anak yang masih balita.

Penelitian menunjukkan bahwa sifat marah bukan berasal dari keturunan. Tetapi berasal dari trauma psikologis yang diterima akibat terlalu sering dimarahi. Anak balita yang sering dimarahi orang tua nya bisa tumbuh menjadi seorang anak yang tidak mampu mengontrol emosinya. Si anak akan mudah marah, dan emosinya tidak stabil. Tetapi anak yang sejak kecil diperlakukan dengan lembut akan tumbuh menjadi seorang yang penyabar dan penuh kasih sayang. Oleh karena itu lebih baik mendidik anak dengan ketegasan dari pada kemarahan.

 

7. Ajarkan Anak Meminta Maaf dan Jangan Ragu Meminta Maaf Pada Anak

Jangan Sungkan Untuk Minta Maaf pada Anak

Hal yang juga tak kalah penting diterapkan saat melatih disiplin anak adalah meminta maaf. Ajarkan kepada anak makna dari meminta maaf sehingga si kecil bisa tumbuh menjadi seorang yang lebih bijak. Meminta maaf merupakan perbuatan yang sangat mulia. Setelah anak menerima hukuman, ajarkan mereka meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat. Setelah anak meminta maaf langsung berikan kasih sayang pada anak. Misalnya seperti memeluk, atau mencium anak. Dengan demikian si kecil akan mengerti bahwa meminta maaf perlu dilakukan setelah membuat kesalahan.  Tetapi jangan juga terlalu sering memberikan maaf pada anak, karena bisa saja dia memanfaatkan rasa maaf tersebut. Si anak bisa beranggapan bahwa setelah minta maaf semuanya akan selesai.

Orang tua perlu melihat mana perbuatan yang bisa dimaafkan dengan mudah, dan mana yang tidak. Orang tua juga pasti pernah melakukan kesalahan pada anak. Oleh karena itu orang tua juga perlu meminta maaf pada anak jika berbuat kesalahan. Jangan pernah malu meminta maaf pada anak. Dengan melihat orang tuanya meminta maaf, si kecil akan memahami bahwa meminta maaf merupakan tindakan yang perlu dilakukan. Selain itu hal ini juga penting untuk membentuk anak jadi pribadi yang pemaaf.

Agar anak bisa tumbuh menjadi seorang yang disiplin dan patuh kepada orang tua, memberikan contoh dan teladan merupakan hal yang sangat penting. Jika ingin si buah hati disiplin maka orang tua juga harus disiplin. Jangan sampai anak dipaksa disiplin padahal orang tuanya sendiri tidak pernah disiplin. Nantinya anak malah tumbuh menjadi pemberontak. Oleh karena itu memberikan contoh yang baik merupakan cara mendidik anak paling efektif.

Bagaimana caranya anak mau melakukan tanggung jawabnya?

Yaitu dengan, orang tua perlu memberikan motivasi berupa pujian atau memberikan hadiah pada anak. Jika si kecil berhasil merapikan mainannya setelah dipakai, berikan pujian pada anak biar anak paham bahwa perbuatannya tersebut merupakan perbuatan benar. Atau sesekali berikan hadiah pada anak, sehingga dia semakin termotivasi untuk melakukan hal hal yang disenangi oleh orang tuanya. Berikan tanggung jawab yang sesuai dengan umur anak, agar sifat disiplin nya terbentuk dengan baik. Tetapi jika anak tidak berhasil melaksanakan tanggung jawabnya, pemberian peringatan atau hukuman juga bisa dilakukan. Tetapi harus dalam taraf yang wajar dan ringan.

Mengapa harus Kalimat Ajakan Bukan Kalimat Perintah?

Karena mengajak anak merapikan mainan akan memberikan dampak positif bagi si anak daripada menyuruh anak merapikan mainan. Kalimat ajakan membuat anak lebih bahagia menjalankannya, daripada kalimat perintah. Kalimat perintah membuat anak merasa terintimidasi, dan hal ini memberi dampak negatif pada si anak. Oleh karena itu usahakan selalu menggunakan kalimat ajakan untuk membuat anak lebih disiplin. Dan hindari selalu penggunaan kalimat yang berkonotasi negatif.

Seperti apa membuat Lingkungan yang Efektif Untuk Perkembangan Anak?

Jika anda ingin membentuk disiplin pada diri anak, maka anda harus membuat lingkungan yang kondusif untuk mendukung disiplin anak. Usia balita merupakan usia dimana anak sangat menyukai hal hal yang mudah menarik perhatian. Misalnya seperti animasi, video game, atau hal hal lainnya. Agar anak tumbuh menjadi seorang yang disiplin usahakan lingkungan anak tidak dipenuhi oleh TV, video game, smartphone, atau permainan elektronik lainnya. Buatlah lingkungan anak yang mendukung pertumbuhan proses kreatifnya. Seperti memberikan mainan yang mampu mengasah pola pikir anak, memberikan buku, dan mainan atraktif lainnya. Jika sejak balita si kecil lebih menyukai video game daripada permainan atraktif lainnya, maka akan sulit membentuk disiplin pada anak. Si kecil akan lebih menyukai sesuatu yang instan dan menarik secara visual. Oleh karena itu saat usia balita usahakan mengakrabkan anak dengan buku buku atau permainan yang sifatnya mengasah kecerdasan otak dan emosional anak. sesekali mungkin boleh diberikan anak kelonggaran menikmati televisi atau video game. Tetapi waktunya harus dibatasi.

(Visited 246 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us