Siapa sih yang tidak ingin anak-nya tumbuh pintar dan mampu berpikir kritis? Semua orang tua tentu ingin anak menjadi cerdas dan mampu berpikir dengan baik. Bentuk pikiran kritis adalah yang paling optimal untuk hal ini.

Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir secara kritis akan mampu menikmati lebih banyak hal. Mulai dari kemampuan untuk memecahkan masalah, memahami sudut pandang orang lain, menjadi lebih kreatif dan bahkan menjadi lebih percaya diri.

Pentingnya Berpikir Kritis Untuk Anak

Pentingnya Berpikir Kritis Untuk Anak

Jika pemikiran kritis tidak ditanam sejak dini, si anak akan tumbuh dengan banyak masalah. Hal seperti mudah tertipu hoax, masalah membaca situasi sosial dan bahkan kurang percaya diri dengan identitas diri. Pembiasaan untuk hal ini tentu tidak akan mudah, tapi harus diusahakan.

Saat ini Anda bisa menemukan banyak pengguna internet yang terkadang tidak aturan. Hal seperti menyebarkan hoax, menjadi hater, berdebat politik tidak jelas dan bahkan melakukan harassment online adalah tindakan orang yang tidak berpikir kritis.

Saat Anda bisa mempertanyakan banyak hal, Anda tentu tidak akan gegabah post berbagai hal yang bermasalah. Jika belajar berdasarkan informasi, fakta dan ilmu yang benar, perilaku seperti itu tentu bisa dihindari.

Jika ingin anak tumbuh dengan baik, mari bahas 5 cara melatih kemampuan berpikir kritis berikut ini:

1. Mulai Dari Pemberian Pengetahuan dan Pengalaman

Hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan memberi banyak pengetahuan dan pengalaman baru pada si kecil. Pengetahuan ini akan menjadi pondasi untuk rasa penasaran dan juga jawaban yang akan Anda berikan.

Saat bertanya tentang hujan misalnya, si anak harus tahu dulu tentang penguapan air dan kondensasi. Hal ini bisa dicontohkan dengan mudah seperti saat memasak air panas ataupun membuat air es. Tapi tanpa pengetahuan dasar seperti ini, anak tentu akan kesulitan mengambil kesimpulan dari mana air hujan berasal.

Pengalaman baru juga baik untuk memastikan anak mendapatkan bekal baik. Cara berpikir kritis tanpa bekal tentu tidak akan sempurna. Contoh saja saat anak tahu berbohong itu salah. Tapi saat mendapat pengalaman yang membuatnya untung karena berbohong, anak tidak bisa merefleksikan hal tersebut.

Memberikan pengalaman seperti hukuman dengan penjelasan mengapa hal tersebut tidak baik akan lebih membantu untuk mengajarkan soal kebohongan. Tapi hal ini tentu harus dialami anak sendiri. Karena hal itu, penjelasan seperti berbohong untuk kebaikan dan juga mengapa bohong banyak dihindari nantinya akan menjadi lebih jelas.

Semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang Anda berikan pada anak, mereka pasti bisa berpikir sendiri secara kritis dengan menggunakan referensi hal – hal tersebut. Jadi pastikan menjawab pertanyaan si anak, membebaskan anak mencoba kegiatan tertentu dan juga memberikan buku pelajaran agar pemikiran kritis ini berkembang baik.

2. Tanya Jawab dan Interaksi

Anak berpikir kritis tentu butuh stimulasi. Setelah Anda memberikan bekal yang cukup untuk si anak, sekarang waktunya membantu mereka mencoba berpikir. Hal seperti pertanyaan – pertanyaan dan juga interaksi yang membantu anak berpikir akan menjadi hal yang utama.

Contoh saja saat Anda menemani anak bermain di taman. Tanyakan hal – hal yang berhubungan sebagai selingan. Mengapa saat pagi hari taman terasa basah? Mengapa taman ditanami banyak tumbuhan? Mengapa udara di taman terasa segar? Pertanyaan – pertanyaan ini mungkin simple, tapi anak akan mencoba berpikir tentangnya.

Anak menjawab salah bukan berarti mereka tidak paham. Bisa saja mereka belum memiliki bekal pengetahuan yang baik tentang pertanyaan tersebut. Atau di sisi lain, mereka tahu tapi tidak bisa menhubungkannya.

Jika ada pertanyaan yang tidak tepat, bantu dengan memberi contoh dan membimbing mereka dengan pertanyaan – pertanyaan yang lebih spesifik. Contoh saja jika Anda tahu si anak sudah belajar tentang tanaman yang menghasilkan oksigen, Anda bisa bantu arahkan si anak agar sampai ke jawaban bahwa udara di taman terasa segar karena jumlah tanaman yang banyak di situ.

3. Kenalkan Pemikiran dengan Perspektif dan juga Sebab Akibat

Bentuk pemikiran perspektif dan sebab akibat adalah bentuk berpikir kritis. Perspektif adalah menempatkan diri pada posisi orang lain dalam menghadapi sesuatu. Sedangkan sebab akibat adalah landasan berpikir di mana sesuatu pasti disebabkan peristiwa lainnya.

Anda bisa kenalkan konsep ini dengan memberikan cerita – cerita yang menggunakan pemikiran tersebut. Contoh saja cerita anak yang berbohong tentang kedatangan serigala. Dalam cerita ini anak yang berbohong ini akhirnya dimakan serigala karena tidak ada orang lain yang percaya dan menyelamatkan dirinya. Konsep cerita ini mengajarkan sebab akibat. Karena si anak berbohong, orang lain menjadi tidak percaya.

Perspektif juga bisa digunakan untuk memberi contoh. Misal si anak marah dan memukul temannya. Jelaskan pada si anak untuk menempatkan diri pada temannya tersebut. Apakah dia ingin merasakan sakit dipukul? Tentu tidak, hal seperti ini akan membuat si anak berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan serupa kedepannya.

Penanaman model berpikir ini tentu perlahan dan tidak bisa tiba – tiba. Mulailah dulu dengan hal yang mudah seperti dongeng yang simple barulah meranah ke media lain yang lebih kompleks. Semakin anak terbiasa mendapatkan hal ini, mereka akan terbiasa berpikir dengan lebih dalam.

4. Pembiasaan dan Dorongan

Setelah melakukan tiga langkah di atas, sekarang waktunya motivasi. Untuk memastikan anak mau berpikir kritis, Anda tentu harus berikan dorongan. Dorongan ini penting untuk memastikan apa yang Anda ajarkan tetap digunakan dengan baik.

Contoh saja setiap si anak mampu menunjukan pikiran kritis ataupun menjawab pertanyaan yang Anda berikan, ada baiknya memberikan pujian atau hadiah. Tapi pastikan dorongan ini tidak sering. Pembiasaan untuk berpikir kritis tentu tidak akan selalu memberikan benefit khusus.

Jika si anak memadukan pikiran kritis dengan keuntungan tersendiri, mereka bisa saja enggan menggunakan hal ini jika tidak ada hadiah yang didapat. Jadi buat dorongan ini sebagai surprise ataupun hal yang spesial.

Cara berpikir kritis yang satu ini akan tergantung dari banyak faktor. Hal seperti umur anak, sikap anak dan bagaimana cara Anda mengajarkan model berpikir ini akan menjadi pengaruh yang penting. Memberikan dorongan pada anak SD kelas 1 tentu akan berbeda dengan anak SD kelas 6.

Anak kelas 1 SD masih dipenuhi rasa ingin tahu dan pendidikan yang di dapat terkesan baru bagi mereka. Tapi jika anak kelas 6 SD bisa lebih tertarik ke hal lain diluar pelajaran. Hal seperti hubungan sosial dengan teman ataupun trend baru di internet sudah bisa menjadi opsi yang lebih luas.

Karena hal ini motivasi dan pembiasaan yang Anda berikan harus disesuaikan. Untuk anak yang masih muda, pembiasaan dengan berdiskusi pelajaran di sekolah ataupun pengetahuan umum akan lebih baik. Tapi bagi yang sudah lebih besar, hal kompleks seperti situasi sosial, hubungan dengan teman, berita di TV dan lain – lain bisa jadi topic yang seru.

Dari diskusi ini, si anak akan berusaha menggali dan berpikir dengan lebih baik tentang topic tersebut. Contoh saja saat kasus wabah Corona. Anda bisa buat topic mengapa tidak boleh keluar rumah, mengapa si anak harus gunakan masker dan lain – lain sebagai landasan diskusi. Menggunakan hal seperti ini untuk interaksi bisa jadi pembiasaan yang baik bagi Anda dan anak.

Nah, saat si anak mampu menunjukan respon baik, reward bisa berupa pujian sampai hal yang lebih material seperti membelikan makanan favorit anak. Tentu reward ini Anda sendiri yang ukur apakah si anak pantas mendapatkannya.

5. Berikan Contoh yang Baik Sebagai Orang Tua

Cara yang terakhir ini adalah yang paling sulit. Kebanyakan orang tua ingin anak tumbuh dan berpikir kritis, tapi disisi lain mereka tidak bisa menjadi contoh yang baik. Bagaimana anak bisa berpikir baik saat orang tua dengan bebas mempercayai informasi hoax di internet?

Walaupun anak masih muda, mereka bisa membaca bagaimana Anda menyikapi sebuah peristiwa. Saat apa yang Anda lakukan ditiru, tentu Anda bisa merasakan sendiri bagaimana perkembangan anak. Orang tua yang suka bohong pada anaknya tentu akan menghasilkan anak yang tidak mudah percaya dan juga sering bohong.

Untuk memberikan contoh yang baik, Anda bisa mulai dengan berdiskusi dan menceritakan apa yang ada di pikiran Anda tentang topic tertentu. Saat Anda mengutarakan pikiran ini, berikan list hal – hal yang menjadi alasannya. Contoh Anda berkomentar bahwa coklat itu tidak enak dan lebih suka rasa vanilla. Bagi anak kecil yang suka makanan rasa cokelat, mereka tentu akan bereaksi soal ini.

Memberikan argumen mengapa dan melihat respon anak menanggapi argumen tersebut adalah sebuah proses positif. Si anak akan melihat bahwa alasan yang Anda berikan masuk akal, tapi mengapa berbeda dengan perspektif mereka. Saat Anda menunjukan pikiran yang lebih dalam dibandingkan si anak tentang suatu topic, mereka juga pasti akan ikut berpikir lebih.

Bagaimana Menurut Anda Soal Cara – Cara di Atas?

Bagaimana Menurut Anda Soal Cara – Cara di Atas?

Untuk membentuk anak yang kritis tentu tidak mudah. Tapi jika menggunakan panduan umum di atas, Anda paling tidak telah memberikan pondasi untuk si anak. Tidak semua anak memiliki motivasi untuk berpikir kritis. Terkadang jika ada pertanyaan atau hal yang mereka tidak tahu, kebanyakan anak akan memikirkannya sebentar tapi akan lupa setelahnya.

Tapi saat mereka tumbuh besar, motivasi ini akan berkembang untuk berbagai hal yang mereka temukan. Contoh saja saat berinteraksi sosial dengan anak lain. berpikir kritis menggunakan perspektif orang lain akan membantu mereka menjalin empati yang lebih baik. Walaupun mereka tidak sadar menggunakan cara berpikir yang Anda ajarkan, hal ini bisa saja berlangsung otomatis.

Sebagai orang tua, Anda mungkin tidak akan melihat perkembangan pikiran kritis ini secara konkrit. Anda bukanlah pembaca pikiran, jadi apa yang anak pikirkan bisa jadi mistery. Tapi percayalah jika menggunakan teknik 5 cara melatih anak kritis di atas pasti efektif.

Sekian bahasan mengenai hal ini. Mudah – mudahan bahasan di atas mampu bermanfaat bagi Anda sekalian. Terima kasih sudah membaca panduan melatih berpikir kritis di atas!

Baca Juga : Kenali Ciri-Ciri Anak yang di Dominan Otak Kiri

 

Sebutkan 5 Cara Melatih Anak Berpikir Kritis yang Tidak Hanya Aktif Bertanya!

5 Cara Melatih Anak Berpikir Kritis yang Tidak Hanya Aktif Bertanya, yiatu : Mulai Dari Pemberian Pengetahuan dan Pengalaman, Tanya Jawab dan Interaksi, Kenalkan Pemikiran dengan Perspektif dan juga Sebab Akibat, Pembiasaan dan Dorongan, Berikan Contoh yang Baik Sebagai Orang Tua

Apakah Pentingnya Berpikir Kritis Untuk Anak?

Jika pemikiran kritis tidak ditanam sejak dini, si anak akan tumbuh dengan banyak masalah. Hal seperti mudah tertipu hoax, masalah membaca situasi sosial dan bahkan kurang percaya diri dengan identitas diri. Pembiasaan untuk hal ini tentu tidak akan mudah, tapi harus diusahakan. Saat ini Anda bisa menemukan banyak pengguna internet yang terkadang tidak aturan. Hal seperti menyebarkan hoax, menjadi hater, berdebat politik tidak jelas dan bahkan melakukan harassment online adalah tindakan orang yang tidak berpikir kritis. Saat Anda bisa mempertanyakan banyak hal, Anda tentu tidak akan gegabah post berbagai hal yang bermasalah. Jika belajar berdasarkan informasi, fakta dan ilmu yang benar, perilaku seperti itu tentu bisa dihindari.

Bagaimana Menurut Anda Soal Cara – Cara membuat anak berfikir kritis?

Untuk membentuk anak yang kritis tentu tidak mudah. Tapi jika menggunakan panduan umum di atas, Anda paling tidak telah memberikan pondasi untuk si anak. Tidak semua anak memiliki motivasi untuk berpikir kritis. Terkadang jika ada pertanyaan atau hal yang mereka tidak tahu, kebanyakan anak akan memikirkannya sebentar tapi akan lupa setelahnya. Tapi saat mereka tumbuh besar, motivasi ini akan berkembang untuk berbagai hal yang mereka temukan. Contoh saja saat berinteraksi sosial dengan anak lain. berpikir kritis menggunakan perspektif orang lain akan membantu mereka menjalin empati yang lebih baik. Walaupun mereka tidak sadar menggunakan cara berpikir yang Anda ajarkan, hal ini bisa saja berlangsung otomatis. Sebagai orang tua, Anda mungkin tidak akan melihat perkembangan pikiran kritis ini secara konkrit. Anda bukanlah pembaca pikiran, jadi apa yang anak pikirkan bisa jadi mistery. Tapi percayalah jika menggunakan teknik 5 cara melatih anak kritis di atas pasti efektif