Kenakalan anak adalah problematika yang ada di setiap keluarga dengan derajat yang berbeda-beda. Terkadang anak melakukan kesalahan yang membuat kita kesal, atau melakukan hal yang melampaui batas dan merugikan dirinya sendiri serta orang lain.

Sebagai orang tua, tentunya kita ingin menjalankan cara mendidik anak yang baik dan mendisiplinkannya dengan cara yang tidak merusak. Selain agar ia tidak terus menerus mengulanginya, juga agar ia bisa tumbuh menjadi orang yang disiplin dan bertanggungjawab.

Tips untuk Orang Tua dalam Menghukum Anak Tanpa Kekerasan

tips orang tua dalam menghukum anak tanpa kekerasan - Sekolah Prestasi Global

Namun banyak orang tua yang belum memahami cara menghukum atau mendisiplinkan anak dengan baik. Sehingga, dampak yang dirasakan justru negatif atau bahkan merusak psikologi anak.

Lalu bagaimana caranya menghukum anak dengan cara yang baik dan sesuai dengan usia serta tahap perkembangannya? Yuk, kita simak bersama-sama.

1. Pahami Bahwa Setiap Orang Pasti Berbuat Kesalahan

Sebelum memberi hukuman pada anak, kita harus memahami terlebih dahulu bahwa hukuman yang kita berikan adalah untuk membuatnya menjadi lebih baik. Jadi, tujuan kita menghukum bukanlah untuk semata-mata memberikan rasa sakit atau melampiaskan kekesalan kita.

Setiap orang pasti berbuat kesalahan. Sebagai orang tua, kita memberikan hukuman karena anak kita adalah orang yang berbuat kesalahan, dan bukan karena anak kita adalah orang yang salah/selalu salah.

Selain itu, dengan pandangan bahwa kita memberi hukuman karena kesalahannya dan bukan karena orangnya, maka kita akan terhindar dari perilaku labelling yang akan membawa dampak negatif jangka panjang.

Contoh dari labelling adalah memberi julukan seperti “si bodoh” atau “si nakal”. Ucapan orang tua adalah do’a, dan kita harus pahami bahwa mungkin anak kita melakukan perbuatan bodoh, namun bukan berarti ia adalah individu yang “bodoh”.

Dengan labelling, anak pun bisa memunculkan image negatif tentang pribadinya yang akan ia bawa hingga dewasa. Ia akan memandang dirinya sebagai “si bodoh” atau label negatif lain yang disematkan kepadanya.

Senantiasa pandang bahwa setiap label yang kita sematkan pada anak sejatinya adalah do’a yang bisa terkabul.

Kemudian setiap muncul dorongan untuk melakukan labelling, ingat-ingatlah momen-momen indah ketika memilih nama yang baik untuk anak bersama pasangan di masa dahulu.

2. Hukuman Harus Memberikan Dampak Positif

Dengan memahami bahwa tujuan dari hukuman adalah untuk membuat orang yang terkena hukuman menjadi lebih baik dan harus membawa dampak positif, maka kita akan berpikir seribu kali sebelum memberi hukuman.

Kita akan berusaha memberi hukuman yang mendidik untuk anak dengan cara yang memberi maslahat terbaik dan menghilangkan dampak negatif yang mungkin timbul.

Jika kita membaca buku-buku mengenai parenting, banyak tersedia cara menghukum anak tanpa kekerasan yang juga efektif. Kekerasan dalam mendidik akan membawa dampak negatif yang berat.

Memukul, misalnya, meski akan membuat emosi kita terlampiaskan namun akan merusak mental anak yang bisa terbawa hingga dewasa. Alih-alih menjadi baik, hukuman fisik justru akan membawa dampak negatif yang lebih besar.

Maka senantiasa pertimbangkan aspek maslahat/manfaat dan dampak negatif yang mungkin timbul sebelum memberikan hukuman.

3. Jangan Berikan Hukuman Ketika Tengah Terbakar Emosi

Jika hukuman terbaik muncul dari pertimbangan yang mendalam, maka pertimbangan yang mendalam tidak mungkin muncul dari jiwa yang sedang terbakar oleh amarah.

Oleh karena itu jika kita merasakan emosi atau marah yang terasa meledak-ledak, hendaknya kita hindari mengambil tindakan apa pun dan segera berusaha meredakannya.

Tanamkan pada diri untuk selalu memberikan hukuman setelah amarah reda, dan bukan saat amarah sedang di puncaknya.

Segeralah duduk atau berbaring, serta ambil air wudhu untuk mendinginkan diri jika amarah masih meluap dan hendak mengambil alih diri kita. Selain itu, tahan lisan kita dari mengungkapkan umpatan-umpatan atau kata-kata yang buruk.

Dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (Hadits Riwayat Ahmad, dan Syuaib Al-Arnauth menilai derajatnya Hasan lighairih).

Dalam hadits lain dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatkan,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila kalian marah sedang ia dalam posisi berdiri, hendaknya ia duduk. Karena dengan itu, marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendaknya ia mengambil posisi tidur. (Hadits Riwayat Ahmad no. 21348, Abu Daud no. 4782 dan periwayatnya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Jika amarah belum juga reda, hendaknya kita berusaha bersabar dan mengharapkan pahala dari menahan amarah.

Diriwayatkan dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal ia mampu meluapkannya, maka ia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, hingga Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (Hadits Riwayat Abu Daud, Turmudzi, dan derajatnya dinilai hasan oleh Al-Albani).

Jika kita pernah terlanjur meluapkan amarah kita, jangan sungkan untuk meminta maaf kepada anak di momen yang tepat. Jika dirasa perlu, ayah dan bunda bisa memanfaatkan momen seperti lebaran atau liburan bersama keluarga.

Tentunya permintaan maaf ini dengan tetap menjaga kehormatan dari orang tua. Sehingga hubungan dapat diperbaiki tanpa harus kehilangan “muka” di hadapan anak.

4. Beri Hukuman Sesuai Umur dan Tingkat Perkembangan Anak

tips untuk orang tua dalam menghukum anak tanpa kekerasan - Sekolah Prestasi Global

Setelah menjaga diri dari meluapkan emosi secara negatif, sebelum memberikan hukuman hendaknya kita memilih hukuman yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak.

Anak di Bawah Lima Tahun

Bagi anak di bawah lima tahun, hukuman terbaik bagi anak adalah dengan mendiamkannya. Tentunya bukan dengan mendiamkan dalam waktu lama apalagi menelantarkannya.

Anak di usia ini belum mengerti perbedaan antara benar dan salah, sehingga kesalahan yang ia lakukan pun bukan dengan sengaja atas kesadaran dirinya.

Oleh karena itu, cara memperbaiki kesalahan anak di usia ini harus dilakukan dengan lembut.

Kita tidak boleh memarahi dengan keras apalagi memberi hukuman fisik karena bisa membuatnya trauma. Bayangkan saja jika kita diberi hukuman keras oleh orang lain dalam keadaan kita tidak tahu bahwa kita berbuat salah.

Tentunya, ini akan menggoncangkan jiwa kita dan menggoreskan rasa takut berkepanjangan.

Cara memberi hukuman “mendiamkan” ini adalah dengan melakukan time out. Yakni, dengan membawa anak ke suatu tempat atau sudut ruangan yang minim distraksi dan meninggalkannya selama 1-2 menit untuk berefleksi.

Setelah waktu time out berlalu, datangi dan peluk anak serta buat ia berjanji untuk tidak mengulangi perilakunya. Ini kita lakukan sembari berusaha memahamkan anak bahwa yang ia lakukan tersebut tidak baik untuk dilakukan.

Anak Berusia 3 Hingga 7 Tahun

Jika anak sudah melewati umur 3 tahun, selain hukuman time out anda pun bisa mulai berdiskusi dengannya mengenai hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh untuk ia lakukan serta sebabnya.

Perlahan-lahan, tanamkan alasan-alasan mengapa suatu perbuatan boleh dan tidak boleh ia lakukan. Ini akan menumbuhkan sense of justice di dalam dirinya, sehingga ia akan berusaha menghindari kesalahan meski sedang di luar orang tua.

Ketika melakukan kesalahan, ia akan mulai merasakan rasa menyesal karena sudah melakukan hal yang “tidak baik”.

Kemudian, berilah ia pujian dan reward jika ia menjauhi kesalahan dan melakukan kebaikan. Berikan ia hadiah-hadiah sederhana dan pujian dari lisan kita.

Diskusikan juga secara perlahan hukuman-hukuman jika ia melakukan kesalahan. Misalnya, “tidak boleh main dengan mainan favoritnya selama 2 jam”.

Semakin ia merasakan bahwa ia mendapat respon positif ketika melakukan kebaikan dan merasakan ada ancaman hukuman jika melakukan kesalahan yang ia ketahui alasannya, ia akan tumbuh dengan kontrol diri yang baik insyaAllah.

Anak Berusia 7 Hingga 12 Tahun

Anak di usia ini sudah menginjak pra-remaja. Ia pun sudah mulai banyak bersosialisasi dengan orang-orang dan kawan-kawan sebaya. Ia sudah mulai membentuk identitas dirinya sendiri.

Pada usia ini, hindarilah menghukumnya dengan kata-kata yang mengancam. Karena, dikhawatirkan ia akan kehilangan kepercayaan dirinya terhadap anda. Sangatlah penting untuk menjaga kepercayaannya pada ayah dan bunda, karena ia membutuhkan orang tua sebagai pijakan di tengah perjalanan sosialnya.

Berikan hukuman yang konsisten dan sesuai dengan tingkat kesalahan, serta jauhi hukuman-hukuman yang “bombastis”. Tunjukkan juga bahwa ayah dan bunda memiliki integritas dengan menerapkan hal yang sama dengan yang ayah dan bunda harapkan dari anak.

Misalnya jika ayah dan bunda mengharapkannya agar tidak terlalu sering bermain gawai, maka jangan tunjukkan hal yang sebaliknya di hadapannya.

Anak Berusia 13 Tahun ke Atas

Ketika menginjak remaja, banyak perubahan yang dialami oleh anak dan keluarga. Peer pressure atau tekanan sosial semakin tinggi, dan kehidupannya pun semakin banyak ia lalui di luar rumah.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menerapkan hukuman agar anak tidak “kabur” atau beralih ke kenakalan remaja yang lebih parah.

Senantiasa bangun hubungan yang sehat dan bersifat dua arah dengan anak, dan jangan sungkan untuk membangun hubungan yang baik pula dengan teman-temannya serta orang tua dari teman-temannya.

Jika ia melakukan kesalahan, maka hukuman yang bisa kita lakukan adalah dengan mencabut hak yang ia miliki. Karena, ia telah mengetahui konsekuensi dari kesalahan yang ia lakukan. Contoh hukumannya adalah tidak boleh menggunakan laptop atau perangkat elektronik selama sebulan.

Kemudian, hendaknya ayah dan bunda senantiasa tentukan batasan pergaulan dan aturan-aturan kepada anak remaja dengan cara yang baik dan tidak terlalu terkesan mengekang, serta negosiasikan jadwal hariannya.

Karena meski di rentang usia ini seorang remaja merasa dirinya lebih “mampu” dan bebas, namun sebenarnya mereka masih sangat membutuhkan bimbingan orang tua.

Maka, orang tua harus terus memberikan bimbingan namun dengan cara yang menghargai perkembangan individualitas dan karakter mereka.

Kesimpulan

Kenakalan anak adalah problema riil yang dihadapi setiap orang tua dan harus disikapi dengan baik dan tidak tergesa-gesa mengikuti emosi semata.

Dalam menghadapi anak yang berbuat kesalahan atau kenakalan, pertama kita harus harus membangun mindset yang sehat terlebih dahulu mengenai hukuman.

Kemudian, orang tua pun harus pandai menjaga emosi dan tidak memberikan hukuman saat amarah sedang memuncak.

Setelah itu, dalam memberikan hukuman pun harus kita sesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan serta derajat kesalahan yang anak lakukan. Jadi, semuanya kita berikan dan jalankan dengan proporsional.

Baca juga : 9 Tips Sederhana Menumbuhkan Rasa Empati Anak Sejak Dini

Apa yang dimaksud dengan perilaku labelling?

Perilaku labbeling adalah memberi julukan kepada anak seperti “si bodoh” atau “si nakal”. Dengan perilaku ini, anak bisa memunculkan image negatif tentang pribadinya yang akan ia bawa hingga dewasa.

Bagaimana orang tua seharusnya menghadapi kenakalan anak ?

Dalam menghadapi anak yang berbuat kesalahan atau kenakalan, orang tua harus pandai menjaga emosi dan tidak memberikan hukuman saat marah, Setelah itu, hukuman pun harus kita sesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan serta derajat kesalahan yang anak lakukan. Jadi, semuanya kita berikan dan jalankan dengan proporsional.

Bagaimana menyikapi kenakalan anak pra-remaja umur 7 sampai 12 tahun?

Hindarilah menghukum dengan kata-kata yang mengancam. Dikhawatirkan ia akan kehilangan kepercayaan terhadap orang tua. Berikan hukuman yang konsisten dan sesuai dengan tingkat kesalahan, dan jauhi hukuman-hukuman yang “bombastis”.