Bagikan Artikel Ini:

Seperti yang sudah banyak orang tahu, penyintas COVID-19 dengan gejala yang ringan wajib melakukan isolasi mandiri. Sebagai orang dewasa, hal tersebut tentunya lebih mudah Anda lakukan. Namun, bagaimana kalau penyintas COVID-19 adalah anak-anak? Berikut panduan isolasi mandiri yang tepat untuk anak-anak.

Hal yang Harus Anda Lakukan Sebelum Mulai Isolasi Mandiri

Begini Panduan Isolasi Mandiri ketika Anak Positif Covid-19 - Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Priscilla Du Preez on Unsplash

Pada umumnya, setiap anak terlahir dengan kemampuan memproduksi antibodi, yakni zat penguat daya tahan tubuh.

Kemampuan antibodi ini akan terus berkembang di bulan kedua dan ketiga, lantas menjadi sempurna sejak bulan keenam perkembangan. Seiring bertambahnya usia dan bertambahnya frekuensi imunisasi, daya tahan tubuh anak akan terus meningkat.

Akan tetapi, COVID-19 merupakan penyakit baru yang belum ada obatnya. Satu-satunya cara untuk memproteksi Anda dan keluarga dari penyakit ini adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh.

Sayangnya, tidak semua orang, termasuk anak-anak, memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Penyintas COVID-19 usia dini pun sudah bukan hal asing lagi. Bahkan, tidak sedikit pula bayi baru lahir yang terpapar virus ini.

Jika anak sudah terlanjur terpapar COVID-19 dengan gejala ringan, Anda bisa melakukan isolasi mandiri. Tapi, ada beberapa hal yang harus Anda lakukan terlebih dahulu.

Yang pertama, selalu amati gerak-gerik anak. Perhatikan apakah anak mengalami batuk, pilek atau demam. Gejala-gejala ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berawal dari gejala lain, seperti tenggorokan gatal atau bersin-bersin. Pastikan Anda selalu mendengarkan apabila anak berkeluh kesah terkait kondisi fisiknya.

Selanjutnya, untuk memastikan, Anda bisa mengajak anak melakukan swab test. Meski terkesan mudah, tes ini bisa membuat anak merasa trauma. Maka dari itu, Anda perlu memberi pengertian kepada anak terlebih dahulu.

Berilah pengertian bahwa proses swab merupakan bagian dari kesehatan. Selain itu yakinkan anak bahwa proses ini tidaklah sakit. Untuk menghindarkan anak dari trauma, Anda bisa menerapkan sistem reward, yakni memberi hadiah atau menjanjikan hal-hal menyenangkan sesudah anak menjalani swab test.

Panduan Isolasi Mandiri untuk Anak

Jika hasil swab test menunjukkan hasil positif, maka mau tidak mau, anak perlu menjalankan proses isolasi mandiri. Perlu Anda ingat, proses ini hanya bisa dijalankan oleh anak yang mengalami gejala ringan.

Sebelum mulai, berikan pengertian pada anak mengenai apa itu isolasi mandiri dan berapa lama durasinya. Yakinkan bahwa Anda tidak akan meninggalkan anak sendirian dan akan selalu mendampinginya. Setelah itu, Anda bisa lakukan cara isolasi mandiri anak sebagai berikut:

1. Mencari Tahu Gejala COVID-19 yang Anak Alami

Pada umumnya, penderita COVID-19 bergejala ringan hanya merasakan beberapa keluhan saja. Misalnya, hanya sakit tenggorokan atau hanya batuk-batuk saja. Maka dari itu, sebelum, memulai isolasi mandiri, ketahui dengan tepat keluhan apa yang anak rasakan di tubuhnya.

Seringkali, anak usia dini belum bisa menggambarkan apa yang Ia rasakan dengan tepat. Oleh karena itu, Anda perlu menanyakan secara spesifik. Misalnya, apa yang Ia rasakan di tenggorokan, di dada, atau apakah Ia merasa lemas.

2. Sediakan Ruangan Khusus untuk Isolasi Mandiri

Untuk mencegah persebaran virus, ada baiknya bila Anda menyediakan ruangan khusus untuk anak agar dapat melaksanakan isolasi mandiri.

Pilihlah ruangan yang memiliki ventilasi yang baik. Jika memungkinkan, tempatkan anak di ruangan yang memiliki jendela cukup besar sehingga cahaya alami bisa masuk ke dalam kamar.

3. Tentukan Alur Pergerakan Anak

Tidak hanya kamar tidur, penyintas COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri juga memerlukan kamar mandi yang terpisah. Maka dari itu, jika memungkinkan, tempatkan anak di kamar yang memiliki kamar mandi dalam.

Namun, jika tidak bisa, tempatkan anak di ruangan yang terdekat dari kamar mandi. Selain itu, infokan ke seluruh keluarga untuk mencuci tangan sehabis dari kamar mandi. Hal ini guna menghindari tersebarnya virus ke anggota keluarga lain melalui udara atau benda-benda yang digunakan bersamaan.

4. Tentukan Apakah Perlu Memanggil Asisten atau Tidak

Terkadang, ada situasi yang tidak memungkinkan bagi Anda untuk mengurus anak yang sedang isolasi mandiri. Misalnya, saat kedua orang tua juga sedang sakit, atau tidak tinggal serumah.

Jika demikian, Anda bisa mempertimbangkan untuk mempekerjakan asisten atau pengasuh yang bisa membantu isolasi mandiri anak saat Anda tidak bisa melakukannya. Selain mempekerjakan asisten, Anda juga bisa minta tolong sanak keluarga untuk membantu Anda dalam proses isolasi mandiri anak.

5. Perhatikan Kondisi Fisik dan Kesehatan Asisten

Memutuskan untuk memanggil asisten atau sanak keluarga untuk membantu Anda menjalankan proses isolasi mandiri anak? Jangan abaikan faktor kesehatan mereka juga, ya.

Perlu Anda ingat, bahwa COVID-19 rentan menyerang orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah atau memiliki penyakit bawaan. Untuk itu, pastikan asisten atau keluarga dalam keadaan sehat walafiat dan tidak memiliki penyakit komorbid.

6. Pastikan Peralatan Kesehatan dan Obat-obatan Sudah Lengkap

Untuk mempercepat pemulihan anak, Anda perlu melakukan pengobatan secara tekun. Untuk itu, Anda memerlukan peralatan kesehatan serta obat-obatan yang cukup. Berikut daftar hal yang harus Anda sediakan:

  • Oximeter, untuk mengukur kadar oksigen dalam tubuh anak.
  • Termometer, untuk mengukur suhu tubuh anak.
  • Masker dan desinfektan, untuk mensterilkan area isolasi mandiri dan seisi rumah.
  • Vitamin, guna meningkatkan daya tahan tubuh anak.
  • Obat-obatan, misalnya obat penurun panas, obat batuk, permen hisap pereda radang tenggorokan, dan lain-lain.
  • Kompres demam, untuk membantu turunkan panas.
  • Cairan kumur. Minta anak untuk berkumur secara rutin. Jika bisa, sediakan obat kumur yang mengandung povidone iodine atau CPC untuk membunuh virus COVID-19 di area mulut dan tenggorokan.

7. Rutin Observasi Perkembangan Anak

Selain menyediakan kebutuhan anak, Anda juga perlu melakukan observasi secara rutin.

Setiap hari, periksalah suhu dan kadar oksigen dalam tubuh anak. Selain itu, tetap tanyakan gejala yang Ia rasakan. Pastikan Anda mendengarnya dengan penuh perhatian.

8. Sediakan Hiburan untuk Anak

Kerap kali, yang menjadi kendala terbesar saat melakukan isolasi mandiri adalah rasa bosan. Apalagi jika anak Anda sedang berada di usia aktif dan memiliki teman bermain yang mengasyikkan di luar rumah. Rasa bosan ini bisa membuat anak enggan menjalankan isolasi mandiri.

Maka dari itu, Anda bisa menyediakan beragam jenis hiburan yang bisa Anda lakukan bersama anak, agar anak tidak bosan. Misalnya, dengan menyediakan gadget yang memuat seluruh film favoritnya, atau membelikan buku dan mainan yang bisa Ia mainkan.

Agar anak semakin semangat menjalani isolasi mandiri, Anda juga bisa menjanjikan hal-hal yang Ia suka setelah periode isolasi berakhir. Misalnya, mengajak anak jalan-jalan atau membuatkan makanan favoritnya.

9. Ingatkan Anak untuk Berjemur dan Berolahraga

Tahukah Anda, bahwa sinar matahari pagi memiliki peran penting dalam pembentukan daya tahan tubuh? Sinar matahari mampu merangsang pembentukan vitamin D dalam tubuh. Selain menyehatkan tubuh, vitamin D juga berperan penting dalam pembentukan antibodi.

Jadi, berjemur di bawah matahari pagi bisa membantu anak memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Meski begitu, perlu Anda ingat bahwa sinar matahari yang menyehatkan hanya ada sebelum jam 9 pagi.

Begitu pula dengan olahraga. Aktivitas fisik yang cukup membuat tubuh anak lebih kuat terhadap serangan segala macam penyakit. Maka dari itu, meski sedang isolasi mandiri, jangan lupa tetap ajak anak berolahraga ringan, misalnya dengan lari-lari kecil di teras rumah.

10. Jalankan Protokol Kesehatan Secara Disiplin

Protokol kesehatan wajib Anda lakukan untuk menghindarkan diri dari virus COVID-19, terlebih saat ada anggota keluarga yang mengidap penyakit tersebut.

Pastikan Anda selalu menggunakan masker dan mencuci tangan setiap kali hendak membantu keperluan si kecil yang sedang isolasi mandiri. Selain itu, rajin melakukan desinfeksi pada perabotan rumah juga bisa membantu memerangi virus COVID-19.

Namun, jangan lupakan hal terpenting, yakni konsumsi makanan bergizi dan olahraga secukupnya agar daya tahan tubuh Anda terlindungi.

Baca juga: Waspada 7 Tanda Anak Alergi Telur, Ini Cara Mengatasinya

Bagaimana Prosedur Isolasi Mandiri jika Anak Masih Bayi?

Begini Panduan Isolasi Mandiri ketika Anak Positif Covid-19 - Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Josh Applegate on Unsplash

10 cara di atas merupakan cara yang umum dilakukan saat proses isolasi mandiri. Umumnya, proses ini akan berjalan dengan efektif apabila dilakukan oleh anak yang sudah bisa Anda ajak berinteraksi.

Namun, bagaimana bila anak yang perlu isolasi mandiri masih bayi?

Kasus demikian tidak jarang terjadi. Bila kondisi memungkinkan, cara yang efektif adalah membiarkan Ibu menjalankan isolasi mandiri bersama anak. Hal ini bertujuan agar kondisi anak tetap terpantau serta anak merasa tentram dan aman.

Apa saja yang harus Anda lakukan? Pada dasarnya, Anda perlu melakukan hal yang sudah dijelaskan di pembahasan sebelumnya. Namun, ada beberapa hal lain yang perlu Anda perhatikan. Berikut penjelasannya.

  1. Jika memungkinkan, lakukan isolasi mandiri di ruangan yang memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik.
  2. Jika Ibu ikut menjalani isolasi mandiri bersama bayi, pastikan ruangan isolasi cukup lebar, guna memberi jarak antara kasur Ibu dan bayi. Beri jarak sekitar 2 meter.
  3. Rutin membersihkan tempat tidur Ibu dan bayi. Bila Anda menggunakan desinfektan, pastikan desinfektan tersebut aman untuk bayi.
  4. Sediakan tempat pembuangan sampah yang terpisah. Bila perlu, berikan label khusus untuk sampah-sampah yang berasal dari ruangan isolasi mandiri.
  5. Jika Ibu masih menyusui, lakukan swab test terlebih dahulu sebelum menjalankan isolasi.
  6. Jika Ibu juga terpapar COVID-19, konsultasikan terlebih dulu kepada dokter apakah Ibu masih diperbolehkan menyusui atau tidak. Besar kemungkinan Ibu masih boleh menyusui, namun ASI harus melalui proses pasteurisasi terlebih dahulu.
  7. Jika Ibu tidak mendampingi proses isolasi mandiri bayi, Ibu bisa memompa ASI untuk diberikan pada bayi. Namun, jika Ibu mendampingi isolasi mandiri, Ibu masih bisa menyusui dengan menjalankan protokol kesehatan, yakni dengan menggunakan masker medis dan rajin mencuci tangan.

Berapa Lama Durasi Isolasi Mandiri?

Pada umumnya, isolasi mandiri bisa Anda selesaikan dalam 10-14 hari. Dalam rentang waktu tersebut, Anda perlu memperhatikan tindak tanduk anak serta mendengarkan keluhan yang anak sampaikan, misalnya frekuensi minum ASI atau suara yang melemah.

Jika Anda mengamati adanya perburukan gejala pada anak, seperti demam yang tidak kunjung turun atau bahkan kesulitan bernapas, segera bawa anak ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kesimpulan

Isolasi mandiri merupakan upaya memperjuangkan kesembuhan untuk kembali sehat secara jasmani. Namun, perjuangan menjaga kesehatan juga harus Anda upayakan dengan menjalankan gaya hidup yang sehat dan menjaga daya tahan tubuh.

Kami di Prestasi Global senantiasa menanamkan pemahaman bahwa menjaga kesehatan merupakan salah satu bentuk ibadah. Untuk itu, kami menerapkan protokol kesehatan yang ketat serta menyediakan berbagai fasilitas agar siswa mampu mengolah tubuh dan menjaga kebugaran.

Bersama Prestasi Global, mari bentuk generasi muda yang cerdas juga sehat.

1. Apa yang harus dilakukan jika anak positif COVID- 19?

Jika anak terbukti positif COVID- 19 ringan maka dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri.

2. Bagaimana cara melakukan isolasi mandiri untuk anak?

Cara melakukan isolasi mandiri terhadap anak bisa dengan pertama mencari tahu gejala COVID- 19 yang anak alami untuk bisa keluhan apa yang anak rasakan di tubuhnya, Sediakan ruangan khusus untuk isolasi mandiri, tentukan alur pergerakan anak untuk meminimalisir penyebaran virus ke anggota keluarga lain, tentukan apakah perlu memanggil asisten atau tidak, jika iya maka perhatikan kondisi fisik dan kesehatan asisten, pastikan peralatan kesehatan dan obat-obatan sudah lengkap, rutin mengobservasi perkembangan anak, sediakan hiburan untuk anak untuk menghilangkan rasa bosan, ingatkan anak untuk berjemur dan berolahraga, dan terakhir jalankan protokol kesehatan dengan disiplin.

3. Berapa lama durasi isolasi mandiri?

Pada umumnya, isolasi mandiri bisa Anda selesaikan dalam 10-14 hari. Jika Anda mengamati adanya perburukan gejala pada anak, seperti demam yang tidak kunjung turun atau bahkan kesulitan bernapas, segera bawa anak ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

(Visited 59 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us