Bagikan Artikel Ini:

Setiap orang tua pasti menginginkan hadirnya seorang anak yang sehat dan sempurna. Namun, kenyataannya tidak semua harapan terkabul karena ada di antara mereka yang terlahir ke dunia sebagai anak berkebutuhan khusus.

Namun, seperti apa pun keadaannya, manusia tercipta unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Nah bagi orang tua, mendeteksi ciri-ciri anak berkebutuhan khusus penting dilakukan sejak dini. Sebab, anak-anak istimewa ini memang butuh treatment dan perhatian khusus.

Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Sebagai orang tua, tidak ada yang menghendaki mendapat tanggung jawab merawat anak berkeperluan spesial. Namun, mereka juga berhak untuk tumbuh, berkembang, juga memperoleh kasih sayang yang sama dengan anak normal.

Membahas tentang ABK, apa itu ABK dan kenapa orang awam kerap menyamakannya dengan autisme, mari kita bahas lebih lanjut di sini.

Autis bukanlah definisi tepat dari ABK melainkan bagian dari ABK.

Lalu, ABK itu bagaimana?

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memerlukan penanganan atau perawatan istimewa dibandingkan anak normal, karena adanya gangguan dan cacat yang anak alami.

Istilah disabilitas juga merujuk pada anak berkeperluan spesial, yaitu anak yang kemampuan fisik dan mentalnya terbatas.

Pengertian lainnya berkenaan dengan pertumbuhan dan perkembangannya yang abnormal. Di sisi lain, jika melihat dari pemahamannya terhadap konteks, mereka terbagi menjadi beberapa keterbatasan berdasarkan biologis, psikologis, dan sosio-kultural.

Jadi, pengertian anak berkebutuhan khusus adalah anak dalam kondisi disabilitas atau karakteristik fisik, mental, kecerdasan, sosial, dan temperamental yang berbeda, dan kekurangan tersebut mengganggu perkembangan dan pertumbuhannya.

Alhasil, pertumbuhan dan perkembangannya cukup berbeda dengan anak normal. Perbedaannya pun terlihat bisa sangat signifikan.

Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus

Penyebab anak mempunyai keperluan khusus dibagi menjadi tiga berdasarkan waktu kejadiannya.

1. Prenatal

Timbulnya disabilitas terjadi sewaktu masih dalam kandungan atau sebelum lahir.

  1. Beberapa hal yang bisa menjadi penyebabnya adalah
  2. faktor internal: genetik atau keturunan
  3. faktor eksternal: kandungan terbentur dan terjadi pendarahan
  4. usia ibu hamil
  5. sakit: infeksi kehamilan, penyakit menahun (contoh TBC)
  6. dan lain-lain

2. Perinatal atau Natal

Waktu terjadinya pada sesaat sebelum lahir, saat kelahiran, atau sesaat setelah lahir. Beberapa hal yang bisa menyebabkan kecacatan pada bayi, yaitu

  1. proses kelahiran lama,
  2. berat badan lahir rendah,
  3. kelahiran menggunakan alat bantu,
  4. pendarahan,
  5. kelahiran sungsang, dan
  6. tulang pinggul atau pelvik ibu tidak proporsional.

3. Pascanatal

Terjadinya setelah anak lahir dan dalam kurun waktu kurang lebih 18 tahun atau sebelum masa perkembangan usai. Beberapa hal yang menyebabkan ketidaknormalan anak, yaitu

  1. kecelakaan,
  2. keracunan,
  3. penyakit infeksi bakteri (TBC, radang telinga, dan lain-lain), dan
  4. kekurangan gizi.

Macam-macam Anak Berkebutuhan Khusus

Mengenal Tanda-tanda Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Sejak Dini - sekolah prestasi global

Photo by Юлія Дубина on Unsplash

Berdasarkan IDEA atau Individuals with Disabilities Education Act Amendments, anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi tiga.

1. Anak dengan Gangguan Fisik

Keterbatasan ini terlihat jelas melalui kekurangan secara fisik. Contohnya

  1. Tunanetra: gangguan penglihatan
  2. Tunarungu: gangguan pendengaran
  3. Tunadaksa: gangguan pada alat gerak

2. Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku

Contoh:

  1. Tunalaras atau gangguan adaptasi. Jadi, anak kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan berlaku kurang tepat dengan norma yang ada.
  2. Anak dengan gangguan komunikasi, contohnya tunawicara. Tunawicara bisa berupa kelainan pada suara, pelafalan atau artikulasi, dan kelancaran bahasa. Alhasil terjadi penyimpangan bahasa dari segi bentuk, isi, juga fungsinya.
  3. Hiperaktif atau gangguan tingkah laku yang abnormal karena disfungsi neurologis dengan gejala utama lemahnya pengendalian terhadap gerakan dan sulit berkonsentrasi.

3. Anak dengan Gangguan Intelektual

Ada banyak contoh anak dengan gangguan intelektual, yaitu

  1. Tunagrahita, yakni anak yang mengalami kendala dan keterbelakangan perkembangan intelektual secara nyata, perkembangannya jauh di bawah level umum sehingga kesulitan untuk merampungkan tugas akademik, berkomunikasi, dan sosialisasi. Nilai IQ-nya rendah.
  2. Anak lamban belajar atau slow learner, yaitu anak dengan potensi intelektual di bawah level umum tetapi belum masuk kategori tunagrahita. Umumnya, nilai IG anak seperti ini berada pada kisaran 60-90.
  3. Anak susah belajar khusus adalah anak yang mempunyai kendala dalam merampungkan tugas akademik khusus, terkhusus kemampuan membaca, menulis, dan menghitung atau matematika.
  4. Autisme, yaitu anak yang mengalami gangguan pada saraf pusatnya sehingga terganggu keseluruhannya, baik perilaku, interaksi sosial, maupun komunikasi.
  5. Anak berbakat. Sesuai dengan namanya, anak ini memiliki bakat, kemampuan, dan kecerdasan luar biasa. Anak kategori ini membutuhkan pelayanan pendidikan khusus demi bisa merealisasikan potensinya secara nyata dalam kehidupan.
  6. Yaitu anak yang sejak lahir telah mempunyai kelebihan spesial daripada anak umumnya.

Agar anak ABK dapat berkembang secara optimal, anak membutuhkan orang tua yang penuh kasih sayang dan sanggup mendampinginya dalam setiap tumbuh kembangnya.

Deteksi Dini Anak ABK Melalui Ciri-ciri Anak Berkebutuhan Khusus

Mengenal Tanda-tanda Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Sejak Dini - sekolah prestasi global

Photo by Jeremiah Lawrence on Unsplash

Gangguan seperti tunanetra, tunarungu, dan yang berkaitan dengan fisik memang lebih mudah terdeteksi.

Namun, jika sudah menyangkut ketidakmampuan intelektual dan emosional tentu membutuhkan perhatian saksama untuk mengidentifikasinya.

Memang setiap anak mempunyai laju perkembangan yang berbeda, tetapi ada faktor penting yang perlu Anda cermati sebagai deteksi dini anak ABK.

Nah, berikut adalah indikator dini untuk mengetahui anak memiliki kebutuhan khusus.

1. Sulit Memperhatikan Detail

Anak susah berkonsentrasi, gagal ketika memperhatikan hal yang rinci dan detail, tidak mendengarkan ketika ada yang mengajaknya berbicara, juga kesulitan menjaga fokus pada saat beraktivitas.

2. Keterampilan dalam Berorganisasi

Apabila anak mengalami kesusahan merampungkan tugas atau mengikuti perintah, ada kemungkinan dia susah berorganisasi.

3. Mengabaikan Latihan

Anak teledor dalam tugas atau latihannya yang memerlukan perhatian dan konsentrasi. Di sisi lain, anak menjadi pelupa, tampak ceroboh, dan mudah berpindah perhatian, Fokusnya cepat berubah.

4. Terlalu Banyak Berbicara

Ketika dalam situasi permainan yang menuntut ketenangan, anak akan kesulitan untuk bersikap tenang, dia cenderung banyak berbicara dan menunjukkan kegelisahan.

5. Mengganggu Perbincangan

Umumnya, anak ABK sedikit kesusahan menunggu gilirannya berbicara. Dia cenderung banyak berbicara dan terus-menerus berbicara tanpa peduli orang lain yang juga ingin berbicara. Atau, dia kerap memotong perbincangan orang lain tanpa sadar situasi.

6. Ekspresi yang Berbeda

Disgrafia bisa terdeteksi melalui perbedaan ekspresi lisan dan tertulis anak. Disgrafia merupakan kondisi di mana anak mengalami kesusahan untuk menuliskan kata dan kalimat dengan benar, tepat, dan jelas.

Kemudian, anak dengan gangguan khusus seperti autisme, down syndrome dan ADHD lebih condong beraut wajah datar dan tanpa memiliki motivasi atau keinginan. Bahkan mereka lebih sering cuek terhadap sekitar.

7. Kesulitan Berhitung

Anak dengan gangguan susah matematika akan mengenali pola sebagai hal yang rumit, susah belajar berhitung, sulit mengenali angka, cepat lupa ketika berhitung, dan kesulitan memperkirakan waktu.

8. Sulit Memproses Konsep Visual-Spasial

Kesusahan di sini masih berkaitan dengan data, seperti diagram, grafik, atau hal representatif berwujud gambar matematika lain.

9. Tingkah Lakunya Suka Menyendiri

Anak yang mempunyai kebutuhan berbeda akan lebih senang menyendiri. Dia kurang suka bersosialisasi, bahkan dengan orang tuanya pun interaksi terjadi sangat terbatas.

Di sisi lain, anak juga lebih asyik dengan dunianya sendiri.

10. Kontak Mata Tidak Fokus

Umumnya anak dengan kebutuhan spesial mempunyai kontak mata yang tidak fokus.

Jadi, ketika Anda memandang matanya, dia akan memalingkan wajah karena anak berkebutuhan spesial tidak nyaman dengan kontak mata terlalu lama.

11. Emosional

Sementara dilihat dari psikologis emosionalnya, anak berkebutuhan spesial memiliki temperamental yang berubah-ubah, mudah marah atau emosi.

Bukan hanya itu, suasana hatinya juga mudah merasa sepi, depresi, juga merasa lain dari temannya.

12. Sulit Berkomunikasi

Selanjutnya, mereka juga sulit melakukan komunikasi. Bisa karena kelainan yang terjadi pada fisiknya juga bisa karena anak susah mengutarakan isi hatinya.

Umumnya, penyebab anak sulit berkomunikasi pada ABK adalah karena terlambatnya tumbuh kembangnya.

Sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Anak dengan kebutuhan spesial juga memiliki hak yang sama dengan anak normal lain untuk mendapat pendidikan.

Namun, pendidikannya menyesuaikan dengan penyimpangan, keabnormalan, dan atau ketunaannya.

Di Indonesia, tersedia dua jenis sistem pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, yaitu pendidikan inklusif dan homeschooling.

1. Pendidikan Inklusif

Pendidikan inklusif adalah suatu mekanisme penyediaan dan penyelenggaraan pendidikan yang memberikan peluang kepada siswa luar biasa atau anak berbakat untuk ikut belajar bersama siswa lain di bidang pendidikan.

Sistem pendidikan ini memungkinkan anak disabilitas bersekolah di sekolah reguler.

Pendidikan inklusif memiliki kurikulum yang perancangannya sesuai kebutuhan sehingga tercapai manfaat dari adanya sistem ini, yaitu

  1. semua anak yang memiliki kelainan dapat bersekolah di sekolah umum dengan akses juga lingkungan sekolah yang kondusif,
  2. guru bisa menambah pengalaman dalam pengelolaan kelas,
  3. peserta didik pada umumnya bisa menghargai perbedaan, dan
  4. orang tua mempunyai keyakinan bahwa anak mampu tumbuh bersama anak normal lain.

Di sisi lain, ada pula pendidikan khusus yang memang spesial adanya untuk memberikan pendidikan pada anak-anak berkebutuhan spesial.

Contoh sekolah luar biasa.

2. Homeschooling

Selain itu, ada pula pendidikan berbasis rumah atau homeschooling untuk anak taknormal.

Definisi homeschooling adalah keluarga bertanggung jawab penuh atas pendidikan sang anak dengan memanfaatkan rumahnya sendiri sebagai basis pendidikan.

Homeschooling bukan semata mengukung anak untuk belajar di rumah, kemudian mengundang guru untuk mengajari dan belajar di rumah. Akan tetapi homeschooling memberikan potensi pada keluarga untuk memberikan kustomisasi pendidikan untuk anak.

Di sisi lain, homeschooling bukan menjadikan orang tua menjadi guru utama anak. Namun, orang tua berperan menjadi mentor sekaligus fasilitator anak dalam proses pembelajaran

Kurikulum pendidikan berbasis rumah tetap mengacu pada kurikulum pendidikan nasional. Meski begitu, ada pula kurikulum pendidikan lain yang bisa keluarga ambil untuk anak.

Model homeschooling ada dua, yaitu sekolah rumah tunggal dan sekolah rumah majemuk.

Penutup

Dari semua hal di atas, kunci dari identifikasi dini dan prognosis anak dengan kebutuhan khusus adalah intervensi dini.

Anak yang sejak dini sudah mendapat penanganan tepat atas kekurangannya dapat lebih optimal mengeksplorasi kemampuan, minat, bakat, dan potensi dalam dirinya sehingga pada saat masa depan bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain secara terus menerus.

Makin cepat orang tua melakukan identifikasi sejak dini, menerima, kemudian mencari pertolongan maka makin baik hasilnya untuk anak yang mengalami kelainan atau kebutuhan khusus.

Di sisi lain, deteksi dini anak ABK yang sudah mendapat penanganan sejak awal bisa menghasilkan anak berkebutuhan khusus yang bakat dan potensinya tereksplorasi dengan baik. Alhasil, hal ini bermanfaat positif untuk masa depannya.

Baca Juga : Orang Tua Harus Tahu 8 Dampak negatif Media Sosial bagi Anak

Apa ABK itu dan bagaimana ?

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memerlukan penanganan atau perawatan istimewa dibandingkan anak normal, karena adanya gangguan dan cacat yang anak alami.

Bagaimana Penyebab anak mempunyai keperluan khusus?

Penyebab anak mempunyai keperluan khusus dibagi menjadi tiga berdasarkan waktu kejadiannya. 1. Prenatal 2. Perinatal atau Natal 3. Pascanatal

Apa Sekolah untuk anak berkebutuhan khusus?

Anak dengan kebutuhan spesial juga memiliki hak yang sama dengan anak normal lain untuk mendapat pendidikan. Namun, pendidikannya menyesuaikan dengan penyimpangan, keabnormalan, dan atau ketunaannya. Di Indonesia, tersedia dua jenis sistem pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, yaitu pendidikan inklusif dan homeschooling.

(Visited 254 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us