Bagikan Artikel Ini:

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki spesies hewan yang banyak dan variatif. Mulai dari hewan yang bisa kita jumpai di negara manapun, hingga hewan endemik yang hanya ada di Indonesia. Keragaman satwa inilah yang menjadi salah satu kekayaan dan kebanggaan di Indonesia.

Hewan Endemik Indonesia

Hewan endemik adalah hewan yang hanya ada di daerah tertentu saja. Bahkan, karena Indonesia adalah negara kepulauan, beberapa spesies hanya dapat ditemukan di pulau tertentu saja.

Sayangnya, karena perburuan dan eksploitasi berlebihan, beberapa hewan endemik tersebut kini terancam punah. Beberapa bahkan hanya memiliki populasi yang dapat dihitung jari.

Di bawah ini adalah daftar hewan endemik yang ada di indonesia.

1. Badak Jawa

Pada Mei 2021, data menunjukkan jumlah badak bercula satu atau badak jawa saat ini hanya ada 73 ekor saja. Perburuan hewan ini kebanyakan karena anggapan cula badak memiliki khasiat dalam pengobatan. Sampai saat ini, pemburu ilegal masih melakukan praktik perburuan pada hewan ini.

Menurut kajian ilmiah, cula badak tidak memiliki khasiat pengobatan. Kajian tersebut berjudul Ethnopharmacology of rhinoceros horn. II: antipyretic effects of prescriptions containing rhinoceros horn or water buffalo horn, terbit pada Journal of Ethnopharmacology, 33 (1991) 45-50, Elsevier Scientific Publishers Ireland Ltd.

Meski begitu, cula badak yang melambangkan tingginya martabat juga menjadi penyebab tingginya tingkat perburuan badak jenis ini. Banyak orang menganggap memiliki cula badak adalah prestige yang tinggi karena harganya yang mahal.

Namun, pemerintah dan lembaga perlindungan hewan langka terus mengupayakan peningkatan populasi badak ini. Salah satunya adalah dengan penangkaran di Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten. Proses perlindungan dilakukan secara cermat untuk pencegahan praktik perburuan yang terus meningkat.

2. Harimau Sumatera

Sesuai dengan namanya, harimau sumatera atau Panthera tigris sondaica merupakan hewan endemik yang mendiami Pulau Sumatera. Fisiknya merupakan yang paling kecil di keluarga harimau.

Harimau sumatera dapat berkembang biak kapan saja. Dalam satu kali mengandung, induk harimau sumatera dapat melahirkan dua sampai enam ekor anak.

Namun, meski undang-undang sudah melindunginya, perburuan masih saja berlanjut. Hal ini karena tingginya harga kulit, taring, hingga tulang harimau sumatera. Hingga saat ini, perkiraan jumlah satwa ini tidak lebih dari 400 ekor saja.

Selain karena perburuan liar untuk bagian tubuhnya, pembukaan lahan untuk perkebunan menjadi ancaman untuk spesies ini. Saat ini, pemerintah melakukan upaya peningkatan populasi dengan cara budi daya di alam liar. Terutama di cagar alam dan taman nasional di Sumatera.

3. Orangutan

Orangutan-Sekolah Prestasi GlobalPhoto by viledevil on Envato Elements

Hewan dalam genus pongo ini merupakan hewan cerdas yang pemalu. Melalui pengamatan, hewan ini terlihat dapat menggunakan alat sederhana untuk memenuhi kebutuhannya. Mulai dari menggunakan tongkat untuk mengambil buah, hingga memancing ikan di sungai.

Mendiami daerah Sumatera dan Kalimantan, hewan ini masuk pada kategori hewan endemik Indonesia yang terancam punah. Berbeda dengan perburuan harimau sumatera untuk bagian tubuhnya, banyak yang memburu orangutan untuk menjadikannya hewan peliharaan.

Selain itu, sama halnya dengan harimau sumatera, pembukaan lahan perkebunan yang berlebihan juga menjadi ancaman terbesar hewan ini. Padahal, perkembangbiakan hewan ini tidak terlalu aktif.

Dalam satu kali siklus perkembangbiakan, induk orangutan mengandung selama 8 – 9 bulan dan hanya melahirkan satu keturunan. Saat ini, populasi orangutan di Sumatera dan Kalimantan diperkirakan hanya mencapai 75.000 ekor saja. Jumlah ini terus berkurang seiring perburuan dan pembukaan lahan yang terus meningkat.

4. Anoa

Bentuk tubuh anoa memiliki kesamaan dengan kerbau namun dengan fisik yang lebih kecil. Hal ini menyebabkan anoa juga memiliki julukan sebagai kerbau kerdil. Hewan ini merupakan hewan endemik Indonesia yang mendiami Pulau Sulawesi.

Anoa jantan akan menandai wilayahnya dengan menggosokkan tanduknya ke pohon dan mengencingi tanah di sekitarnya. Perilaku ini menunjukkan bahwa anoa merupakan hewan soliter yang protektif pada wilayah teritorialnya.

Sayangnya, saat ini populasi anoa atau bubalus sp. hanya mencapai 2.500 ekor anoa dewasa. Jumlah ini terus berkurang dikarenakan perburuan yang masih terjadi secara liar. Selain itu, penyusutan habitat juga menjadi ancaman bagi hewan ini.

Padahal, siklus reproduksi hewan ini hanya terjadi satu tahun sekali. Apalagi dalam satu kali melahirkan, induk anoa hanya melahirkan satu ekor anak. Hal inilah yang menyebabkan populasi spesies ini sulit meningkat.

5. Komodo

Komodo-Sekolah Prestasi GlobalPhoto by olegbreslavtsev on Envato Elements

Sebagai salah satu predator puncak di rantai makanan, komodo memiliki reputasi yang mendunia. Dengan fisik yang besar dan terlihat mengerikan, tak heran jika hewan ini memiliki julukan “The Real Dragon”.

Selain tubuhnya yang besar, liur komodo memiliki bakteri yang hidup di dalamnya. Meski mangsanya dapat kabur, mangsa tersebut kemungkinan akan mati dalam waktu sehari atau seminggu akibat infeksi setelah komodo menerkamnya.

Para pemburu liar biasanya menangkap komodo untuk mengambil darahnya. Banyak yang percaya bahwa darah komodo dapat menjadi antibiotik untuk menangkal penyakit. Hal ini memicu peningkatan perburuan terhadap komodo secara signifikan.

Selain itu, banyak yang membuat aksesoris seperti tas dan dompet dari kulit komodo. Padahal, saat ini populasi komodo hanya berjumlah 4.000 – 5.000 ekor saja. Selain karena perburuan, ancaman dari kebakaran, menyempitnya habitat, hingga tingginya aktivitas vulkanik membuat populasinya terus menurun.

Saat ini, upaya penangkaran dan konservasi terus dilakukan di kebun binatang dan Taman Nasional Komodo. Harapannya, usaha ini dapat menjaga kelestarian komodo agar tidak punah dan generasi mendatang masih bisa mengamati hewan luar biasa ini.

6. Burung Cendrawasih

Mendapat julukan Burung Surga, Cendrawasih adalah salah satu dari sedikit hewan endemik Papua yang sangat menawan. Dengan karakteristik utamanya yang berbulu cerah, anda dapat mengamati hewan ini di alam liar dengan mudah.

Di Indonesia, ada 30 spesies cendrawasih yang 28 spesiesnya hidup di Pulau Papua. Selain karena bulunya yang indah, para pengamat burung sangat tertarik dengan ritual perkawinan burung ini.

Burung jantan akan menari dan memamerkan bulunya pada betina. Biasanya, dua jantan akan saling berebut satu betina. Nantinya, sang betina akan memilih jantannya dengan melihat keindahan bulu si jantan.

Sayangnya, keindahan bulu cendrawasih menjadi salah satu yang menjadi alasan burung ini terancam punah. Di Eropa, bulu burung ini harganya sangat mahal sebagai hiasan topi wanita dan aksesoris lainnya.

Meskipun masyarakat Papua menggunakan bulu cendrawasih dalam pakaian adatnya, suku Papua memiliki kearifan agar tidak memburu cendrawasih secara berlebihan. Hal ini pula yang menyebabkan diperbolehkannya masyarakat pribumi menangkap burung ini.

Saat ini, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya melindungi burung ini dari perburuan. Tentu saja, masyarakat lokal Papua saat ini ikut bekerjasama dalam upaya perlindungan satwa ini.

7. Elang Jawa

Nisaetus bartelsi atau elang jawa memiliki ciri fisik yang menonjol dari elang jenis lain. Spesies elang ini memiliki jambul berwarna hitam dengan ujung berwarna putih. Elang jawa identik dengan lambang negara Indonesia, yaitu burung Garuda.

Biasanya, bulu burung garuda berwarna hitam dengan tengkuk kecoklatan. Namun tak jarang pula elang jawa berwarna coklat keemasan. Saat terkena sinar matahari, warna keemasan burung ini akan semakin terlihat,

Burung ini hidup hampir di seluruh hutan hujan Pulau Jawa. Namun, tak jarang elang jawa bersarang dekat dengan pemukiman warga di pedesaan. Biasanya, elang jawa memangsa mamalia kecil hingga unggas kecil lainnya.

Namun tentu saja, lagi-lagi manusia menjadi ancaman terbesar atas kepunahan elang jawa. Selain karena perburuan yang marak dilakukan, menyempitnya habitat elang jawa juga menjadi masalah tersendiri. Hutan-hutan yang menjadi tempat wisata dan pembangunan daerah yang sembrono mengurangi area aktif elang ini.

Padahal, reproduksi elang jawa ini cukup rendah. Induk elang jawa hanya bertelur satu butir saja dan dierami selama 47 hari. Dan siklus ini hanya terjadi di bulan Januari sampai Juni saja.

Saat ini, upaya konservasi terus dilakukan dengan harapan elang jawa tetap berkembang dan tidak ada perburuan elang ini lagi. Salah satunya adalah konservasi di Taman Nasional Gunung Halimun Salah dengan luas area 113.357 hektar.

8. Tarsius Tarsier

Tarsius Tarsier-Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Deb Dowd on Unsplash

Tarsius Tarsier atau monyet hantu adalah hewan endemik Indonesia yang hidup di Pulau Sulawesi. Habitat spesies ini berada di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan.

Monyet hantu ini memiliki tubuh yang kecil dan bulu lembut kemerahan. Berat tubuhnya hanya mencapai 130 gram saja. Dengan fisik kecilnya, hewan nokturnal ini memangsa serangga kecil, kadal, bahkan kelelawar.

Telinga hewan ini sangat sensitif dan dapat bergerak secara independen. Monyet hantu menggunakan telinga ini untuk mendeteksi mangsanya yang kemudian ia terkam dengan jari panjangnya dan dibunuh menggunakan gigitan.

Sayangnya, primata terkecil di dunia ini hanya tersisa sebanyak 1.800 ekor saja. Selain karena habitatnya yang berkurang, perburuan hewan ini masih sangat tinggi. Perburuan hewan ini mirisnya untuk konsumsi warga setempat dan wisatawan.

9. Kucing Merah

Pada tahun 2002, International Union for Conservation of Nature mengumumkan bahwa kucing merah merupakan spesies yang terancam punah. Kucing endemik Pulau Kalimantan ini hanya memiliki populasi dewasa sebanyak 2.200 ekor saja.

Catopuma Badia memiliki bulu berwarna coklat kemerahan yang merupakan asal nama kucing liar ini. Telinganya berbentuk kebulatan dengan warna gelap dan ekor yang cukup panjang. Meski tubuhnya kecil dibanding kucing lainnya, kucing ini mencari makan dengan berburu hewan pengerat, burung, hingga monyet.

Karena hewan ini hewan nokturnal dan sangat jarang menampakkan diri, tak banyak data mengenai kucing ini. Selain itu, populasinya yang semakin menurun membuat pengamat satwa sulit menemukan keberadaan kucing merah ini.

10. Kura-kura Leher Ular Rote

Kura-kura leher ular (Chelodina mccordi) merupakan hewan endemik yang hidup di perairan pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Hidup di perairan dangkal, hewan ini berburu dan bertahan hidup dengan memakan serangga, ikan kecil, dan berudu.

Uniknya, untuk menghindari predator seperti babi liar, kura-kura ini melepaskan bau tak sedap. Bau ini nantinya akan membuat predator menganggap bahwa kura-kura ini sudah mati. Selain itu, kura-kura ini juga memiliki cangkang yang keras sebagai perlindungan terakhirnya.

Sayangnya, predator paling dominan untuk kura-kura leher ular adalah manusia. Perburuan kura-kura ini bertujuan untuk dikonsumsi dan menjadikan cangkangnya sebagai hiasan.

Di tahun 2020, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur menyatakan bahwa hewan ini sudah punah dan tidak ada lagi di habitat aslinya. Hal ini menunjukkan kelemahan pada proses perlindungan dan konservasi spesies ini.

Di tahun yang sama, beberapa kura-kura leher ular yang dibudidayakan di Singapura dikembalikan ke habitat aslinya. Pelepasan kembali kura-kura ini ke alam liar menjadi harapan agar satwa ini dapat berkembang biak dan mengisi habitat alaminya.

Kesimpulan

Menjadi negara yang kaya akan sumber daya alam tak semerta-merta menjadikan Indonesia negara yang aman untuk hewan endemiknya. Banyaknya campur tangan manusia menjadi faktor besar dalam punahnya hewan-hewan endemik tersebut.

Pada akhirnya, kelestarian alam kembali pada yang bertanggung jawab dalam merusaknya. Sebagai bagian dari Kingdom Animalia, manusia menjadi penjaga sekaligus predator tingkat tinggi.

Tak hanya dengan melakukan penangkaran dan konservasi, penyebaran informasi yang tepat dan cepat dapat melindungi hewan endemik dari kepunahan. Pelaporan terhadap perburuan ilegal bisa menjadi salah satunya.

Baca Juga : 3 Macam Perkembangbiakan Hewan Secara Vegetatif

Apa itu Hewan Endemik ?

Hewan endemik adalah hewan yang hanya ada di daerah tertentu saja. Bahkan, karena Indonesia adalah negara kepulauan, beberapa spesies hanya dapat ditemukan di pulau tertentu saja.

Apa saja hewan Endemik yang ada di Indonesia ?

Badak Bercula satu atau yang bisa disebut Badak Jawa, Harimau Sumatera, Orangutan, Anoa, Komodo, Burung Cendrawasih, Elang Jawa, Tarsius Tarsier, Kucing Merah dan Kura-kura Leher Ular Rote

Bagaimana cara Melindungi hewan endemik dari kepunahan ?

Dengan melakukan penangkaran dan konservasi, penyebaran informasi yang tepat dan cepat. Selain itu, Pelaporan terhadap perburuan ilegal bisa menjadi salah satunya.

(Visited 47 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us