Bagikan Artikel Ini:

Memiliki anak cerdas adalah dambaan setiap orang tua. Sebagai agama yang ilmiah, Islam pun mendorong agar umatnya rajin belajar dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.

Lalu, bagaimana tuntunan Islam agar anak kita menjadi cerdas? Adakah doa agar anak cerdas yang dianjurkan untuk dibaca?

Mari simak pembahasannya hingga akhir ya, Islamic parents tercinta.

Cerdas sekaligus Sholeh, Apakah bisa?

Ketika meminta kepada Allah agar anaknya menjadi cerdas, tidak sedikit yang meniatkan dengan doanya tersebut agar anaknya cerdas secara “duniawi” saja. Padahal idealnya selain cerdas dalam hal duniawi, ia pun cerdas dalam perkara akhirat.

Lantas, bagaimana pandangan Islam tentang ilmu dan kecerdasan? Bagaimanakah anak yang cerdas itu?

Maka sebelum membahas mengenai doa-doa agar anak cerdas, kita perlu memahami kedudukan ilmu dan kecerdasan dalam Islam terlebih dahulu.

Karena, do’a adalah ibadah yang berkaitan erat dengan keadaan hati dan keyakinan. Dengan memahami pandangan Islam tentang ilmu, maka do’a kita pun akan lebih terarah dan mustajab biidznillah.

Islam adalah agama yang mengagungkan Ilmu dan Pemiliknya

Islam bukanlah agama yang mengkultuskan sikap taklid buta (asal mengekor) dan mematikan akal serta nalar kritis.

Bahkan, menjaga akal adalah salah satu dari maqashid asy-syari’ah (tujuan/maksud dari diturunkannya syariat kepada umat manusia).

Maka, kita dapati bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan setiap orang Islam untuk menuntut ilmu:

”Menuntut ilmu (agama) itu wajib atas setiap muslim.”  (HR. Ibnu Majah no. 224. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Al-Qur’an juga menjelaskan kedudukan orang-orang yang berilmu:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ….

“… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11)

Namun perlu diingat, bahwa ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama. Maka, para ulama menjelaskan bahwa wajib (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu agama.

Oleh karena itu, sebagai orang tua kita perlu meluruskan pandangan dan niat kita tentang pentingnya menuntut ilmu agama.

Berhubung, masih banyak yang beranggapan bahwa menuntut ilmu agama itu “cukup yang biasa-biasa saja” dan tidak menganggapnya mulia. Adapun untuk ilmu dunia, begitu bersemangat untuk mempelajarinya hingga sangat tinggi.

Lantas, hendaknya sebagai orang tua kita berharap agar anak kita menjadi seorang yang faqih dalam agama, sebelum dalam hal-hal yang bersifat duniawi.

Jangan jadikan upaya menuntut ilmu agama bagi anak-anak kita di sisa-sisa waktu saja. Namun, hendaklah orang tua memperhatikan dengan serius pendidikan agama bagi anaknya dan meluangkan sumber daya dan waktu untuknya.

Cerdas Agama, Cerdas Ilmu Dunia

Jika menuntut ilmu agama hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu), lantas bagaimana kedudukan dan hukum menuntut ilmu dunia?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, seorang ulama terbaik di generasi ini, pernah mendapat pertanyaan:

“Apakah mempelajari ilmu seperti kedokteran dan industri termasuk dari tafaqquh fid din (mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mendapat pujian dalam syariat)?”

Beliau kemudian menjawab,

“Ilmu-ilmu tersebut (ilmu duniawi) tidaklah termasuk ilmu agama (sehingga tidak termasuk tafaqquh fid din). Karena, dalam ilmu-ilmu tersebut tidak dipelajari Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, ilmu tersebut termasuk ke dalam ilmu yang dibutuhkan oleh umat Islam.”.

Maka dari itu, sebagian ulama memaparkan bahwa mempelajari ilmu dunia seperti industri dan teknologi, kedokteran, serta semacamnya, hukumnya fardhu kifayah (wajib ada yang mempelajari dari umat ini). Alasannya, karena tanpa ilmu-ilmu tersebut maka maslahat (kebaikan) bagi umat tidak bisa mewujud.

Misalnya jika tidak ada dari umat Islam yang mempelajari kedokteran, tentunya umat akan kesulitan ketika ada yang sakit dan angka harapan hidup serta kualitas hidup akan menurun.

Jika tidak ada yang ahli dalam bidang pertambangan, maka kita tidak akan bisa memanfaatkan potensi sumber daya alam serta bisa mengalami eksploitasi oleh pihak asing.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, seorang ulama besar yang mahir dalam tafsir, pun menjelaskan bahwa wajib hukumnya mempelajari ilmu industri (teknologi) yang manusia butuhkan dalam perkara agama dan dunia mereka.

Beliau menjelaskan hal ini ketika memaparkan penjelasan dari sebuah kaidah fikih yang berbunyi,

الوسائل لها أحكام المقاصد

“Hukum sarana itu sebagaimana hukum tujuan.”

Maka, mempelajari ilmu dunia hukumnya fardhu kifayah dan umat Islam membutuhkannya.

Selain itu, berdasarkan kaidah fikih di atas, hukum mempelajarinya pun sesuai dengan tujuan (niat). Jika tujuannya baik, maka terpuji. Jika tujuannya buruk, maka tercela.

Allah membenci Orang yang hanya Cerdas dalam Ilmu Dunia saja

Tentunya kita ingin anak kita selain cerdas pun juga mendapatkan cinta dari Allah. Karena orang yang Allah cintai, maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.

Di dunia, ia akan selamat dari kesesatan, kesyirikan, dan kebingungan. Di akhirat, ia akan selamat dari api neraka dan mampu memberi manfaat pada orang tua serta keluarganya.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة

“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”. (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh al-Albani)

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mencela mereka yang hanya pandai dalam hal-hal duniawi dan perhiasannya, namun lalai terhadap perkara akhirat yang lebih kekal.

يَعْلَمُونَ ظَٰهِرًا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْءَاخِرَةِ هُمْ غَٰفِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS Ar-Rum: 7)

 

Do’a-Do’a agar Anak menjadi Sholeh

Setelah memahami kedudukan ilmu dan orang-orang berilmu dalam Islam, maka sekarang kita akan membahas tentang do’a-do’a yang bisa membantu agar anak menjadi cerdas dalam hal akhirat serta dunia.

Doa Mustajab Agar Anak Cerdas - Prestasi Global

1. Do’a Rasul kepada Ibnu Abbas

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma adalah salah seorang sahabat yang paling pandai dan ahli dalam masalah tafsir Al-Qur’an. Beliau menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak berusia di bawah 10 tahun.

Suatu saat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan beliau:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Allahumma faqqihhu fid din wa ‘allimhut ta’wil”

Artinya: “Wahai Allah, pahamkanlah ia perkara agama dan ajarkanlah ia tafsir Al-Quran.” (HR Ahmad dan Al-Albani menshahihkannya)

Jika anak kita faqih beragama dan ahli dalam tafsir, maka ia akan termasuk ke dalam manusia-manusia terbaik dan bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, maka Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kebaikan di sini adalah umum. Yakni, baik kebaikan di dunia maupun di akhirat. Jadi pemahaman terhadap agama tidak seperti yang banyak orang pahami bahwa ia tidak bermanfaat di dunia.

Seorang pedagang yang tidak memahami fiqih muamalah (ilmu berdagang dalam Islam) misalnya, maka ia akan terjebak dalam hal-hal yang tidak baik dan melahirkan dosa, merugikan, serta membuat hartanya tidak berkah. Contohnya adalah riba, gharar, maisir, dan lain-lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori)

Sebaik-baik orang yang hadits ini maksudkan bukanlah yang sekedar mengajar tata cara membaca Al-Qur’an, namun juga yang memahami dan mengajarkan makna-makna serta pengamalannya.

Maka jika anak anda mampu menyelami ilmu-ilmu ekonomi Islam dan mengajarkannya hingga umat pun bermuamalah sesuai syariat, misalnya, ia pun bisa termasuk ke dalam golongan yang hadits tersebut sebutkan.

 

2. Dzikir Pagi-Petang

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berdzikir mengingat-Nya di setiap pagi dan petang:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS Al-Ahzab: 41-42)

Rincian dzikir yang ma’tsur (yang haditsnya shahih) bisa anda akses di sini.

Hendaknya kita mengajarkan pada anak kita untuk membaca dzikir berupa do’a yang satu ini di setiap sehabis shalat subuh:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an wa rizqon thoyyiban wa ‘amalan mutaqobbalaa”

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayyib (baik), serta amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah no. 925, Al-Albani menshahihkannya)

Di antara yang diminta dalam dzikir/doa ini adalah ilmu yang bermanfaat.

Meminta ilmu yang bermanfaat sangatlah penting, karena terkadang kita bisa mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat (misalnya ilmu yang tidak sesuai syariat atau menyesatkan).

Selain itu, tidak semua yang mendapatkan ilmu pun bisa mengambil manfaat dari ilmunya. Sebagaimana kita dapati banyak orang yang pinter keblinger.

Oleh karena itu, hendaknya kita membiasakan anak untuk merutinkannya setiap selesai shalat subuh. Ajarkan ia maknanya agar ia membacanya dari hati. Karena, dzikir dan do’a yang membacanya dengan sepenuh hati lebih besar pengaruhnya.

Tata caranya adalah dengan membacanya selesai menghabiskan dzikir setelah shalat, dan tanpa mengangkat tangan.

 

3. Do’a meminta tambahan Ilmu dan dijauhkan dari Ilmu yang tidak Bermanfaat

Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa meminta tambahan ilmu kepada-Nya:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“…Rabbii zidnii ‘ilmaa.”

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu’.” (QS. Thaha: 114)

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja Allah perintahkan untuk senantiasa meminta tambahan ilmu, maka bagaimana dengan kita? Tentu kita lebih membutuhkannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa memanjatkan doa ini:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي, وَعَلِّمْنِيْ مَايَنْفَعُنِيْ, وَ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Allahumman-fa’nii bimaa ‘allamtanii wa ‘allimnii maa yanfa’unii, wa zidnii ‘ilmaa.”

Artinya:

“Ya Allah, berilah manfaat padaku dengan apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku, serta tambahkanlah ilmu kepadaku.” (HR. at-Tirmidzi: 3599, dan Ibnu Majah: 251, 3833)

 

4. Do’a Ibadurrahman

Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman) memiliki sifat-sifat khusus. Di antaranya, mereka senantiasa berdoa:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa qurrota a’yun, waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa

Artinya:

“… “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwa anak yang menjadi penyejuk mata adalah yang taat kepada Allah, berilmu, dan beramal. Do’a ini pun tidak terbatas hanya untuk anak, namun juga untuk istri, suami yang memanjatkan do’a, dan orang-orang di bawah naungannya.

Dengan doa ini, maka insyaAllah anak kita pun tidak hanya cerdas namun juga menyejukkan mata kedua orang tuanya tatkala memandangnya.

 

5. Do’a secara bebas

Doa Mustajab Agar Anak Cerdas - Prestasi Global

Doa-doa terbaik adalah doa yang ma’tsur, yakni yang didapati dalam Al-Qur’an atau hadits shahih dan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga doa-doa para Nabi sebelum beliau ‘alaihimush shalatu wassalam.

Karena, doa-doa ini ringkas dan mengandung makna yang luas serta mendalam. Misalnya doa “rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaabannaar” yang meminta seluruh kebaikan dunia dan akhirat serta agar jauh dari azab neraka dan segala yang menghantar kepadanya.

Juga doa-doa yang dilantunkan para shahabat namun tidak bertentangan dengan syariat.

Namun selain doa-doa di atas, kita pun bisa berdoa dengan bahasa ibu kita, yakni bahasa Indonesia.

Dengan syarat, maknanya tidak bertentangan dengan syariat (misalnya “jadikanlah anakku seorang penjudi”) dan memiliki makna yang baik.

Maka bisakah kita memanjatkan doa agar otak cerdas atau semisalnya? Bisa saja.

Memang tidak kita temukan dalam syariat secara khusus dzikir mencerdaskan otak, juga tidak ada hadits shahih yang menjelaskan sholawat agar anak cerdas.

Namun, kita bisa berdoa dengan bentuk umum misalnya, “Ya Allah, luluskanlah anakku dengan nilai yang baik dan jadikanlah ia bermanfaat bagi sesama”.

Atau bisa juga dengan redaksi-redaksi lain yang mengandung doa supaya pintar dalam segala hal yang bermanfaat.

 

Kesimpulan

Islam adalah agama yang ilmiah dan mengagungkan kedudukan ilmu serta pemiliknya.

Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya pun mengajarkan untuk menuntut ilmu dan senantiasa berdoa agar mendapat tambahan ilmu. Sebagai orang tua, kita bisa juga memanjatkan beragam doa agar anak cerdas dalam hal-hal yang bermanfaat.

Namun, perlu kita pahami bahwa ilmu yang paling terpuji di sisi Allah adalah ilmu agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Namun, ilmu dunia pun bisa menjadi terpuji ketika digunakan untuk hal yang baik. Misalnya, kita meniatkan belajar suatu ilmu yang umat manusia dan umat Islam secara khususnya butuhkan seperti kedokteran atau suatu teknologi

Baca juga: 17 Ayat Al-Qur’an Tentang Bersyukur dan Artinya Yang Anak Perlu Tahu

Apa Itu doa Terbaik?

Doa-doa terbaik adalah doa yang ma’tsur, yakni yang didapati dalam Al-Qur’an atau hadits shahih dan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pentingkah Mempelajari Ilmu Dunia?

Sebagian ulama memaparkan bahwa mempelajari ilmu dunia seperti industri dan teknologi, kedokteran, serta semacamnya, hukumnya fardhu kifayah (wajib ada yang mempelajari dari

Mengapa kita harus mempelajari ilmu akhirat juga?

Tentunya kita ingin anak kita selain cerdas pun juga mendapatkan cinta dari Allah. Karena orang yang Allah cintai, maka ia akan selamat di dunia dan akhirat. Di dunia, ia akan selamat dari kesesatan, kesyirikan, dan kebingungan. Di akhirat, ia akan selamat dari api neraka dan mampu memberi manfaat pada orang tua serta keluarganya.

 

(Visited 88 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us