Bagikan Artikel Ini:

Bisa multitasking dan melakukan banyak hal dalam satu waktu memang memberikan keuntungan tersendiri. Terutama dari segi efektivitas dan efisiensi waktu atau tenaga. Namun, bagi anak, justru multitasking bukan ide yang bagus. Kenali dampak buruk multitasking sebelum menerapkannya pada anak.

Pengertian Multitasking

alasan multitasking tidak dianjurkan - Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Spikeball on Unsplash

Istilah multitasking tentu sudah tidak asing lagi di banyak kalangan. Terlebih lagi bagi perempuan atau ibu rumah tangga yang memiliki banyak peran dan tanggung jawab dalam satu waktu.

Pengertian multitasking sendiri merupakan aktivitas melakukan beberapa tugas atau kegiatan dalam satu waktu bersamaan. Semua orang bisa multitasking dengan mengerjakan banyak hal tak terbatas usia, pendidikan, maupun profesi.

Banyak yang cenderung lebih menyukai melakukan aktivitas seperti ini karena menganggap lebih efektif dalam banyak hal termasuk waktu, tenaga, hingga biaya. Faktanya, multitasking pada beberapa orang justru malah memperburuk keadaan sehingga tidak dianjurkan terutama untuk anak-anak.

Alasan Multitasking Tidak Dianjurkan

Bagi orang dewasa mungkin sudah terbiasa melakukan aktivitas seperti bekerja dan mengurus rumah tangga atau kegiatan lainnya dalam satu waktu bersamaan. Mereka bisa dan ahli menjadi orang yang multitasking karena tuntutan. Namun, jika itu terjadi pada anak justru dampaknya buruk. Apa alasan multitasking tidak dianjurkan?

1. Kelelahan Akibat Bekerja Ekstra Secara Terus-Menerus

Perkembangan anak baik fisik maupun mental memang sangat perlu bagi orang tua agar memperhatikannya. Terlalu banyak tugas dan kegiatan yang anak kerjakan dalam satu waktu mungkin hal yang wajar, namun lama-kelamaan akan membuat mereka kelelahan.

Tidak hanya tenaga mereka yang terkuras dengan habis, namun juga pikiran pun akan kehabisan energi ketika mereka gunakan untuk berpikir. Perlahan tapi pasti tubuh pun akan kehabisan energi saat anak terbiasa multitasking.

Mengerjakan tugas dalam satu waktu bersamaan memang lebih efektif dan cepat selesai. Namun, tentu akan sangat menyibukkan anak, hingga akhirnya tubuh anak pun terpaksa bekerja di luar batas kemampuan. Jika hal tersebut terus-menerus terjadi secara terpaksa, alhasil mereka bisa mengalami Lelah fisik dan mental.

2. Memecah Konsentrasi

Tugas anak terutama yang masih sekolah adalah belajar. Seperti Anda ketahui bahwa mata pelajaran yang mereka dapatkan dari sekolah begitu banyak dengan berbagai topik dan materi. Biasanya konsentrasi anak akan lebih mudah terpecah jika mereka melakukan multitasking.

Contohnya mengerjakan PR atau belajar untuk ujian hari berikutnya sambal menonton televisi, mengobrol, hingga makan cemilan. Kelihatannya memang mengasyikkan dan tidak membuat anak stress. Faktanya, konsentrasi anak menjadi terpecah dan mereka pun jadi kesulitan untuk menyerap pelajaran.

Padahal anak masih harus berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya secara optimal. Jika anak masih terus-menerus melakukan tugas secara multitasking, maka hasilnya pun jadi tidak maksimal.

Ketika anak terbiasa multitasking dan melakukan banyak kegiatan dalam waktu bersamaan, yang ada konsentrasi mereka akan terpecah. Alhasil anak pun jadi kurang fokus dalam mengerjakan tugas atau mempelajari materi pelajaran tertentu.

3. Kinerja Belajar Menurun

Jangan terlalu memaksakan kehendak sebagai orang tua agar anak bisa memiliki banyak kemampuan. Anak yang mengerjakan banyak hal secara multitasking hanya akan membuat pikiran dan tenaganya menjadi terkuras.

Contohnya pada saat ada ujian mendadak, anak kemudian akan belajar dengan sistem belajar kebut semalam sambal mendengarkan music atau bermain gadget. Meskipun terkesan lebih enjoy dan menikmati, faktanya daya konsentrasi anak dan kemampuan mereka untuk fokus pada satu hal menjadi terganggu.

Kinerja belajar pun akhirnya menjadi semakin turun karena anak tidak bisa fokus dalam belajar ketika melakukan beberapa kegiatan bersamaan. Tidak apa-apa mengerjakan dan menyelesaikan satu per satu terlebih dahulu yang penting hasilnya maksimal.

4. Mengganggu Kesehatan

Menjaga kesehatan sangatlah penting karena seperti percuma ketika bisa melakukan banyak hal dan menjadi anak cerdas namun ternyata mengalami masalah kesehatan. Karena bagaimanapun juga kesehatan merupakan salah satu kunci penting dalam hidup yang tidak boleh disepelekan terutama pada anak remaja.

Saat anak mengalami masalah atau gangguan kesehatan, aktivitas dan rutinitas yang biasanya mereka kerjakan pun menjadi terganggu. Alhasil semua pekerjaan dan tugasnya menjadi terbengkalai karena tidak dapat terselesaikan dengan baik.

Hal ini tentu bisa jadi berkaitan dengan multitasking yang anak lakukan. Karena pada saat multitasking, anak harus memaksa tubuhnya untuk bekerja di luar batas. Mereka harus mengerahkan pikiran dan tenaga secara bersamaan untuk menyelesaikan sesuatu. Alhasil tubuh pun menjadi kelelahan dan lebih mudah terserang penyakit.

5. Kurang Maksimal Dalam Menyelesaikan Pekerjaan Rumah

Tujuan utama dari multitasking dengan melakukan beberapa kegiatan dalam satu waktu adalah agar dapat menghemat waktu sehingga pekerjaan cepat selesai. Fakta yang terjadi bisa sebaliknya ketika fokus anak malah justru terpecah dan terbagi.

Niat awal memberikan tugas multitasking adalah agar anak bisa lebih cepat bersantai dan melakukan aktivitas lainnya. Namun, ketika anak mengerjakan banyak tugas dan pekerjaan secara bersamaan, fokus dan konsentrasinya hanya akan terbagi.

Setiap tugas pasti sudah memiliki level atau tingkat kesulitan masing-masing sehingga butuh konsentrasi penuh agar dapat menyelesaikan dengan baik. Jika multitasking anak lakukan secara terus-menerus, maka yang ada tugas atau pekerjaan tersebut tidak akan terselesaikan dengan maksimal.

Dampak Buruk Multitasking Pada Anak

Dampak Buruk Mutitasking Pada Anak - Sekolah Prestasi GlobalPhoto by Chinh Le Duc on Unsplash

Sebagai orang tua, sebaiknya pahami kebutuhan dan kemampuan anak dengan baik agar tidak memaksakan kehendak sendiri. Ketika anak terpaksa melakukan banyak kegiatan dalam satu waktu bersamaan, maka bisa mengalami dampak buruk terutama untuk kesehatannya. Berikut beberapa di antaranya:

1. Mengakibatkan Kerusakan Otak Permanen

Salah satu dampak buruk multitasking pada anak adalah bisa menyebabkan kerusakan otak permanen. Struktur otak partisipan yang multitasker memiliki kepadatan otak yang lebih sedikit pada bagian anterior cingulate cortex. Di mana bagian ini memiliki tugas atas kendali emosional dan empati.

Jika multitasking terus-menerus anak lakukan hingga mereka dewasa nantinya, maka lama kelamaan dapat mengubah struktur otak secara permanen. Alhasil rasa empati pada anak menjadi berkurang karena mereka hanya fokus mengerjakan tugas dan kegiatan dalam satu waktu.

2. Mengurangi Efisiensi dan Kinerja Mental

Earl Miller yang merupakan salah satu pakar tentang perhatian, kognisi, dan pembelajaran manusia, mengatakan bahwa multitasking akan membuat perubahan. Memang tugas dan pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih baik, namun akan ada perubahan kecil yang mungkin tidak terasa.

Contohnya ketika beralih dari tugas satu ke tugas lainnya, biasanya membutuhkan upaya kognitif yang cukup menguras sumber daya serta otak secara bersamaan. Multitasking jika terus-menerus anak lakukan hanya akan merusak produktivitas, menghalangi pemikiran kreatif, dan membuat kesalahan.

Karena pada dasarnya kapasitas manusia sangat terbatas dan hanya dapat menyimpan sedikit informasi di otak. Idealnya, dibutuhkan waktu kurang lebih 23 menit dan 15 detik agar bisa kembali fokus setelah mengalami distraksi. Jika gangguannya banyak, maka waktu yang dibutuhkan juga lebih banyak.

3. Membuat IQ Turun

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of London ternyata menemukan bahwa ada keterkaitan antara multitaskingdengan penurunan IQ. Reynol Junco dan Shelia R. Cotton pada tahun 2011 melakukan penelitian terkait efek multitasking terhadap kinerja pelajar.

Dari penelitian tersebut terungkap bahwa siswa yang menggunakan media sosial atau menanggapi obrolan pada saat mengerjakan tugas, memiliki IPK lebih rendah. Karena ternyata pemrosesan informasi tidak cukup jika untuk melakukan tugas dan menangani hal lain secara bersamaan.

Hasil yang berkualitas terhadap tugas yang anak kerjakan membutuhkan fokus dan perhatian lebih. Ketika anak melakukan multitasking, maka kemampuan untuk menafsirkan informasi dan belajar pun akan jadi berkurang mengingat fokusnya terbagi.

4. Menciptakan Kecemasan dan Stress

Ketika seseorang melakukan multitasking, maka produksi kortisol otak akan meningkat. Kortisol merupakan hormon yang menciptakan stress dan itu artinya multitasking berbanding lurus pada peningkatan stress.

Anak yang mengalami stress dan kelelahan baik secara mental maupun fisik akan cenderung mengalami kecemasan. Alhasil stress pun menumpuk dan jika tidak segera mendapatkan penanganan bisa berdampak depresi. Maka jika tidak bijak dalam menghadapi multitasking, hal tersebut akan menjadi lingkaran berbahaya.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua aktivitas multitasking membuat stress. Ketika anak mulai beralih dari belajar offline ke online secara daring menggunakan aplikasi, kortisol yang diproduksi otak akan meningkat. Karena mereka fokusnya terpecah antara suara yang ada di rumah dengan panggilan video meeting.

5. Mengurangi Kecerdasan Emosional

Orang yang cerdas tidak cukup hanya belajar ilmu akademik saja, namun kecerdasan emosional juga sangatlah penting. Bahkan berdasarkan penelitian oleh Travis Bradberry menyebutkan bahwa 90% orang yang kinerjanya terbaik adalah mereka yang cerdas secara emosional.

Seperti disinggung sebelumnya bahwa multitasking bisa berdampak buruk pada bagian otak anterior cingulate cortex. Selain kecerdasan emosional, dampak buruk lainnya juga bisa terjadi pada kesadaran diri dan sosial yang akan berkurang secara signifikan.

6. Membunuh Kreativitas

Anak yang terlalu sering melakukan multitasking biasanya akan terhalang kreativitas dan inovasinya karena ketidakmampuan berpikir mendalam. Karena pemikiran yang inovatif dan kreatif biasanya berasal dari pemikiran yang mendalam dan detail.

Ketika anak sedikit-sedikit beralih tugas dan pekerjaan, maka kemampuan kreatifnya akan menjadi terbuang percuma. Ide-ide yang mungkin tadinya muncul di pikiran anak akhirnya terlewat begitu saja karena merasa tidak ada waktu untuk merealisasikannya.

7. Merusak Keterampilan Pengambilan Keputusan

Dengan terus-menerus melakukan pekerjaan secara multitasking dan berpindah antara tugas satu ke tugas lainnya, kekuatan anak yang berharga bisa habis dengan lebih cepat. Alhasil secara psikologis anak akan mengalami masalah decision fatigue.

Istilah ini mengacu pada penurunan kemampuan dalam mengambil keputusan setelah anak membuat serangkaian pertimbangan yang panjang. Alih-alih membuat keputusan yang bijak, justru multitasking dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk dan perilaku impulsive.

8. Hubungan Orang Tua dan Anak Menjadi Kurang Baik

Dampak multitasking pada orang tua dan anak yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah hubungan mereka. Anak yang merasa terpaksa melakukan aktivitas secara multitasking biasanya akan berontak sehingga hubungannya dengan orang tua pun akan memburuk.

Dampak buruk multitasking pada dasarnya cukup fatal jika terjadi pada anak-anak. Karena pada usia mereka adalah fase yang bagus untuk perkembangan otak sehingga jangan sampai rusak dengan hal yang dapat berdampak buruk.

Baca Juga: Yuk Kenali Apa Itu Brain Fog dan Cara Mengatasinya

Apa pengertian dari Multitasking?

Pengertian multitasking sendiri merupakan aktivitas melakukan beberapa tugas atau kegiatan dalam satu waktu bersamaan. Semua orang bisa multitasking dengan mengerjakan banyak hal tak terbatas usia, pendidikan, maupun profesi.

Jelaskan mengapa Multitasking pada anak tidak dianjurkan?

Bagi orang dewasa mungkin sudah terbiasa melakukan aktivitas seperti bekerja dan mengurus rumah tangga atau kegiatan lainnya dalam satu waktu bersamaan. Mereka bisa dan ahli menjadi orang yang multitasking karena tuntutan. Namun, jika itu terjadi pada anak justru dampaknya buruk. Misalnya, kelelahan akibat bekerja ekstra secara terus-menerus, memecah konsentrasi, kinerja belajar menurun, mengganggu kesehatan, dan kurang maksimal dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.

Jelaskan dampak buruk Multitasking pada anak?

Sebagai orang tua, sebaiknya pahami kebutuhan dan kemampuan anak dengan baik agar tidak memaksakan kehendak sendiri. Ketika anak terpaksa melakukan banyak kegiatan dalam satu waktu bersamaan, maka bisa mengalami dampak buruk terutama untuk kesehatannya. seperti mengakibatkan kerusakan otak permanen, mengurangi efisiensi dan kinerja mental, membuat IQ turun, menciptakan kecemasan dan stress, mengurangi kecerdasan emosional, membunuh kreativitas, merusak keterampilan pengambilan keputusan, dan hubungan orang tua dan anak menjadi kurang baik.

(Visited 61 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us