Memberi hukuman pada anak saat melakukan kesalahan jadi tindakan wajar yang diberikan oleh sebagian orang tua. Bentuk hukumannya pun bisa berbagai macam, salah satunya yaitu dengan pemberian silent treatment.

Jenis hukuman ini dianggap paling aman buat anak karena anak tidak akan tersakiti dan orang tua tidak perlu repot menguras tenaga dan waktu untuk memarahi anak.

Namun, apakah tindakan tersebut aman dari segi perkembangan psikologis anak? Artikel kali ini akan mengupas tuntas terkait hal-hal penting yang perlu Anda ketahui tentang silent treatment dan dampaknya bagi kesehatan mental si buah hati.

Apa Itu Silent Treatment?

silent treatmentPhoto by Maria Teneva on Unsplash

Bagi Anda yang belum memahami silent treatment itu apa, ini merupakan tindakan pemberian hukuman di mana orang tua memilih diam dan tidak mengajak anak berkomunikasi satu kata pun.

Melalui tindakan ini orang tua mengharapkan anak akan sadar dengan kesalahan yang sudah diperbuat dan menyesalinya. Ketika orang tua berhenti merespon apa pun yang anak lakukan, anak lambat laun akan sadar bahwa orang tuanya sangat marah dan tidak menyukai perilaku buruk yang anak buat.

Bentuk perilaku silent treatment yang umumnya para orang tua tunjukkan, pada umumnya yaitu:

  • Menolak ajakan komunikasi verbal apa pun dari anak, baik itu berupa sapaan, pertanyaan, atau ajakan untuk bermain.
  • Menghindari kontak fisik dengan anak seperti tidak memberikan pelukan, elusan, hingga menolak kontak mata.
  • Hanya menunjukkan ekspresi datar ketika menunjukkan perilaku apa pun.

Waktu silent treatment yang orang tua berikan tidak memiliki batasan. Jika orang tua merasa anak sudah menyadari kesalahannya dan mulai mengubah sikap dan perilakunya menjadi anak yang baik, hukuman silent treatment pada anak dihentikan.

Dampak Silent Treatment pada Mental Anak

dampak silent treatmentPhoto by Izzy Park on Unsplash

Kebanyakan orangtua memilih tindakan silent treatment karena dapat menjamin anak tidak akan terluka secara fisik maupun verbal. Namun siapa sangka kalau menurut psikolog anak, silent treatment justru berisiko mengganggu mental anak.

Apa sebenarnya dampak silent treatment pada kondisi mental anak? Ini jawabannya.

1. Dapat Memicu Stres pada Anak

Siapa yang menyangka kalau silent treatment jadi salah satu bentuk pelecehan emosional yang berdampak buruk bagi perkembangan psikologis anak.

Saat anak mendapatkan perlakuan ini dari orang tua, anak akan kehilangan kemauannya, tidak dapat mengekspresikan perasaannya, dan membiarkan orang lain selalu melangkahi mereka.

Jika hal ini dibiarkan, lama-kelamaan anak bisa stres hingga frustasi karena merasa terkekang, merasa terabaikan, dan tertolak oleh orang tuanya sendiri. Anak akan selalu merasa bersalah dan tidak tahu bagaimana menyikapi rasa bersalahnya yang berakibat pada stres berkepanjangan.

Dampak buruk ini akan terbawa seiring pertumbuhan si Kecil. Nantinya, anak tidak bisa berinisiatif sendiri, harus selalu dituntun dan diberitahu mengenai hal-hal yang harus ia lakukan, serta diberitahu mana yang benar dan salah. Hal ini tentu akan merugikan anak sendiri di masa mendatang.

Kekerasan emosional seperti perasaan tertolak dan terasingkan akan membuat anak merasa tidak dicintai lagi. Akibatnya anak terjebak dalam kebingungan, tidak lagi bahagia, dan sering murung karena cemas memikirkan perilaku orang tuanya.

2. Anak Merasa Putus Asa dan Tidak Berdaya

Beriringan dengan stres, anak merasa putus asa dan tidak berdaya ketika selalu mendapat silent treatment dari orang uanya. Sekalipun Anda bisa mengontrol anak setelah treatment ini Anda lakukan, tapi akan ada dampak psikis yang mengiringinya.

Saat menghadapi kondisi ini, anak sudah mulai cemas dan takut memutuskan sendiri. Anak takut membuat orang tuanya marah dan kesal atas perilakunya. Alhasil, anak akan kehilangan semangat dan minat melakukan kegiatan apa pun.

Rasa putus asa dan tidak berdaya yang berkepanjangan akan memengaruhi perkembangan emosional serta perkembangan sosial anak.

3. Anak Merasa Terasingkan

Perlakuan diam yang orang tua berikan sebagai hukuman akan membuat anak merasa terasingkan atau terkucilkan. Bentuk pelecehan secara mental ini membuat anak merasa tidak penting dan tidak diinginkan lagi dalam keluarga.

Saat anak berada di usia yang mengharuskannya banyak bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya, malah harus menghadapi tekanan dan rasa terasingkan yang menyakiti mental mereka.

Melalui pemberian silent treatment, orang tua memaksa anak untuk mencari tahu dan menyadari kesalahan yang sudah anak perbuat. Padahal, mungkin tahapan berpikir mereka belum sampai sekompleks itu. Alhasil anak menjadi frustasi memikirkan kesalahan apa yang ia sudah lakukan.

Berdasarkan halaman medicalnewstoday.com, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa perasaan terkucilkan yang anak hadapi akan mengurangi tingkat harga diri serta kepercayaan diri anak. Dampak yang anak rasakan makin besar jika yang melakukan silent treatment adalah orang terdekat mereka termasuk orang tua.

4. Menyebabkan Trauma pada Anak

Tidak hanya hukuman fisik yang bisa membuat anak menjadi trauma, silent treatment juga ternyata memberi efek yang sama. Sebelum pemberian silent treatment, anak pastinya berpikir bisa mengandalkan dan mempercayai orang tua di situasi apa pun.

Tapi, seiring silent treatment yang orang tua berikan, pola pikir anak bisa jadi berubah dan berganti dengan rasa trauma yang berkepanjangan. Anak merasa tidak lagi bisa mengandalkan orang tuanya yang harusnya bisa sabar dan membimbing anak untuk menyadari kesalahannya.

Pengalaman trauma ini akan membuat anak mulai berpikir keras untuk bagaimana menghindari hukuman dan berusaha hanya melakukan hal-hal yang mendapat persetujuan dari orang tua.

Bahkan, terdapat kasus dimana anak rela mengorbankan tubuh dan kebahagiaannya demi untuk mendapatkan kasih sayang orang tuanya kembali.

5. Anak Menjadi Takut saat Orangtua Kecewa

Dampak lain dari pemberian silent treatment yaitu munculnya rasa takut dan cemas pada anak. Anak akan selalu merasa tidak aman dan takut akan tindakan mereka sendiri.

Anak takut jika orang tuanya mungkin kecewa atas tindakan yang dilakukannya. Anak tidak ingin membiarkan orang tuanya kecewa dan marah terhadap dirinya. Alhasil, anak selalu dihantui rasa cemas atas apa yang mereka lakukan.

Hal tersebut tentunya tidak akan baik bagi tumbuh kembang anak. Jika tidak ditindak dengan cepat, ke depannya anak tidak akan berani mengambil langkah kecil sekalipun karena takut salah dan orang tua kecewa.

Dilansir dari themighty.com, seseorang yang pernah mengalami dan menerima silent treatment dari orang tua mengaku tersiksa. Bahkan membuat ia insomnia karena rasa khawatir berlebihan dan masalah pencernaan akibat rasa cemas terus-menerus.

6. Hubungan Anak dan Orang Tua jadi Renggang

Memberikan silent treatment sebagai hukuman pada anak sama saja dengan memutus sementara hubungan anak dan orang tuanya. Jika terlalu sering dilakukan, otomatis hubungan dan ikatan anak dan orang tuanya menjadi renggang.

Anak lambat laun akan merasa tidak nyaman lagi saat harus bercerita dan berbagi banyak hal dengan orang tuanya. Anak akan lebih memilih menjaga jarak dan belajar untuk tidak mengandalkan orang tuanya lagi.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa silent treatment tidak baik untuk kesehatan hubungan siapa pun termasuk hubungan anak dan orang uanya.

7. Mengganggu Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Melihat begitu besar dampak silent treatment pada anak, tentunya hal ini akan berpengaruh buruk pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

Di masa mendatang ketika dewasa, anak cenderung akan menolak menghadapi konfrontasi dan lebih memilih diam. Sikap demikian pastinya akan menyulitkan siapa pun untuk bisa bersosialisasi.

Anak yang sering kali mendapat silent treatment akan lebih suka menyendiri dan tidak ingin membuat keputusan yang berisiko dirinya salah.

Bahkan ada juga kasus di mana anak korban silent treatment seringkali menyakiti dan menyalahkan diri sendiri. Mereka akan menyebut diri mereka paling bodoh, buruk, dan tidak pantas dicintai siapa pun.

8. Anak akan Kesulitan Menjalin Hubungan di Masa Mendatang

Dampak silent treatment tidak hanya dirasakan di masa kanak-kanak saja tapi akan berlanjut hingga mereka dewasa. Tanpa penanganan yang tepat dari orang tua dan lingkungan, anak akan terus berjuang melawan kecemasan, kesepian, dan trauma.

Jika sudah demikian, saat dewasa anak akan mengalami kesulitan berbaur dengan lingkungannya, sulit berkomunikasi, dan bersosialisasi.

Apa Hukuman Pengganti Silent Treatment untuk Anak?

Alih-alih menerapkan hukuman silent treatment dengan risiko yang cukup serius, ada baiknya mencoba metode lain untuk menghukum anak saat melakukan kesalahan. Berikut metode yang bisa Anda lakukan.

1. Menyelesaikan Masalah Lewat Komunikasi

Karena anak masih dalam tahap belajar, hukuman tidak perlu dalam bentuk hukuman fisik, verbal, maupun silent treatment. Sebagai gantinya Anda bisa mengingatkan anak lewat komunikasi intens berdua dengan si Kecil.

Anda bisa mendiskusikan pendapat anak dan mencari solusi terbaik buat anak. Berikan alasan yang tepat pada anak kenapa tindakannya salah dan jelaskan bagaimana sebaiknya anak bersikap lain kali. Dengan begini, anak merasa didengarkan dan dilibatkan dalam menemukan solusi yang tepat.

2. Berikan Contoh yang Mudah Dipahami Anak

Anak sering kali meniru perilaku orang dewasa terutama orang tuanya. Olehnya itu, penting bagi Anda sebagai orangtua untuk menjadi role model untuk menunjukkan sikap-sikap yang baik yang patut anak contoh.

Anda juga bisa menjelaskan contoh sikap yang baik secara verbal atau melalui media buku cerita yang berisi sifat-sifat baik yang bisa jadi teladan anak.

3. Memberi Tugas Rumah

Salah satu hukuman yang juga sekaligus mendidik yaitu memberi tugas rumah sebagai konsekuensi kesalahan yang sudah anak lakukan. Pilihan tugas rumah yang bisa Anda instruksikan beragam.

Seperti, memberesi kamar tidur, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai, menyiram tanaman, dan lain sebagainya. Bisa juga dengan menambah jam belajar anak di malam hari. Jadi, hukuman yang diberikan tidak bernilai sia-sia dan membawa manfaat yang baik buat anak.

4. Olahraga

Hukuman berupa olahraga bisa menjadi hukuman yang mendidik sekaligus menyehatkan anak. Anda bisa mengajak anak untuk berlari keliling halaman rumah beberapa kali, bisa juga dengan melakukan squat, sit-up, hingga push-up sebanyak jumlah kesalahan yang anak buat.

Namun perlu diingat untuk memberikan hukuman sesuai kemampuan anak agar si kecil tidak kelelahan sehabis olahraga.

Kesimpulan

Anak melakukan kesalahan adalah sesuatu yang biasa. Memberikan hukuman sejatinya harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi fisik, psikologis, dan dengan tujuan mendidik, bukan membuat anak trauma.

Banyak orang tua yang memilih menggunakan silent treatment sebagai metode menghukum anak, padahal ada banyak dampak negatifnya. Jika Anda masih melakukannya, mulai sekarang Anda bisa menghentikannya dan mengganti dengan hukuman yang lebih mendidik.

Baca Juga: 18 Cara Mengatasi Anak Malas Belajar Tanpa Perlu Memarahi Anak

Apa yang Dimaksud Dengan Silent Treatment?

Silent treatment merupakan tindakan pemberian hukuman di mana orang tua memilih diam dan tidak mengajak anak berkomunikasi satu kata pun. Melalui tindakan ini orang tua mengharapkan anak akan sadar dengan kesalahan yang sudah diperbuat dan menyesalinya. Ketika orang tua berhenti merespon apa pun yang anak lakukan, anak lambat laun akan sadar bahwa orang tuanya sangat marah dan tidak menyukai perilaku buruk yang anak buat.

Bagaimana Dampak Anak akan Kesulitan Menjalin Hubungan di Masa Mendatang?

Dampak silent treatment tidak hanya dirasakan di masa kanak-kanak saja tapi akan berlanjut hingga mereka dewasa. Tanpa penanganan yang tepat dari orang tua dan lingkungan, anak akan terus berjuang melawan kecemasan, kesepian, dan trauma. Jika sudah demikian, saat dewasa anak akan mengalami kesulitan berbaur dengan lingkungannya, sulit berkomunikasi, dan bersosialisasi.

Bagaimana Memberikan Contoh yang Mudah Dipahami Anak?

Anak sering kali meniru perilaku orang dewasa terutama orang tuanya. Olehnya itu, penting bagi Anda sebagai orangtua untuk menjadi role model untuk menunjukkan sikap-sikap yang baik yang patut anak contoh. Anda juga bisa menjelaskan contoh sikap yang baik secara verbal atau melalui media buku cerita yang berisi sifat-sifat baik yang bisa jadi teladan anak.