Bagikan Artikel Ini:

Banyak sekali kegiatan positif yang dapat Anda lakukan untuk mengisi bulan Ramadhan. Apalagi, jika Anda sedang dalam proses mengajarkan anak anda untuk melaksanakan puasa.

Salah satu cara ampuh adalah dengan bercerita atau mendongeng bersama anak. Para ahli parenting telah membuktikan bahwa kegiatan mendongeng merupakan salah satu kegiatan bermanfaat untuk tumbuh kembang anak.

Lalu, Apa Saja Manfaat Dongeng untuk Anak?

Manfaat yang bisa kita dapatkan dari kegiatan mendongeng bersama anak sungguh beragam. Berikut kami sajikan beberapa contohnya.

1. Membantu Membangun Imajinasi Anak

Anak-anak adalah insan yang penuh dengan imajinasi. Dengan perlakuan yang tepat, orang tua dapat membantu untuk membangun imajinasi anak menjadi semakin berkembang.

Berimajinasi adalah sebuah proses yang dapat melatih kreativitas dan kemampuan anak dalam memahami sesuatu maupun memecahkan suatu masalah.

Mendengarkan dongeng akan membantu merangsang pikiran anak untuk menggambarkan situasi di kepala mereka sesuai dengan apa yang mereka simak.

Selain itu, tabungan kosa-kata anak juga akan bertambah lewat dongeng dan cerita yang telah mereka dengar. Hal ini nantinya akan berpengaruh terhadap kemampuan anak untuk berkomunikasi, baik via lisan maupun tulisan.

2. Merangsang Minat Baca Anak

Jika seorang anak memiliki minat baca yang baik, maka kebiasaan membacanya pun akan turut menjadi baik. Inilah kesempatan yang bagus untuk para orang tua untuk mengenalkan keseruan membaca dongeng atau cerita kepada anak.

Ajak anak untuk mengeksplor bacaan sesuai dengan apa yang mereka sukai. Dengan begitu, tingkat keingintahuan mereka akan lebih berkembang.

3. Menjalin Bonding antara Orangtua dan Anak

Kegiatan mendongeng dapat Anda jadikan sarana quality time dengan anak-anak. Dengan kehadiran Anda, anak akan merasa memiliki teman bermain dan belajar.

Selain itu, dengan melakukan kegiatan ini secara rutin, kualitas hubungan antar orang tua dan anak juga akan semakin baik.

4. Menanamkan Nilai-nilai Kehidupan dan Motivasi Pada Anak

Ternyata, mendongeng pun dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Selain itu, dengan memilih dongeng anak yang tepat, Anda dapat menyalurkan motivasi kepada anak Anda.

Misalnya, Anda memilih sebuah cerita tentang seorang murid yang pantang menyerah dalam belajar sehingga dia berhasil mendapat juara kelas. Saat mendengarkan cerita dongeng anak tersebut, mereka akan turut membayangkan bagaimana seandainya mereka berada di posisi tersebut. Dengan begitu, anak akan mendapatkan motivasi dalam bersekolah dan belajar.

Tentu saja Anda pun dapat merasakan berbagai manfaat tersebut jika Anda berkomitmen untuk rutin mendongeng bersama anak-anak. Dengan dongeng yang tepat, maka nilai-nilai dan sesuatu yang ingin kita ajarkan kepada anak akan lebih mudah dipahami mereka.

Memilih dongeng yang tepat untuk anak merupakan perkara yang gampang-gampang susah. Tips dari kami adalah Anda dapat menyesuaikan tema dongeng sesuai dengan situasi dan pelajaran yang ingin Anda ajarkan.

Nah, kebetulan, saat ini kita sedang berada di bulan puasa. Ini merupakan saat yang tepat untuk menceritakan kisah-kisah bernuansa islami. Kita dapat mengajarkan anak tentang nilai-nilai moral yang baik, tentang keutamaan bulan Ramadhan, serta tentang kewajiban seorang muslim untuk puasa kepada anak-anak.

Berikut kami sediakan contoh-contoh dongeng anak islami tentang Ramadhan sebagai inspirasi untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik. Selain itu, Anda juga dapat mengajarkan anak puasa melalui kisah-kisah ini.

Kumpulan Dongeng Anak Islami untuk Puasa

Dongeng-dongeng berikut ini dapat Anda gunakan untuk mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai dan moral bernuansa islami.

1. Puasa Pertama Salma

Allahu Akbar, Allahu Akbar…

“Lho, Salma, kok masih menonton TV. Ayo kita berangkat ke masjid. Hari ini, kan, kita mulai sholat tarawih.”

“Oh iya, ya, Ma. Oke, Salma mau siap-siap mengambil mukena dulu.”

Akhirnya mereka pun berangkat ke masjid dan menunaikan ibadah sholat tarawih. Saat di jalan pulang, Salma bertanya kepada ibunya.

“Ma, kenapa, sih, kita harus sholat tarawih?” Salma bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Salma, salat tarawih adalah sholat sunnah yang hanya bisa kita temui di bulan Ramadhan. Jadi, rugi, kan, kalau kita tidak menunaikannya?” Ibunya menjawab dengan lembut.

“Wah, benar juga, ya, Ma. Kalau gitu kita harus sholat tarawih sampai akhir bulan puasa, ya, Ma?”

“Iya, dong. Kita harus mengusahakan untuk bisa menunaikan ibadah sholat tarawih sampai penuh, jangan bolong-bolong.”

“Oke, Ma.”

Mereka pun sampai di rumah dan mencuci tangan serta kaki dengan sabun karena mereka baru saja kembali dari tempat umum. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan mengaji bersama-sama.

Setelah mengaji, Salma pamit untuk tidur agar bisa bangun awal saat sahur.

Esoknya, pada pukul 03.00 dini hari, Salma dibangunkan oleh ibunya untuk segera sahur. Ternyata, ibunya sudah menyiapkan makanan untuk sahur di meja makan. Terdapat sayur asem, bakwan jagung, ikan goreng, dan teh hangat di atas meja.

“Terima kasih, ya, Ma. Makanannya enak sekali.” Salma menyantap nasi dan lauk dengan lahap.

“Iya, sama-sama. Setelah sahur jangan lanjut tidur, lho, Salma. Kita harus menunggu adzan subuh terlebih dulu, lalu kita sholat subuh bersama. Oke?”

“Siap, Bos!”

Mereka pun segera menghabiskan makanan dan minuman sebelum adzan subuh berkumandang. Setelah itu, ibunya menuntun Salma untuk membaca niat puasa Ramadhan.

Setelah membaca niat, Salma membantu ibunya untuk membereskan meja makan dan kemudian lanjut sholat subuh.

Itulah dongeng Hari Pertama Puasa Salma. Dongeng ini dapat orang tua ceritakan kepada anak-anak untuk memotivasi serta mengajarkan hal-hal apa yang perlu dilakukan saat berpuasa di bulan Ramadhan.

2. Hari Puasa Pertama Ahmad

Dongeng Anak Islami untuk Puasa - Sekolah Prestasi Global

Ahmad adalah seorang murid kelas 3 Sekolah Dasar. Hari ini adalah hari pertamanya ikut menjalankan puasa. Hampir semua murid di kelasnya juga berpuasa, kecuali satu orang, yaitu Christy.

Ketika teman-temannya mengetahuinya, Christy menimpali dengan, “Maaf, aku tidak ikut berpuasa. Agamaku, kan, berbeda dengan kalian. Kalian semangat ya puasanya!” Teman-temannya pun memahaminya.

Siang harinya, bel sekolah berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas dan ramai-ramai pulang bersama.

“Ya Allah, panas banget,” ujar Ahmad.

“Iya, panas banget. Laper juga,” balas salah satu temannya.

“Hei, memangnya kamu tidak sahur ya tadi pagi?” Ahmad bertanya.

“Aku sekeluarga telat sahur. Kami baru bangun saat adzan subuh berkumandang,” jawab temannya dengan lemas.

“Wah, lain kali kamu harus sahur, dong. Coba kamu pasang alarm agar tidak kesiangan. Kalau aku, sih, ada alarm di rumah, yaitu ibuku! Hehehe.”

“Iya, sepertinya aku perlu meminta tolong orang tuaku untuk memasang alarm agar tidak kesiangan lagi.”

Sesampainya di rumah, Ahmad tidak segera berganti baju. Ia lari ke dapur dan membuka pintu kulkas. Ahmad berdiri di depannya selama beberapa saat.

Tiba-tiba, kakaknya, Hamzah, memergoki Ahmad dan bertanya, “Hei, apa yang kamu lakukan, Mad?”

“Aku lagi ngadem, kak.”

“Ya Allah, Ahmad. Hahahaha. Yuk, ikut kakak aja! Kuajak kamu ke tempat yang beneran adem. Kelamaan di depan situ nanti kamu masuk angin, lho!”

Mereka berdua pun pergi menuju suatu tempat.

Sesampainya di sana, ternyata Kak Hamzah membawanya ke masjid. Di sana, mereka mengisi waktu siang dengan kegiatan positif yaitu membaca Al-Qur’an bersama.

Tidak terasa, tiba-tiba adzan ashar berkumandang. Mereka akhirnya sholat berjamaah di masjid. Setelah itu, mereka kembali pulang.

Di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba Kak Hamzah memiliki ide.

“Mad, ikut kakak ngabuburit, yuk! Kita beli takjil di Pasar Rakyat.” Kak Hamzah berujar dengan penuh semangat.

“Wah, yuk!” Ahmad menjawab dengan penuh semangat.

Akhirnya, mereka pun berjalan menuju Pasar Rakyat. Mereka membeli takjil berupa es degan, angsle, dan pisang goreng.

Sesampainya di rumah, Ibu menyambut mereka dengan senang. “Wah, habis beli takjil, ya?”

“Iya, Bu.”

“Oke, sekarang kita tunggu adzan maghrib, ya!”

Waktu maghrib pun tiba. Terdengar suara adzan berkumandang dari masjid daerah rumah Ahmad.

“Alhamdulillah. Yuk, kita berbuka puasa,” ajak Ibu.

“Yuk, yuk!” Ahmad membalas ajakan Ibu dengan penuh semangat.

“Wah, hari ini kamu berhasil puasa sehari penuh, ya, Mad? Keren banget adiknya kakak.” Kak Hamzah mengapresiasi Ahmad.

“Hehehe iya, dong! Alhamdulillah. Meskipun tadi sempat khilaf bentar pas buka kulkas. Untung ada kakak yang ngajak aku ke masjid.”

“Alhamdulillah, Ibu bangga sama Ahmad. Semoga bisa puasa penuh sampai akhir bulan Ramadhan ya, Nak.”

Itulah pengalaman hari pertama puasa Ahmad.

Dari cerita ini, orang tua dapat mengajari anak untuk berpuasa. Selain itu, orang tua juga dapat memberi pelajaran kepada anak bahwa puasa tidak hanya berarti menahan haus dan lapar saja, tapi juga melatih kesabaran dan menjaga hawa nafsu.

3. Kisah Seekor Keledai yang Gemar Mengeluh

Pada suatu ketika, hiduplah seekor keledai yang suka mengeluh. Setiap hari dilaluinya dengan penuh keluhan.

Si keledai merupakan hewan yang dipekerjakan seorang petani untuk membawa sayur mayur dan buah-buahan hasil panen ke pasar.

“Aku benci bangun pagi. Bahkan lebih pagi dibanding ayam jago. Aku, kan, juga ingin bangun siang. Apalagi aku harus mengantar sayur dan buah setiap hari ke pasar!” Si keledai memulai keluhannya.

Mendengar keluhan si keledai, si petani marah dan menjualnya kepada seorang pedagang kulit binatang. Si keledai pun mendapat pekerjaan baru sebagai pengangkut kulit binatang yang akan dijual ke pasar.

“Aku benci sekali pekerjaan ini. Kulit-kulit binatang itu sangat bau. Oh, seandainya aku bisa kembali bekerja untuk si petani.”

Mendengar keluhan si keledai, si pedagang kulit marah dan menjualnya kepada seorang penambang batu bara. Si keledai pun dipekerjakan sebagai pengangkut batu bara. Ia harus bekerja di tambang yang gelap dan kotor. Jam kerjanya pun semakin panjang, dari pagi sampai sore.

“Duh, aku capek sekali. Tambang ini gelap dan kotor. Ah, kuharap aku bisa kembali bekerja kepada si pedagang kulit. Pekerjaan yang ini membuatku lelah,” keluhnya.

Akibat sering mengeluh dan tidak pernah bersyukur, si keledai pun berakhir mendapat pekerjaan yang tidak lebih baik dari sebelumnya.

Dari kisah si keledai, pesan moral yang dapat diambil adalah jangan mudah mengeluh dan teruslah merasa cukup. Syukurilah nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan lakukan yang sedang kamu lakukan semaksimal mungkin.

Kesimpulan

Mengisi bulan Ramadhan bisa dengan melakukan kegiatan positif, salah satunya dengan mendongeng. Dengan memilih dongeng yang tepat, orang tua dapat menanamkan nilai-nilai moral serta motivasi kepada anak-anak. Selain itu, orang tua juga dapat sekaligus mengajarkan anak-anaknya untuk berpuasa.

Cerita dongeng anak di atas dapat menjadi referensi bacaan Anda ketika ingin mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan mendongeng bersama anak-anak.

Baca Juga : 10 Cara Mengajarkan Anak Kebersihan Lingkungan

Apa yang orangtua dapat dari hari puasa pertama Ahmad?

orang tua dapat mengajari anak untuk berpuasa. Selain itu, orang tua juga dapat memberi pelajaran kepada anak bahwa puasa tidak hanya berarti menahan haus dan lapar saja, tapi juga melatih kesabaran dan menjaga hawa nafsu.

Apa pesan moral yang dapat di ambil dari kisah seekor keledai yang gemar mengeluh?

Jangan mudah mengeluh dan teruslah merasa cukup. Syukurilah nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan lakukan yang sedang kamu lakukan semaksimal mungkin.

Bagaimana cara orang tua mengisi bulan ramadhan dengan kegiatan positif?

Salah satu caranya adalah dengan memilih dongeng yang tepat, orang tua dapat menanamkan nilai-nilai moral serta motivasi kepada anak-anak. Selain itu, orang tua juga dapat sekaligus mengajarkan anak-anaknya untuk berpuasa.

 

(Visited 95 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us