Setiap orangtua tentu ingin anaknya termotivasi untuk belajar, memanfaatkan peluang, dan mencoba hal-hal baru dan menarik. Tetapi tak semua remaja ingin meninggalkan zona nyaman mereka, atau mungkin tidak berani mengambil risiko karena ia merasa masih muda untuk melakukan banyak hal.

Cara Memotivasi Anak Remaja Meraih Impian Mereka

6 Cara Meningkatkan Motivasi Remaja Untuk Mencapai Impiannya - Prestasi GlobalPhoto By LightFieldStudios on Envato 

Di tengah era pasca-modern ini, peluang untuk mencapai mimpi-mimpi seseorang sangatlah besar. Namun, peluang untuk hanyut di “sisi gelap”-nya yang penuh kenyamanannya pun besar. Lantas, bagaimana cara mendidik anak remaja agar bisa menemukan dan meraih impian mereka di masa ini?

Yuk, kita bahas bersama-sama.

1. Pahami Karakteristik Masa Remaja

Dalam Islam, masa remaja biasa disebut dengan istilah syabab, yang berlangsung dari mulai akil baligh hingga umur 40 tahun.

Seorang syabab memiliki tanggungan sebagai mukallaf. Yakni, tanggungan untuk menjalankan syariat dan menanggung konsekuensi berupa dosa maupun pahala.

Ini berbeda dengan istilah “remaja” dalam disiplin psikologi perkembangan, yang biasanya dibagi ke beberapa tahap dari mulai remaja hingga dewasa awal.

Dalam disiplin tersebut, seorang remaja biasanya identik dengan emosi yang mulai meluap, serta kecenderungan untuk melakukan rebellion dan mencoba banyak hal. Pun, di dalamnya tidak ada konsep mukallaf.

Sehingga, remaja biasanya diperlakukan seperti seorang “anak yang besar”, yang dimanja dan difasilitasi tiap keinginannya, tanpa begitu peduli apakah ia sesuai dengan syariat atau tidak. Karena, mereka diharapkan bertanggung jawab penuh-nya kelak ketika dewasa.

Orang tua pun pastinya familiar dengan ungkapan “nggak apa-apa nakal juga, masih muda ini.”

Padahal, masa remaja dalam Islam adalah masa menanam sekaligus menuai. Ia adalah masa keemasan untuk menuntut ilmu dan meraih amalan-amalan besar.

Dahulu di masa keemasan Islam, para remaja berkiprah dengan prestasi yang tidak main-main.

Salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Usamah bin Zaid, misalnya, memimpin ekspedisi perang para sahabat melawan Romawi Timur saat umurnya masih 18 tahun.

Dahulu, para ulama pun biasa selesai menghapal Al-Qur’an saat umur mereka masih di bawah 10 tahun.

Ibnu Hajar al-Asqalani, seorang ulama besar yang lahir di abad ke-8 Hijriah, telah mengimami shalat tarawih di Masjidil Haram saat umurnya masih 12 tahun. Setara dengan anak kelas 6 SD, jika di masa kita sekarang.

Memang, masa remaja adalah masa penuh gejolak. Oleh karena itu dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwasanya Allah kagum pada remaja yang tumbuh dalam ketaatan pada-Nya tanpa penyimpangan (yang biasa ada di kalangan remaja).

Jadi, Islam pun tidak memungkiri bahwa masa tersebut adalah masa yang volatile dan penuh lika-liku. Namun, Islam pun memberi bimbingan agar orang tua bisa mendidik remaja tersebut agar tumbuh dalam koridor Islam.

Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua untuk memotivasi anak remaja kita?

Pertama, kita harus mengubah mindset kita tentang remaja. Jangan lagi berpikir bahwa remaja adalah “anak-anak besar” yang hanya senang main, bergaul, dan mencoba banyak hal.

Tanamkan diri kita bahwa remaja adalah masa yang penuh potensi, bahwa anak-anak kita bisa menjadi orang-orang hebat yang bermanfaat untuk umat.

Juga, bahwa mereka adalah mukallaf yang bertanggung jawab untuk menjalankan syariat, yang terikat hukum halal dan haram. Sehingga, kita tidak bisa membiarkan mereka “mencicipi” semua hal duniawi tanpa batasan.

Jangan biarkan motivasi anak kita hanya sebatas motivasi remaja pada umumnya, seperti ingin populer atau menarik perhatian lawan jenis.

Berkenaan poin ini, kami sangat menyarankan anda untuk membaca buku dari Syaikh Musthofa Al-Adawi tentang pendidikan anak, yang sudah diterjemahkan oleh Pustaka Ibnu Katsir dengan judul “Anakku! Sudah Tepatkah Pendidikannya?”

2. Motivasi Sejati Berasal Dari Hati

Jika kita berbicara soal motivasi, maka yang muncul di pikiran tentunya tidak jauh dari makna berikut: Keinginan kuat untuk melakukan sesuatu.

Pertanyaannya, dari mana keinginan tersebut muncul?

Motivasi muncul dari adanya motif/sebab. Dalam Islam, kata lainnya adalah niat. Niat ini kemudian menggerakkan anggota tubuhnya untuk mencapai apa pun yang ia tuju.

Maka, makna dari “motivasi” itu bukan sekedar menyemangati anak remaja untuk melakukan sesuatu. Atau, untuk mengejar “passion”-nya.

Lebih dari itu, lebih tepat jika dikatakan bahwa memotivasi adalah upaya untuk menanamkan niat-niat mulia pada anak, yang kemudian akan memberinya energi dan menggerakkan anggota tubuhnya untuk mencapainya.

Adapun motivasi yang bersifat eksternal, seperti hadiah dan semacamnya, tidak akan menetap sempurna di hati anak.

Apakah anak kita masih akan semangat melakukan pekerjaannya, ketika motivasi eksternal itu hilang?

Adapun motivasi yang berasal dari hati, tidak akan goyah meskipun tidak ada hadiah atau penghargaan yang ia terima. Bahkan, ia akan berperan sebagai api semangat yang terus menyala di tengah situasi-situasi sulit.

Lalu bagaimana caranya untuk “memotivasi dari hati”?

Caranya adalah dengan berusaha untuk menanamkan tujuan-tujuan mulia pada hati anak.

Bicarakanlah dengannya visi-visi yang besar dan mulia. Bacakanlah padanya kisah-kisah orang terdahulu yang hebat, yang tetap tegar untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Berikanlah ia buku tentang akhirat dan surga, yang akan menjadi tujuan paling utama baginya. Kemudian, bimbinglah ia untuk menyusun visi hidup agar bisa mencapainya.

Bantulah pula ia untuk menempelkan niat-niat positif pada kegiatan sehari-harinya. Misalnya, belajar atau bersekolah dengan niat agar bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi umat.

Terakhir, tanamkan pula agar tetap tegar dan sabar dalam upaya mencapainya, karena semua hal yang mulia tidaklah mudah untuk digapai.

Sesekali, kita juga bisa memberi “motivasi eksternal” seperti pujian atau hadiah. Namun, jadikanlah upaya-upaya membangun “motivasi dari hati” ini sebagai prioritas utama.

3. Jangan Paksa Ikan Untuk Terbang

Di suatu kesempatan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda bahwa antara seorang muslim dengan muslim lainnya itu saling menyokong seperti sebuah bangunan.

Dalam sebuah bangunan, tentu ada banyak bahan yang menjadi penyusunnya. Dari mulai semen, pasir, batu, hingga keramik dan kaca.

Kaca yang mengkilap itu indah, tapi ia tidak bisa menahan beban berat bumi sebagai pondasi.

Di sisi lain, pasir yang kasar pun tidak bisa dimanfaatkan untuk berkaca. Namun, ia bisa mengisi celah-celah kosong dan menguatkan bahan-bahan yang lain.

Setiap bahan memiliki karakteristik dan fungsinya masing-masing, yang tidak bisa dijalankan oleh selainnya. Jika tidak bisa memaksa suatu bahan untuk mengambil fungsi yang lainnya.

Sebagaimana sebuah peribahasa yang terkenal, “jangan paksa ikan untuk terbang.”

Dari permisalan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa setiap orang itu memiliki potensi dan karakteristiknya masing-masing. Namun meski berbeda-beda, mereka tetap saling menyokong dalam balutan keumatan dan Islam.

Sebagai orang tua, tentunya kita punya visi tersendiri tentang anak yang ideal. Kita tentunya ingin anak kita jadi “orang”.

Namun, terkadang kita membebankan visi tersebut pada anak kita, tanpa mempertimbangkan potensi, minat, dan bakatnya.

Keluarga yang mayoritasnya dokter, misalnya, biasanya ingin agar anaknya pun turut menjadi dokter. Begitu juga dengan yang keluarganya berprofesi sebagai polisi, tentara, pengacara, dan sebagainya.

Memiliki keinginan seperti itu tentunya tidak salah. Bahkan, jika ternyata sesuai dengan potensi anak, hal ini akan sangat bermanfaat. Karena, anak bisa lebih mudah untuk mencapainya dengan support dari keluarga.

Tetapi, yang paling penting adalah kita berusaha memahami anak kita dan membimbingnya untuk mengeluarkan potensi terbaiknya.

Bagaimana caranya? Kita akan bahas di poin selanjutnya.

4. Lakukan Tes Minat dan Bakat

Sun Tzu, seorang ahli strategi perang dari dataran Cina Kuno, pernah mengemukakan sebagai berikut:

“Jika engkau mengenal musuhmu sekaligus dirimu sendiri, maka seratus pertempuran pun takkan merisaukanmu.

Jika engkau mengenal dirimu tapi tidak mengenal musuhmu, maka bagi setiap satu kemenangan kau akan menderita satu kekalahan.

Adapun jika engkau tidak mengenal baik musuh maupun dirimu sendiri, kau akan kalah di setiap pertempuran.”

Sebelum berangkat ke medan perang, hal terpenting yang harus anda ketahui adalah kapasitas diri terlebih dahulu.

Kita harus paham betul skill, kekuatan, logistik, dan tingkat motivasi dari pasukan. Setelahnya, baru kita mempelajari musuh dan segala karakteristiknya.

Dengan kedua informasi ini, kita akan bisa menyusun strategi yang tepat untuk bisa menang di setiap pertempuran.

Sebagaimana perang, begitu juga dengan peran kita sebagai orang tua.

Seringkali, kita terlalu fokus dengan “musuh” berupa ujian, jurusan-jurusan favorit, dan perlombaan-perlombaan.

Sedangkan, kita lalai dari memahami “tentara” kita sendiri, yaitu anak-anak kita.

Sebagaimana telah kita bahas di poin sebelumnya, setiap anak itu berbeda. Mereka memiliki “dunia” dan potensinya masing-masing. Tugas kita adalah membimbing mereka untuk memaksimalkannya.

Bagaimana cara mengenalnya?

Pertama, tentunya dengan mengamati keseharian dan perkembangannya sebagai orang tua yang terus membersamainya.

Perhatikanlah kecenderungan, minat, dan bakat-bakatnya, baik yang kentara maupun yang tersembunyi.

Perhatikan ke mana ia mengarahkan perhatiannya di waktu luangnya. Apakah ia mengambil buku dan membacanya sampai habis? Atau justru keluar rumah untuk menjelajah?

Semua ini bisa jadi pertanda mengenai karakteristik khas anak anda.

Setelah itu, ikutkan pula anak remaja anda ke beragam tes minat dan bakat yang ada.

Ikutkanlah ia di tes IQ untuk mengetahui kapasitas intelektualnya, serta tes-tes lain yang didukung oleh keilmuan dan riset sehingga akurasinya bisa anda percaya.

Dengan mengikuti tes-tes ini, anda pun akan lebih tenang dan tidak gelisah ketika anak anda nampaknya “terlambat” di mata-mata pelajaran tertentu.

Karena, mungkin memang minat dan bakatnya bukan di mata pelajaran tersebut, namun di yang lainnya.

Setelah mengetahui dengan pasti karakteristik khas dari anak kita, barulah kita beranjak ke upaya-upaya untuk meningkatkan motivasi dalam dirinya.

5. Berkonsultasi Dengan Ahlinya

Islam adalah agama yang ilmiah dan senantiasa menjaga akal, ilmu, serta bangunan-bangunannya.

Oleh karena itu, Islam mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu, dan untuk senantiasa merujuk pada ahli ilmu.

Sebagaimana dalam sebuah ayat yang masyhur, Allah berfirman:

فَسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika engkau tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya: 7)

Dalam perkara remaja ini, maka tentunya anda bisa berkonsultasi dengan para ahli psikologi perkembangan, terutama yang bercorak Islam dalam keilmuannya.

Anda pun bisa berkonsultasi dengan para asatidzah yang terpercaya, karena Islam telah meletakkan dasar-dasar pendidikan anak dalam Al-Qur’an, Hadits, dan penjelasan para sahabat serta ulama.

Bawalah serta hasil tes IQ, serta minat dan bakat dari anak remaja anda saat berkonsultasi.

Kemudian, mintalah bantuan mereka untuk merumuskan pendidikan serta pengajaran yang tepat bagi mereka.

Anda pun bisa memanfaatkan fasilitas mentoring atau bimbingan dan konseling (BK) yang tersedia di sekolah.

Di SMP Prestasi Global, kami menyediakan layanan mentoring ini sehingga anda bisa merumuskan roadmap perkembangan anak anda dengan lebih baik.

Selain itu, kami pun menyelenggarakan mentoring ini secara rutin, sehingga perkembangan anak anda dapat terpantau dengan baik.

6. Bangun situasi yang kondusif bagi perkembangannya

Motivasi yang baik bukanlah yang datang tiba-tiba, menyala terang, lalu kembali redup dan hilang.

Namun, motivasi yang baik adalah yang terbangun dari hati, dan diterjemahkan menjadi amalan-amalan yang istiqamah meskipun sedikit demi sedikit.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, bahwa amalan yang paling Allah cintai adalah amalan-amalan yang meski sedikit namun kontinyu.

Lalu, bagaimana caranya agar amalan dan motivasi tersebut bisa terjaga secara kontinyu?

Setelah anda mengetahui minat, bakat, dan potensi anak remaja anda, bangunlah situasi rumah dan lingkungan yang mendukungnya untuk memaksimalkannya.

Jika anak anda senang membaca dan meneliti, misalnya, mungkin anda bisa menyisihkan sebagian dari budget liburan untuk membelikannya buku-buku yang bermanfaat.

Atau, anda bisa membiayainya untuk mengikuti les-les yang bisa mengasah bakatnya.

Bantulah pula ia untuk menyusun rutinitas hariannya agar searah dengan potensi, minat, dan bakatnya.

Kesimpulan

6 Cara Meningkatkan Motivasi Remaja Untuk Mencapai Impiannya - Prestasi Global.Photo By insta_photos on Envato

Masa remaja adalah masa emas yang tidak akan terulang kembali. Di dalamnya terkumpul kekuatan, semangat, dan kapabilitas yang bisa anak anda manfaatkan untuk meraih impiannya.

Di kesempatan kali ini, kita telah membahas 6 tips berkenaan cara mendidik anak remaja yang bisa segera anda praktekkan. Dengan senang hati, kami pun mengundang anda untuk membaca bahasan lain dari kami di situs ini.

Baca Juga : Mengetahui Karakter Anak Berdasarkan Warna Favoritnya

Bagaimana mengetahui minat dan bakat anak ?

Pertama, tentunya dengan mengamati keseharian dan perkembangannya sebagai orang tua yang terus membersamainya. Perhatikanlah kecenderungan, minat, dan bakat-bakatnya, baik yang kentara maupun yang tersembunyi. Perhatikan ke mana ia mengarahkan perhatiannya di waktu luangnya. Apakah ia mengambil buku dan membacanya sampai habis? Atau justru keluar rumah untuk menjelajah? Semua ini bisa jadi pertanda mengenai karakteristik khas anak anda. Setelah itu, ikutkan pula anak remaja anda ke beragam tes minat dan bakat yang ada. Ikutkanlah ia di tes IQ untuk mengetahui kapasitas intelektualnya, serta tes-tes lain yang didukung oleh keilmuan dan riset sehingga akurasinya bisa anda percaya. Dengan mengikuti tes-tes ini, anda pun akan lebih tenang dan tidak gelisah ketika anak anda nampaknya “terlambat” di mata-mata pelajaran tertentu. Karena, mungkin memang minat dan bakatnya bukan di mata pelajaran tersebut, namun di yang lainnya. Setelah mengetahui dengan pasti karakteristik khas dari anak kita, barulah kita beranjak ke upaya-upaya untuk meningkatkan motivasi dalam dirinya.

Sebagaimana sebuah peribahasa yang terkenal, “jangan paksa ikan untuk terbang.” Dari permisalan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa setiap orang itu memiliki potensi dan karakteristiknya masing-masing. Namun meski berbeda-beda, mereka tetap saling menyokong dalam balutan keumatan dan Islam. Sebagai orang tua, tentunya kita punya visi tersendiri tentang anak yang ideal. Kita tentunya ingin anak kita jadi “orang”. Namun, terkadang kita membebankan visi tersebut pada anak kita, tanpa mempertimbangkan potensi, minat, dan bakatnya. Keluarga yang mayoritasnya dokter, misalnya, biasanya ingin agar anaknya pun turut menjadi dokter. Begitu juga dengan yang keluarganya berprofesi sebagai polisi, tentara, pengacara, dan sebagainya. Memiliki keinginan seperti itu tentunya tidak salah. Bahkan, jika ternyata sesuai dengan potensi anak, hal ini akan sangat bermanfaat. Karena, anak bisa lebih mudah untuk mencapainya dengan support dari keluarga. Tetapi, yang paling penting adalah kita berusaha memahami anak kita dan membimbingnya untuk mengeluarkan potensi terbaiknya.

Sebagai orang tua bagaimana cara kita memotivasi anak yang sudah remaja ?

Pertama, kita harus mengubah mindset kita tentang remaja. Jangan lagi berpikir bahwa remaja adalah “anak-anak besar” yang hanya senang main, bergaul, dan mencoba banyak hal. Tanamkan diri kita bahwa remaja adalah masa yang penuh potensi, bahwa anak-anak kita bisa menjadi orang-orang hebat yang bermanfaat untuk umat. Juga, bahwa mereka adalah mukallaf yang bertanggung jawab untuk menjalankan syariat, yang terikat hukum halal dan haram. Sehingga, kita tidak bisa membiarkan mereka “mencicipi” semua hal duniawi tanpa batasan. Jangan biarkan motivasi anak kita hanya sebatas motivasi remaja pada umumnya, seperti ingin populer atau menarik perhatian lawan jenis. Berkenaan poin ini, kami sangat menyarankan anda untuk membaca buku dari Syaikh Musthofa Al-Adawi tentang pendidikan anak, yang sudah diterjemahkan oleh Pustaka Ibnu Katsir dengan judul “Anakku! Sudah Tepatkah Pendidikannya?”