Bagikan Artikel Ini:

Tidak sama dengan membeli alat elektronik, kelahiran seorang bayi ke dunia tidak disertai buku manual. Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda-beda, namun dalam pengasuhan anak laki-laki memang memerlukan strategi tertentu.
Inilah sebabnya orangtua perlu memperluas wawasan mereka dengan mengikuti seminar parenting atau membaca buku yang ditulis para ahli.
Pria mempunyai struktur otak yang berbeda dengan wanita, yaitu mempunyai fungsi mekanis yang lebih besar dan fungsi emosional verbal lebih kecil. Inilah alasannya memori spasial anak laki-laki berkembang lebih cepat dibandingkan perempuan.
Jadi tidak perlu heran jika pria lebih tangkas membaca peta, mengingat bentuk, atau mengidentifikasi luas serta jarak.

 

Ini Bedanya Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional

Anda tentu sering mendengar bahwa dalam pola pengasuhan anak sangat penting untuk mengupayakan keseimbangan kecerdasan intelektual (IQ) dan emosional (EQ) mereka.
Yang dimaksud dengan kecerdasan intelektual adalah keterampilan mengembangkan nalarnya serta menemukan solusi secara logis dan matematis. Kecerdasan intelektual juga berkaitan dengan kemampuan mempertahankan memori, pemrosesan spasial dan visual, wawasan, dan akademik.
Sedangkan kecerdasan emosional berhubungan dengan perasaan dan emosi, yaitu keterampilan untuk mengerti, mengontrol, mengevaluasi, dan mengekspresikan diri.
Kemampuan untuk merasakan emosi orang lain, berinteraksi secara ideal, memiliki empati, serta komunikasi sosial juga termasuk dalam kecerdasan emosi.
Secara umum dapat disimpulkan jika kecerdasan intelektual berhubungan dengan logika, sementara kecerdasan emosional berkaitan dengan emosi.
Dalam pembentukan IQ faktor paling besar yang berperan adalah genetik atau bawaan lahir. Meski begitu kecerdasan intelektual dapat dioptimalkan dengan mengupayakan dukungan dari faktor lingkungan, misalnya diperoleh dari proses belajar.
Sedangkan EQ dapat dipelajari, dipertajam, serta diperkuat terutama dengan pengasuhan anak usia dini yang benar. Inilah yang disebut pendidikan karakter yang bisa diterapkan dengan memberi teladan yang baik.Selain itu orang tua juga perlu menstimulasi anak untuk menumbuhkan empati dan kepekaan terhadap perasaan orang lain.

Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional - Sekolah Prestasi Global

Referensi Parenting: Begini Cara Mendidik Anak Laki-Laki Menjadi Pria Sejati

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya struktur otak anak laki-laki menumbuhkan kecenderungan untuk mengesampingkan unsur emosi dalam dirinya.
Untuk membantu mengembangkan kecerdasan emosional, namun tanpa melupakan untuk menunjang perkembangan kecerdasan intelektual inilah beberapa panduan parenting yang dapat dicoba.

 

Mempertajam pemikiran kritis

Ada cara untuk membuat putera Anda belajar namun tanpa disadarinya. Metode ini disebut STEAM atau Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika. Cara menerapkannya adalah dengan belajar secara langsung atau praktek serta kinestetik. Anda dapat mencobanya di kehidupan sehari-hari bersama buah hati.
Ini misalnya dengan melibatkan diri dalam kegiatan anak, contohnya bermain, membiasakan si kecil untuk tidak takut bertanya, dan berpikir kreatif. Yang tidak kalah penting lagi adalah mengajarkan anak problem solving atau menemukan cara menuntaskan masalah dengan baik.
Anak juga perlu didengar keinginan dan idenya dalam proses pembelajaran, misalnya bagaimana mereka ingin belajar, ide untuk belajar, dan goal belajar tersebut. Sebagai orang tua Anda tetap perlu mengarahkan dengan menunjukkan alternatif lain yang lebih ideal.

 

Menggunakan gambar dan teknologi dalam proses belajar

Karena keunikan struktur otaknya, anak-anak lelaki akan lebih mudah memahami suatu hal yang diterangkan dengan gambar, grafik, atau teknologi. Terkait gadget, penggunaan perangkat canggih ini pada anak laki-laki dan perempuan juga bertolak belakang.
Bagi lelaki, terutama pada fase usia anak-anak dan remaja, fungsi utama gadget adalah untuk bermain game. Sementara pada anak perempuan lebih kepada penggunaan media sosial. Kecanduan gadget pada laki-laki bisa dipicu salah satunya oleh kehidupan sosialnya yang tidak terlalu menarik.
Pengakuan dan penerimaan yang mungkin tidak diperoleh di dunia nyata bisa memicu anak “melarikan diri” ke dunia maya. Ini karena dirinya lebih mudah memperoleh teman dan follower berjumlah banyak.
Dalam mendidik anak laki-laki usia remaja di zaman modern ini, orang tua juga perlu waspada terhadap dampak teknologi ini.

 

Mengajarkan Olahraga

Manfaat olahraga sebenarnya lebih besar dibandingkan hanya sekedar untuk menjaga kebugaran. Dengan berolahraga anak laki-laki bisa belajar mengenai sportivitas, misalnya saat berlaga dengan anak lain sebayanya.
Sejak dini orang tua perlu menumbuhkan kesadaran bahwa dalam hidup ini menang dan kalah akan datang silih berganti.
Salah satu caranya adalah dengan mendorong anak untuk mengucapkan selamat kepada pemenang lomba yang merupakan pesaingnya. Menurut Stanford Children’s Health, sportivitas yang diajarkan sedini mungkin akan memberikan dampak yang positif saat si Kecil dewasa nanti.
Yang termasuk dalam sikap tersebut adalah percaya diri untuk menang tanpa bersikap arogan, dapat menghormati orang lain. Dengan sportivitas anak akan mampu menerima kekalahan tanpa menyalahkan dirinya sendiri, tim, atau lawan selama semua berjalan sebagaimana mestinya.
Mengikutsertakan anak dalam kompetisi juga baik untuk melatih mereka bekerjasama dalam tim dan berkompetisi dengan sehat.

olahraga - Sekolah Prestasi Global

 

Mengajarkan cara berkomunikasi dengan baik

Dalam hal komunikasi dan hubungan sosial kemampuan anak perempuan seringkali berkembang lebih baik dibandingkan laki-laki. Padahal kemampuan berkomunikasi yang baik adalah dasar yang penting dalam interaksi antar manusia.
Kesulitan berkomunikasi akan menghambat anak dalam hubungan sosial termasuk ambisi karir mereka.
Tantangan orang tua dalam mendidik anak laki-laki di era teknologi sebagaimana saat ini menjadi semakin besar. Livestrong.com menyatakan bahwa salah satu pemicu utama semakin banyak remaja yang kurang terampil berkomunikasi adalah teknologi. Ini karena kelaziman saling berkirim pesan pendek yang semakin mengikis waktu untuk bertatap muka langsung.
Kian banyak remaja yang menghabiskan waktunya di depan layar laptop atau smartphone dibandingkan pergi keluar dan bergaul seperti generasi terdahulu.
Untuk mencegah dan mengatasi hal tersebut caranya adalah memberi batasan waktu dalam mengakses teknologi. Selain itu orang tua juga harus menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan buah hati.
Dengan begitu anak bisa belajar keterampilan berkomunikasi yang baik dengan percakapan-percakapan wajar dalam keseharian baik bersama orang tua atau saudara-saudaranya.
Selain komunikasi verbal, Anda juga perlu mengajarkan pola komunikasi non verbal kepada anak, misalnya dengan memuji, tersenyum, mengajukan pertanyaan, dan sebagainya. Kemampuan-kemampuan demikian ini hanya dapat dikuasai anak dan dibawa hingga usia dewasanya dengan pembiasaan sejak dini.

 

Mengajarkan tentang rasa hormat

Mengajarkan tentang rasa hormat - Sekolah Prestasi Global

Remaja atau pria yang bertabiat buruk kerap mendapat pemakluman dengan stereotip “boys will be boys”. Padahal ini adalah pemahaman yang keliru! Salah satu pola pengasuhan anak dalam keluarga yang terpenting adalah berperilaku baik dan menghormati orang lain terutama orang tua dan wanita.
Anak laki-laki harus menyadari sejak usia dini bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara agar mereka tidak terjebak dalam maskulinitas palsu. Mengembangkan perasaan menghargai lawan jenis akan membuat pria kecil Anda menjadi pasangan yang baik di masa depan.
Materi pola asuh anak demikian ini juga bisa menjadi kontribusi orang tua dan keluarga dalam melawan tindak pelecehan seksual atau KDRT. Fakta miris yang selama ini terjadi 85% korban KDRT adalah wanita. Inilah alasannya sejak dini laki-laki harus memahami bahwa kekerasan terhadap orang lain tidak dapat diterima, terutama terhadap lawan jenisnya.
Ayah mempunyai peran penting terkait hal ini! Anak akan sulit menerima nasehat untuk bersikap baik terhadap wanita, jika dia kerap melihat sang Ayah berteriak, menghina, dan bersikap kasar kepada ibunya.

 

Mengajarkan kesopanan, norma sosial, dan etika umum

Parenting, pola asuh anak yang bisa dibilang berkelanjutan adalah mengenai kesopanan, tata krama, dan norma sosial umum. Cara untuk membentuk buah hati Anda menjadi pria dewasa yang santun adalah dengan pembiasaan sedini mungkin.
Ini dapat diterapkan dengan membiasakan mereka mengucapkan tolong dan terima kasih. Anak-anak juga perlu belajar tata-krama di meja makan, misalnya mengunyah dengan mulut tertutup, menggunakan peralatan makan dengan benar, dan sejenisnya.
Berdasarkan study.com, seseorang yang memiliki sopan santun dan etika yang baik berpeluang lebih besar mendapatkan promosi dalam pekerjaannya. Mereka yang dapat mempertahankan perilaku baik di tengah-tengah kondisi sulit juga lebih mampu menavigasi tugasnya dengan baik dan meraih kesuksesan.

 

Mendorong anak mempunyai panutan yang baik

Jika penasaran dengan apa saja teknik pengasuhan anak yang baik di zaman sekarang ini, salah satunya adalah “mencarikan” panutan untuk mereka. Di usia dini biasanya pusat dunia anak adalah orang tuanya dan ini seharusnya memotivasi Anda untuk menampilkan versi terbaik.
Seorang anak  laki-laki dapat mempelajari kasih, kesabaran, dan kehangatan dari ibunya. Sementara dari Ayah dia akan belajar kepemimpinan, kekuatan, tekad, dan ambisi, namun tanpa kehilangan kasih sayang dan sensitivitas terutama kepada keluarga.
Melihat seorang ibu sebagai sosok wanita yang tangguh namun dilimpahi cinta dari pasangannya akan membuat putera Anda memahami kesetaraan. Hal ini sangat penting mengingat stereotip tentang gender masih menancap kuat secara kultur di berbagai tempat.
Dalam pola pengasuhan anak laki-laki zaman sekarang salah satu kelebihannya adalah keberadaan cukup banyak panutan selain orang tua. Ini misalnya atlet olahraga, publik figure, hingga tokoh fiksi yang dapat merepresentasikan karakter baik. Mereka ini dapat menjadi model bagi si Kecil untuk menjadi pria sejati.

Tetap terkoneksi dengan anak

Orang tua tidak perlu ragu untuk tetap dekat dengan putera-putera Anda berapapun usia mereka, terutama bagi ibu. Memang wajar jika menjelang usia remaja, anak-anak cenderung mengesampingkan orang tua dan keluarga untuk mencari jati diri dan penerimaan.
Pahami hal ini misalnya dengan tidak mengekspresikan kasih sayang Anda secara terbuka agar anak tidak merasa malu.
Walaupun terlihat tangguh di luar, para remaja secara sembunyi-sembunyi menikmati limpahan kasih sayang orang tua di rumah. Orang tua perlu mempertahankan interaksi sehat dengan membuka dialog bersama anak walaupun tidak semua keputusannya sesuai keinginan Anda.
Hindari sikap mendikte, walaupun Anda perlu bersiap-siap untuk selalu memberikan saran terbaik. Sekali waktu Anda perlu memperlakukannya sebagai orang dewasa yang setara dengan orang tuanya.
Yang dikatakan metode pengasuhan anak paling baik dan tepat memang tidak ada karena setiap anak membawa keunikannya masing-masing. Membesarkan seorang anak laki-laki bukanlah tugas yang mudah apalagi menjadikannya pria sejati.
Semua upaya ini membutuhkan pengorbanan, tenaga, waktu, dan terutama cinta serta kesabaran.
Pola pengasuhan adalah proses belajar yang tidak ada habisnya bagi orangtua dan yang bisa Anda lakukan adalah memperdalam ilmu dan wawasan. Syukurlah di zaman sekarang sumber informasi yang dapat diakses sangat melimpah dan Anda dapat memilih sumber-sumber kredibel untuk itu.
Demikianlah beberapa panduan parenting yang berkaitan dengan pengasuhan bagi anak laki-laki. Semoga dapat menjadi referensi yang bermanfaat!

Bedanya Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional

-kecerdasan intelektual adalah keterampilan mengembangkan nalarnya serta menemukan solusi secara logis dan matematis. Kecerdasan intelektual juga berkaitan dengan kemampuan mempertahankan memori, pemrosesan spasial dan visual, wawasan, dan akademik. -emosional berhubungan dengan perasaan dan emosi, yaitu keterampilan untuk mengerti, mengontrol, mengevaluasi, dan mengekspresikan diri. Kemampuan untuk merasakan emosi orang lain, berinteraksi secara ideal, memiliki empati, serta komunikasi sosial juga termasuk dalam kecerdasan emosi.

BeginiBagamaina Cara Mendidik Anak Laki-Laki Menjadi Pria Sejati

-Mempertajam pemikiran kritis -Menggunakan gambar dan teknologi dalam proses belajar -Mengajarkan Olahraga -Mengajarkan kesopanan, norma sosial, dan etika umum

Bagaimana Cara Mengajarkan Anak berkomunikasi dengan baik

Untuk mencegah dan mengatasi hal tersebut caranya adalah memberi batasan waktu dalam mengakses teknologi. Selain itu orang tua juga harus menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan buah hati.

 

 

 

 

(Visited 22 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us