Bagikan Artikel Ini:

Bagi Si Kecil, mengajarkan toilet training adalah sebuah tahapan belajar yang cukup penting. Meskipun terdengar mudah, namun ternyata hal ini memerlukan tahapan yang benar agar mendapatkan hasil yang sempurna.

Salah mendidik mengenai hal ini ternyata dapat menimbulkan efek samping yang dapat berpengaruh pada anak Anda.

Ada waktu yang pas dan optimal untuk membimbing Si Kecil dalam tahapan-tahapan toilet training.

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan toilet training pada anak?

Pada artikel ini, kami akan membahas secara lengkap semua hal yang berkaitan dengan cara melatih toilet training untuk buah hati Anda.

 

Apa itu Toilet Training?

Sejak anak kita bayi hingga usia tiga atau empat tahun, kita sebagai orang tua akan memilih pampers atau popok untuk menampung kotoran Si Kecil. Tapi tentu saja, menggunakan pampers bukan alternatif yang bisa terus kita pakai.

Seiring bertumbuhnya buah hati kita, penggunaan pampers ini akan berkurang. Karena semakin lama, anak kita akan merasa tidak nyaman ketika memakai pampers.

Peran Anda sebagai orang tua yang akan mengenalkan toilet training pada anak-anak Anda.

Perlu Anda ketahui, toilet training adalah sebuah proses melatih anak-anak agar dapat buang air kecil dan buang air besar secara mandiri sebagaimana yang biasa orang dewasa lakukan.

 

Mengapa Toilet Training itu Penting?

Walaupun saat ini banyak kebutuhan yang dapat kita miliki dengan mudah, bukan berarti semua hal tersebut tidak memiliki dampak yang negatif.

Penggunaan pampers contohnya. Jika buah hati Anda menggunakan pampers dalam jangka waktu yang lama dan berlebihan, maka tumbuh kembang Si Kecil akan terganggu baik secara fisik maupun psikologis.

Selain menyebabkan kulit gatal-gatal bahkan lecet, menggunakan pampers secara berlebihan akan mempengaruhi dengan cara anak kita berjalan (mengangkang).

Jika terbiasa menggunakan pampers, anak Anda akan kesulitan dalam menahan keinginannya untuk buang air kecil maupun besar.

Belum lagi jika anak yang tidak terbiasa dalam mengatur keinginannya dalam buang air kecil akan memiliki sikap manja yang lebih menonjol.

Dengan membimbing buah hati mengikuti proses toilet training, maka anak-anak kita akan menumbuhkan rasa disiplin untuk selalu buang air di tempat yang sudah tersedia yaitu toilet.

Tahapan belajar ini akan mengasah rasa tanggung jawab dan sikap mandiri anak-anak kita.

 

Memahami Tanda Kesiapan Anak Sebelum Belajar Toilet Training

Setiap buah hati akan mengalami proses tumbuh kembang yang berbeda satu sama lain. Karena itulah patokan usia anak kita tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran kesiapan seorang anak untuk belajar toilet training.

Memahami Tanda Kesiapan Anak Sebelum Belajar Toilet Training-PresgoPhoto by Henley design studio on Unsplash

Secara umum, proses belajar toilet training dapat Anda ajarkan pada buah hati Anda sejak usia 1.5 – 3 tahun.

Selain itu, orang tua harus selalu dapat memahami perkembangan dari kesiapan anak-anaknya sebelum mengajarkan proses toilet training.

Ini adalah beberapa tanda fisik yang menunjukkan bahwa anak Anda sudah siap menjalani toilet training:

  • Pampers yang tetap kering setelah pemakaian cukup lama
  • Tidak buang air besar di pampers pada malam hari
  • Buang air besar dengan konsisten di waktu yang sama setiap harinya
  • Anak sudah mahir untuk mengganti pakaian dan celananya sendiri.
  • Anak sudah bisa menunjukkan ekspresinya ketika sedang atau akan buang air kecil dan besar

Adapun hal-hal berikut ini menunjukkan bahwa seorang anak sudah memiliki kematangan emosional dalam menerima proses belajar toilet training:

  • Anak merasa tidak nyaman pada saat pampersnya sudah penuh dan akan memberi isyarat pada orang tua untuk menggantinya
  • Anak dapat berkomunikasi baik melalui isyarat atau ucapan tentang keperluannya di toilet
  • Seorang anak akan lebih bersemangat menggunakan celana daripada pampers
  • Bersembunyi atau bahkan kabur ketika sedang dan ingin buang air

Hal yang harus selalu Anda ingat adalah, walaupun semua poin di atas sudah terpenuhi, bukan berarti hal ini menunjukkan tanda anak siap untuk toilet training.

Ada beberapa anak yang sudah memenuhi kriteria di atas tapi tetap belum siap untuk belajar toilet training. Biasanya mereka akan merespon dengan kata penolakan atau menggelengkan kepalanya.

Apabila ini terjadi dengan buah hati Anda, segera konsultasikan dengan dokter anak untuk meminta saran dan nasihat terkait perkembangannya.

Selain itu, penting untuk Anda ingat agar jangan terlalu kaku dalam mendidik anak mengenai proses ini. Ini berarti, Anda tidak boleh mengajarkan dengan paksa dan meminta anak Anda agar segera menguasai semua proses belajar toilet training.

Tekanan semacam ini dapat membuat anak-anak stress dan malah akan memperlambat kesiapannya dalam melepas pampers.

 

Tahapan Mengajarkan Toilet Training

Membimbing anak Anda dalam proses belajar toilet training bukanlah hal yang gampang, adakalanya mereka tidak mau mendengar saat kita akan ajarkan suatu hal.

Karena itu, untuk menarik minat anak Anda dalam mengikuti proses belajar toilet training ini. Berikut ada beberapa tahapan yang dapat Anda coba:

· Perkenalkan Dasar Kebersihan

Ajaklah anak Anda berbincang ketika sedang mandi, lalu jelaskan tentang arti dari buang air kecil dan buang air besar. Gunakan bahasa yang ringan agar mereka memahami maksud dan tujuan yang Anda sampaikan.

Ajarkan dengan mudah, bahwa urine dan feses itu harus dibuang pada tempat yang sudah tersedia yaitu toilet.

· Memberitahu Fungsi Toilet

Setelah memberi pemahaman singkat mengenai kebersihan dalam buang air, tahap berikutnya adalah mengenalkan fungsi toilet. Jelaskan dengan mudah bagian-bagian yang ada pada toilet.

Kita dapat mengalihkan perhatiannya agar tidak bosan dengan berbincang sambil bermain air dengan begitu, ia pun akan antusias mendengarkan penjelasan kita.

· Memberi Contoh Pada Anak

Langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah memberi contoh sekaligus mempraktikkan cara menggunakan toilet kepada anak Anda.

Anak-anak sangat suka meniru sekitarnya. Mereka sangat cerdas, apapun yang terlihat dapat mereka tiru dengan mudah. Memanfaatkan kecerdasan mereka dengan memberi pemahaman seputar kebersihan bukanlah hal yang buruk.

Anda dapat memberitahukan bagaimana caranya untuk membersihkan bokongnya setelah buang air besar, menyiram toilet menggunakan tombol flush, lalu tak lupa untuk selalu mengajarkan mereka mencuci tangan.

 

Tips Agar Anak Konsisten Setelah Toilet Training

Jika anda sudah melatih buah hati Anda untuk toilet training, langkah selanjutnya tentu dengan mengawasi dan membimbing anak Anda agar konsisten mempraktikkan apa yang telah mereka pahami.

Beberapa tips ini dapat Anda jadikan panduan agar hasil dari toilet training Anda bersama anak Anda mendapatkan hasil yang memuaskan.

Tips agar Anak Konsisten Setelah Toilet Training-PresgoPhoto by Henley design studio on unsplash

· Menjadikan Sebuah Kebiasaan

Tips ini memerlukan ketekunan dan konsistensi agar dapat meraih hasil yang baik. Ketika anak Anda pergi ke toilet, mulailah untuk menjadikan ini sebagai sebuah kebiasaan yang Anda lakukan bersama buah hati.

Sebagai contohnya, Anda dapat mengajak buah hati Anda untuk pergi ke toilet setiap mereka habis bermain atau dalam periode tertentu, misalnya 90 menit sekali.

Jika Anda konsisten melakukan hal ini, lama-kelamaan anak Anda secara perlahan akan memahami pentingnya proses buang air di toilet. Jika sudah begini, maka mereka akan buang air secara mandiri.

Dan ingat, selalu berikan apresiasi, pujian dan ucapan terimakasih atas kedisiplinannya selama mengikuti proses belajar bersama Anda. Ini penting untuk Anda lakukan agar rasa percaya diri mereka meningkat di kemudian hari.

· Tidak Menggunakan Pampers di Rumah

Pengalaman melatih toilet training merupakan momen yang cukup menantang bagi para orang tua, selain karena memerlukan kesabaran yang ekstra, Anda juga dituntut agar memiliki kepekaan yang tinggi.

Terkadang anak-anak akan kesulitan menahan rasa ingin buang air kecilnya, sehingga urinnya akan berceceran di lantai.

Di sinilah peran Anda sebagai orang tua yang cerdas untuk menyiasatinya, jangan berada terlalu jauh dengan toilet ketika praktik ini sedang berlangsung. Cobalah bermain di tempat yang dekat dengan toilet. Sehingga ketika rasa kebelet datang ia tak akan kesulitan untuk menahannya terlalu lama.

· Menciptakan Suasana yang Menyenangkan

Dunia anak adalah dunia bermain, mereka akan antusias ketika belajar segala sesuatunya dengan cara yang mengasyikkan dan menyenangkan.

Tak terkecuali dengan proses belajar toilet training ini, Anda dapat menciptakan suasana yang mengasyikkan bagi buah hati ketika sedang mengajarkan toilet training.

Cara yang mudah adalah, Anda dapat membawa mainan kesayangan anak Anda untuk menemaninya agar tidak merasa bosan.

Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah dengan mencari dudukan toilet yang tepat untuk buah hati Anda. Ada banyak pilihan dudukan toilet menarik yang bisa Anda dapatkan, seperti yang berbentuk karakter kartun, hewan, hingga kendaraan.

Berikan atensi penuh padanya selama proses belajar toilet training ini berjalan. Jika anak Anda terlihat tidak nyaman, segera cari tahu penyebab dan solusinya.

· Ajari Rasa Tanggung Jawab

Jika anak Anda melakukan kesalahan seperti mengompol dalam proses belajar ini, berikan pemahaman kepadanya dengan bahasa yang mudah mereka pahami, dorong anak Anda untuk bertanggung jawab agar segera membersihkan dirinya lalu gunakan celana secara mandiri.

Secara perlahan, buah hati Anda akan memahami arti dari tanggung jawab. Dan bukan tidak mungkin jika selanjutnya ia akan lebih memilih untuk buang air di toilet daripada di sembarang tempat.

 

Tidak Perlu Terburu-buru, Nikmati Prosesnya

Toilet training adalah sebuah proses mengajarkan pada anak bagaimana cara untuk buang air dengan baik dan benar sesuai dengan tempatnya.

Proses ini penting untuk berjalan secara konsisten hingga berhasil untuk menghindari dampak negatif menggunakan pampers terlalu lama.

Sebelum memulai belajar toilet training bersama buah hati Anda, pahami tanda kesiapan fisik dan emosional yang mereka miliki. Jika tanda-tanda itu sudah terpenuhi pun Anda juga harus merespon jawaban Si Kecil akan kesiapannya dalam belajar.

Ingat, jangan memaksa buah hati Anda ketika mengajarkan mereka tentang proses dari toilet training. Hal ini bisa menyebabkan mereka stress dan akan menunda proses belajarnya.

Setelah mengajarkan anak toilet training, lakukan beberapa tips ini agar anak konsisten mempraktikkan pelajarannya:

  • Menjadikan proses buang air di toilet sebuah rutinitas
  • Melepas celana atau pampers saat di rumah agar anak terbiasa pergi ke toilet secara langsung ketika ingin buang air
  • Menciptakan lingkungan dan mood yang menyenangkan ketika beraktivitas di toilet, seperti membawa mainan kesayangan anak, mengganti dudukan toilet dengan karakter lucu dan bermain air bersama
  • Menanamkan rasa tanggung jawab pada buah hati agar mereka terbiasa untuk disiplin

Jika Anda sudah memahami bahwa mengajarkan toilet training adalah sebuah proses yang memerlukan ketekunan dan kesabaran, maka tetap bimbing dan pantau perkembangan buah hati agar semua hal yang sudah mereka pahami dapat berjalan dengan baik.

Baca juga : 10 Cara Mengajarkan Kebersihan Badan Saat Pra-Remaja

1. Apa itu toilet training?

Toilet training adalah sebuah proses melatih anak-anak agar dapat buang air kecil dan buang air besar secara mandiri sebagaimana yang biasa orang dewasa lakukan.

2. Mengapa toilet traninig itu penting?

Dengan membimbing buah hati mengikuti proses toilet training, maka anak-anak kita akan menumbuhkan rasa disiplin untuk selalu buang air di tempat yang sudah tersedia yaitu toilet.

3. Bagaimana cara memahami tanda kesiapan anak sebelum belajar toilet training?

Tidak buang air besar di pampers pada malam hari, buang air besar dengan konsisten di waktu yang sama setiap harinya, anak sudah mahir untuk mengganti pakaian dan celananya sendiri, anak sudah bisa menunjukkan ekspresinya ketika sedang atau akan buang air kecil dan besar

(Visited 1 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us