Bagikan Artikel Ini:

Dewasa ini, zaman berkembang begitu cepat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pun terjadi dengan pesat. Sebagai khalifah di muka bumi, adalah tugas semua orang untuk menyambut, mengawal dan memanfaatkan kemajuan ini demi keberlangsungan hidup.

Kemajuan zaman juga berjalan selaras dengan meningkatnya kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Demi mencapai tujuan itu, perlu adanya perencanaan yang baik untuk menyiapkan generasi mendatang yang matang secara intelektual, emosional dan spiritual.

Sebagai orangtua, tentunya Anda ingin menyiapkan yang terbaik untuk sang buah hati. Terutama di usia dini, yang merupakan periode krusial bagi tumbuh kembang anak. Nilai yang Anda tanamkan pada anak di periode tersebut akan menjadi bibit yang akan berkembang seiring waktu dan menjadi penentu karakter anak Anda.

 

Pentingnya Perkembangan Karakter pada Anak Usia Dini

Sistem Among - Sistem Among dan Penerapan Model Pembelajaran Role Playing - Sekolah Prestasi Global

Faktanya, kemampuan kognitif anak terus mengalami perkembangan sejak awal kehidupannya hingga anak menyentuh kursi sekolah menengah. Dr. Masganti Sit, M.Ag menjabarkan hal ini dalam buku Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini yang ia tulis.

Di bukunya, Dr.Masganti menyebutkan bahwa 50% perkembangan kognitif pada anak terjadi saat berusia 0-4 tahun. Periode ini terkenal dengan sebutan periode keemasan atau golden age. Setelah itu, perkembangan akan mencapai 80% saat anak berusia 8 tahun dan 100% saat mencapai usia 18 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan yang paling signifikan ada pada usia dini dan usia sekolah. Di rentang usia ini, anak tidak hanya mengalami perkembangan secara fisik, namun juga psikis. Perkembangan fisik anak ditandai dengan perkembangan sel otak dan organ tubuh, serta perkembangan kemampuan motorik. Sementara itu, dari sisi psikis, anak mengalami peningkatan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Oleh sebab itu, perkembangan anak pada rentang usia ini harus menjadi perhatian, karena nilai yang Anda tanamkan pada saat itu akan menjadi gerbang penentu karakter anak saat ia dewasa nanti.

 

Peran Sekolah terhadap Perkembangan Anak

Sistem Among - Sistem Among dan Penerapan Model Pembelajaran Role Playing - Sekolah Prestasi Global

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pendidikan yang berkualitas pada anak, terutama di usia dini dan di usia sekolah, memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan intelektual dan karakter anak di masa mendatang.

Saat ini para ahli mengetahu bahwa terdapat dua aspek yang berperan dalam proses belajar anak. Aspek yang pertama adalah aspek nature atau faktor bawaan yang anak anda miliki sejak kelahirannya. Setelah itu, ada aspek nurture alias binaan dari pihak eksternal seperti keluarga atau lingkungan sekitar sang anak.

Sekolah memiliki peran penting dalam memupuk aspek nurture. Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah sudah memiliki kurikulum pembelajaran yang berfungsi untuk merangsang anak dalam proses pengembangan diriTidak hanya itu, anak juga memiliki kesempatan meningkatkan kemampuan interpersonal melalui proses interaksi dengan orang yang lebih tua maupun teman sebayanya. Hal ini membuat anak memiliki pondasi moral dan sosial yang kuat.

Minimnya perhatian pada kualitas pendidikan bisa berdampak pada lambatnya laju perkembangan intelektual dan karakter sang anak. Imbasnya, anak bisa mengalami kesulitan memaksimalkan potensi diri hingga kesulitan memenuhi tuntutan perkembangan zaman.

 

Peran Guru dan Metode Pembelajaran Teacher-Based

Guru adalah orangtua kedua. Kata-kata itu menunjukkan betapa pentingnya peran seorang guru sebagai sosok pendidik yang meneruskan harapan orangtua dalam hal pengembangan potensi sang anak.

Tidak hanya dari segi pemahaman terhadap ilmu, guru juga harus memiliki pemahaman terhadap metode pembelajaran yang tepat. Tujuannya tidak hanya agar anak memahami materi, melainkan juga agar anak dapat menghubungkan berbagai informasi serta memiliki pemikiran yang kritis.

Sayangnya, masih banyak guru yang hanya menggunakan model pembelajaran teacher-based atau guru-sentris dalam kegiatan mengajar. Model pembelajaran ini menitikberatkan pada kegiatan guru yang ‘menceritakan’ isi materi secara verbal sembari meminta murid mencatat.

 

Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Teacher-Based

Dunia pendidikan sudah menerapkan metode teacher-based dalam sejak lama. Bisa jadi, generasi Anda atau orangtua Anda juga mengalaminya. Kebiasaan inilah yang mempersulit para pendidik untuk mengubahnya metode pembelajaran menjadi lebih relevan.

Meski begitu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat tentunya menghasilkan generasi dengan persepsi yang berbeda. Meski sudah mengakar, metode teacher-based tidak lagi sepenuhnya efektif dan mampu menjadi metode pembelajaran yang sesuai dengan generasi saat ini.

Maka dari itu, guru berperan untuk membekali anak dengan pengetahuan yang sesuai dengan konteks kehidupan yang akan dihadapi nantinya.

Terlansir dalam beberapa jurnal, metode pembelajaran teacher-Based memiliki beberapa kekurangan yang bisa berimbas buruk pada perkembangan anak nantinya. Berikut penjelasannya:

 

1. Anak Menjadi Pasif

Metode Teacher-Based menjadikan guru sebagai pendominasi materi. Pada metode ini, guru menyampaikan materi melalui penjelasan verbal, lalu anak melanjutkan dengan mencatat atau menjawab pertanyaan guru tanpa terlibat secara aktif dalam proses berpikir. Hal ini membuat anak tidak berpartisipasi secara aktif dalam kelas. Sebagai ‘pihak penerima’, anak tidak menerima stimulasi yang memungkinkan mereka untuk mengaitkan informasi, memberi pendapat atau mencari solusi atas suatu permasalahan.

 

2. Anak Cepat Bosan di Sekolah

Salah satu persoalan dari metode ini adalah adanya potensi anak menjadi cepat bosan, atau bahkan mengantuk kala menerima materi. Hal ini berimbas pada turunnya konsentrasi saat menerima materi, dan berkurangnya pemahaman anak terhadap materi.

 

3. Berkurangnya Interaksi Anak di Sekolah

Salah satu indikasi berkembangnya kemampuan anak adalah peningkatan kemampuan interpersonal. Metode Teacher-Based tidak menggunakan sesi diskusi sehingga interaksi yang terjadi antara anak dengan guru dan teman sebayanya pun berkurang. Minimnya kemampuan interpersonal bisa membuat anak tumbuh menjadi sosok yang kurang empati, serta tidak bisa mengkomunikasikan pikirannya dengan baik.

 

4. Kurang Mampu Mencetak SDM Berkualitas

Perkembangan zaman saat ini menuntut setiap orang untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan dengan cepat. Maka dari itu, setiap orang perlu memiliki sikap yang gigih, kritis, inovatif serta memiliki pondasi spiritual yang kuat.

Sifat-sifat seperti itu tidak bisa terbentuk apabila anak tidak terbiasa melakukannya sejak dini. Maka dari itu, penting melakukan menyesuaikan metode pembelajaran agar anak bisa memiliki karakter yang bisa membantunya di masa mendatang.

 

Sistem Among Sebagai Solusi Permasalahan Pembelajaran di Sekolah

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Anda tentunya sudah pernah mendengar semboyan ini. Semboyan pendidikan ini merupakan hasil pemikiran sang Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara yang memiliki arti mendalam sekaligus menjadi panduan bagi para guru di Indonesia.

“Ing ngarso sung tulodo” berarti guru harus untuk berada di depan dan menjadi teladan. “Ing madyo mangun karso” berarti guru harus untuk berada di tengah membangun kemauan. “Tut wuri handayani” berarti guru harus mendorong dan memberi pengaruh baik ke arah kemandirian.

Buah pemikiran Ki Hajar Dewantara ini digunakan di Sekolah Taman Siswa yang beliau dirikan, serta menjadi perwujudan dari pelaksanaan sistem among. Kata ‘among’ merupakan cukilan dari kata ‘momong’, yang memiliki arti ‘mengasuh’, ‘membina’ atau ‘menuntun’. Selain itu, ada juga kata ‘pamong’, yang merujuk pada pihak yang memiliki keterampilan lebih.

Dalam konteks metode pembelajaran, sistem among merupakan metode pembelajaran yang menghindari segala bentuk ‘paksaan’ terhadap anak, melainkan memberi tuntunan agar anak bisa tumbuh dengan baik secara lahir dan batin serta sesuai dengan kodratnya.

Bertindak sesuai kodratnya berarti guru harus bisa memahami karakter anak, memperhatikan potensi masing-masing individu, serta memberikan ruang agar anak bisa mengekspresikan pikiran, perasaan dan perbuatannya secara bebas sambil terus membimbing anak ke arah yang baik.

 

Role Playing sebagai Perwujudan Sistem Among dalam Pembelajaran

Mengaplikasian sistem among berarti mempertimbangkan karakter serta kodrat anak dalam metode pembelajaran. Salah satu metode yang bisa guru gunakan adalah dengan menjalankan metode role playing.

Dalam model pembelajaran role playing, anak bisa merasakan menjadi berbagai macam peran sesuai dengan pembahasan materi yang sedang berlangsung. Guru bisa menerapkan metode ini secara spontan atau membuat project jangka panjang.

Metode ini menitikberatkan peran guru bukan sebagai pendominasi informasi, melainkan hanya sebagai pemberi informasi. Anak lah yang akan berperan besar dalam pengolahan dan pengimplementasian informasi tersebut untuk kemudian disampaikan dalam berbagai lakon yang menyenangkan.

 

Manfaat Metode Pembelajaran Role Playing

Bermain dan belajar terdengar seperti dua aktivitas yang memiliki kutub yang berlawanan. Metode role playing menawarkan solusi agar aktivitas belajar terasa lebih menyenangkan seperti layaknya sedang bermain. Berikut adalah berbagai manfaat role playing.

 

1. Mendorong Komunikasi Anak dengan Teman Sebaya dan Guru

Role playing merupakan metode pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu pihak. Metode ini memungkinkan anak memperhatikan cara berkomunikasi dengan guru, termasuk dalam proses pengarahan lakon. Selain itu, anak juga bisa menguatkan hubungan sosial dengan teman sebayanya seiring dengan proses belajar membagi tanggung jawab serta kerjasama.

 

2. Mendorong Anak untuk Melihat dari Berbagai Sudut Pandang

Metode role playing menekankan berubahnya peran anak dari murid menjadi tokoh yang berkaitan dengan materi yang sedang berlangsung. Proses memposisikan anak dalam berbagai sudut pandang mampu meningkatkan empati dan tenggang rasa dalam diri anak.

 

3. Mendorong Anak untuk Jadi Lebih Proaktif

Dalam metode role playing, anak memegang peranan paling besar dalam menentukan tindakannya sendiri. Proses mengemban tanggung jawab ini membuat anak lebih mandiri, serta terbiasa mengemukakan ide dan pendapat. Kemampuan verbal anak, terutama kosa kata dan struktur kata, semakin meningkat.

 

4. Daya Ingat Terhadap Materi Lebih Tahan Lama

Kegiatan role playing yang seringkali terasosiasi dengan kegiatan bermain membuat anak semakin mudah mengingat materi yang sedang berlangsung. Proses ini selaras dengan tujuan sistem among yang berupaya menghindari paksaan dalam proses belajar anak.

 

5. Menjadi Lebih Antusias

Anak adalah pembelajar yang hebat. Jika anak terbiasa dengan metode belajar yang menyenangkan, ia akan semakin antusias dalam prosesnya. Metode ini bisa meningkatkan motivasi belajar serta semangat menyambut materi lain yang akan datang.

 

Kesimpulan

Untuk mencetak generasi yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman, tidak cukup jika pendidikan dilakukan hanya dengan mengimplementasikan metode konvensional. Perubahan persepsi serta pergeseran budaya membuat perlu adanya metode lain yang lebih relevan namun tetap berkiblat pada nilai spiritual.

Metode sistem among yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara menjadi metode yang tepat karena anak tidak menerima unsur paksaan, melainkan menjalankan proses pembelajaran dengan menyenangkan melalui berbagai metode, salah satunya role playing.

Metode ini juga yang kami yakini di Sekolah Prestasi Global, dimana kami tidak menuntut siswa untuk menghafal materi, melainkan membentuk kebiasaan dan memberi pemahaman hingga siswa melakukan kewajibannya dengan sukarela. Dengan demikian, anak bisa unggul secara intelektual, emosional dan spiritual.

Sebutkan dua aspek yang berperan dalam proses belajar anak!

Aspek yang pertama adalah aspek nature atau faktor bawaan yang anak anda miliki sejak kelahirannya. Setelah itu, ada aspek nurture alias binaan dari pihak eksternal seperti keluarga atau lingkungan sekitar sang anak.

Apa yang dimaksud dengan Role Playing?

Role playing merupakan metode pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu pihak. Metode ini memungkinkan anak memperhatikan cara berkomunikasi dengan guru, termasuk dalam proses pengarahan lakon.

Apakah tujuan dari penerapan Sistem Among?

Penerapan Sistem Among berupaya menghindari paksaan dalam proses belajar anak.

(Visited 40 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us