Bagikan Artikel Ini:

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, seluruh umat muslim di dunia merayakan Idul Adha. Idul Adha artinya yaitu hari raya penyembelihan atau “Idul Nahr”, dan di Indonesia sering juga disebut sebagai Idul Qurban dan Hari Raya Haji.

Seperti namanya, hari raya ini identik dengan adanya ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban seperti kambing, sapi, serta domba. Para panitia pelaksana kemudian akan membagikan daging kurban tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan.

Adanya penyembelihan dan pembagian daging sembelihan tersebut tentu tidak lepas dari sejarah hari raya itu sendiri. Cerita sejarah Idul Adha dan tersebutlah yang menjadi landasan bagi umat muslim dunia untuk terus melaksanakannya hingga sekarang, sehingga makna dari Idul Adha ini tetap terjaga.

Karena telah berlangsung lama, akhirnya tercipta tradisi Idul Adha di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Di mana perayaan Idul Adha di Indonesia ini mengandung makna Idul Adha yang bisa menjadi pembelajaran bagi orang-orang yang mengikutinya.

Oleh karena itu, simak rangkuman sejarah Idul Adha hingga kegiatan Idul Adha yang ada di Indonesia pada pembahasan berikut ini!

 

Sejarah Idul Adha

Secara garis besar atau berdasarkan rangkuman sejarah Idul Adha pada umumnya,  Anda pasti mengetahui bahwa landasan dalam penetapan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah adalah karena kejadian penting yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Sejarah Idul Adha-presgoPhoto by Matiinu Ramadhan on Unsplash

Pada peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah SWT agar ia menyembelih putra kandungnya sendiri, yaitu Nabi Ismail AS. Beberapa urutan peristiwanya adalah sebagai berikut:

1. Pernyataan Nabi Ibrahim AS

Dapat dikatakan bahwa awal mulanya Allah menguji Nabi Ibrahim AS mengenai kurban ini didasari oleh pernyataannya sendiri. Nabi Ibrahim pernah mendapatkan pertanyaan oleh seseorang mengenai siapakah pemilik dari ternaknya yang banyak.

ia menjawab bahwa semua ternak itu kepunyaan Allah, namun saat pertanyaan itu datang, ternak tersebut masih miliknya. Maka ketika Allah menghendakinya kembali, maka Nabi Ibrahim AS akan menyerahkan semuanya lagi. Tidak hanya ternak, putranya Ismail akan ia serahkan apabila itulah kehendak Allah SWT.

Dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim, Ibnu Katsir menyampaikan bahwa pernyataan Nabi Ibrahim AS inilah yang akan menjadi ujian keimanannya.

2. Mimpi Nabi Ibrahim AS

Mimpi Nabi Ibrahim AS mulai menerima ujian tersebut melalui perantara mimpi. Karena merupakan utusan Allah untuk menyebarkan ajaran, ia mempercayai bahwa mimpinya adalah tanda atau petunjuk dari Allah SWT.

Pada mimpi tersebut, Nabi Ibrahim AS menyaksikan bahwa dirinya tengah melakukan penyembelihan terhadap putranya, Nabi Ismail AS. Melihat mimpi tersebut, ia merasakan keraguan karena harus mengorbankan putranya sendiri.

3. Nabi Ibrahim Menceritakan Mimpi dan Mulai Melaksanakan

Meskipun penuh keraguan, Nabi Ibrahim AS akhirnya menyampaikan mimpi tersebut kepada putranya. Hal ini tentu karena ketaatannya kepada Allah. Nabi Ismail AS yang mendengarkan kisah ayahnya akhirnya mengeluarkan pernyataan mengejutkan.

Nabi Ismail mengamini dan mengiyakan cerita ayahnya, sehingga dengan kerelaan hati ia menerima perintah Allah SWT untuk menyembelihnya. Lalu, tanggal 10 Dzulhijjah ditetapkan sebagai waktu untuk melaksanakan perintah Allah, yaitu menyembelih Nabi Ismail AS.

Pada tanggal 10 Dzulhijjah atau hari pelaksanaan, kaki dan tangan Nabi Ismail diikat, lalu dibaringkan di atas lantai.

4. Setan Datang Menggoda Nabi Ibrahim AS

Ketika hendak menyembelih Nabi Ismail AS, setan datang menggoda Nabi Ibrahim AS dengan membisikkan kata-kata sesat. Ia menghasut Nabi Ibrahim agar membatalkan niatnya dengan menyinggung-nyinggung sikapnya sebagai orang tua dan betapa sempurnanya Nabi Ismail AS sebagai seorang anak.

Meskipun mendapat godaan, Nabi Ibrahim yang telah bertekad kuat akhirnya mengambil batu dan melemparkannya kepada setan. Sambil melempar batu, ia meneriakkan kalimat “Bismillahi Allahu Akbar”.

Pelemparan batu terhadap setan inilah yang hingga saat ini menjadi salah satu rangkaian pelaksanaan Umrah, bernama lempar jumrah.

Setelah berhasil mengusir setan, Nabi Ibrahim AS dan putranya pergi ke sebuah tanah lapang. Ia juga sudah menyiapkan pedang yang terasah tajam, agar putranya tidak merasa kesakitan.

5. Kedatangan Malaikat Jibril

Ketika Nabi Ibrahim AS hendak menyembelih Nabi Ismail AS,  pedang yang telah terasah tajam selalu terpental sehingga menghalangi proses tersebut. Saat Nabi Ibrahim terus berupaya agar penyembelihan terjadi, Nabi Ismail akhirnya meminta semua ikatannya dilepaskan sebagai bentuk kepasrahannya kepada Allah SWT.

Kemudian tiba-tiba Malaikat Jibril datang menghampiri ayah dan anak tersebut, lalu menukar Nabi Ismail dengan hewan ternak, yaitu Qurban. Peristiwa inilah yang kemudian mendasari terjadinya Idul Adha atau Idul Qurban hingga saat ini.

 

Tradisi Idul Adha di Indonesia

Selain melaksanakan ibadah sesuai anjuran agama, pada momen perayaan Idul Adha juga ada tradisi-tradisi yang  telah berlangsung sejak lama untuk merayakan momen tersebut.  Selain berkumpul bersama keluarga besar dan bersilaturahmi dengan orang-orang sekitar, ada tradisi lain dari Indonesia yang patut Anda simak.

Tradisi Idul Adha di Indonesia-presgoPhoto by Alwi Hafizh A. on Unsplash

1. Tradisi Toron dari Madura

Tidak hanya ketika Idul Fitri seperti kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya, masyarakat Madura juga melakukan toron atau mudik pada momen Idul Adha.

Masyarakat yang akan melaksanakan toron akan pulang ke kampungnya masing-masing dengan membawa oleh-oleh untuk sanak keluarga yang menanti.

Setelah berada di tanah kelahiran, masyarakat akan saling bersilaturahmi dengan orang-orang terdekatnya. Kegiatan silaturahmi inilah yang menjadi puncak dari kegiatan dari toron.

Adanya tradisi ini adalah untuk tetap membuat ikatan sosial antara perantau dari Madura dengan tanah kelahirannya terjaga. Momen ini juga bisa menjadi ajang untuk kumpul keluarga dan momen berbagi.

2. Tradisi Grebeg Gunungan dari Yogyakarta

Yogyakarta yang terkenal dengan masyarakatnya yang terus melestarikan tradisinya, juga memiliki kebiasaan unik ketika momen Idul Adha ini. DIY selalu melakukan tradisi Grebeg Gunungan  dan menjadi salah satu momen yang mendapat perhatian dari masyarakat setempat maupun para turis.

Acara dari Keraton Yogyakarta bersama penduduknya ini berlangsung dengan melakukan arak-arakan terhadap tiga buah gunungan grebeg. Gunungan tersebut berisikan beraneka macam makanan. Ketika proses arak-arakan berlangsung, akan ada pengawalan dari prajurit keraton dan dua ekor kuda.

Area arakan berawal dari halaman keraton, kemudian melalui alun-alun utara. Terakhir, arak-arakan akan berhenti di masjid. Setelah proses doa selesai,  orang-orang yang hadir akan memperebutkan gunungan tersebut. Masyarakat Yogyakarta mempercayai isi grebegan dapat mendatangkan berkah bagi mereka.

3. Tradisi Mantenan Sapi dari Pasuruan

Tidak hanya proses penyembelihan hewan kurban yang melibatkan sapi, pada tradisi milik masyarakat Pasuruan sapi juga ikut terlibat sebagai pemeran utama dari acara. Masyarakat akan mendandani sapi yang akan menjadi hewan kurban. Ritual ini merupakan salah satu cara untuk menghormati hewan-hewan yang akan mereka sembelih.

Seperti pengantin pada prosesi pernikahan,  masyarakat akan merias sapi-sapi yang telah mandi supaya terlihat lebih menarik dan mengalungkan bunga tujuh rupa dan berbalut kain berwarna putih.

Setelah mendapatkan riasan, warga kemudian mengarak sapi-sapi tersebut hingga ke masjid. Setelah itu, mereka menyerahkan para pengantin ini kepada panitia kurban yang menunggu.

Tidak hanya sapi yang memeriahkan acara ini, para perempuan juga turut serta dengan membawa beraneka macam peralatan masak dan bumbu dapur untuk persiapan kegiatan memasak bersama.

Ketika berkunjung ke Pasuruan saat momen Idul Adha, Anda dapat menjadikan acara mantenan sapi sebagai salah satu sarana mendapatkan hiburan.

4. Tradisi Meugang Aceh

Daerah yang mendapat julukan Serambi Mekah ini juga punya tradisi tersendiri ketika Idul Qurban yang bernama Meugang. Pada tradisi ini, masyarakat akan memasak daging hewan kurban dan menikmatinya bersama keluarga serta para anak yatim piatu.

Tradisi yang merupakan warisan Sultan Iskandar Muda ini telah ada sejak ratusan tahun lampau dan dapat mendatangkan kebahagiaan bagi masyarakat sekaligus sebagai sarana untuk meningkatkan solidaritas antar masyarakat Aceh.

5. Tradisi Kaul Negeri dan Abda’u dari Maluku

Untuk menjaga hubungan persaudaraan antara setiap masyarakat Maluku, tradisi ini masih berlangsung hingga sekarang. Setelah usai melaksanakan shalat, para pemuka agama dari Maluku akan menggendong kambing-kambing kurban. Kambing tersebut berbalut kain putih dan kemudian digendong seperti bayi.

Arak-arakan ini akan mengelilingi rumah-rumah penduduk hingga berhenti setelah bertemu dengan panitia kurban. Selama arak-arakan orang-orang yang hadir akan  melantunkan dzikir dan shalawat.

Setelah prosesi penyembelihan selesai, para fakir miskin dan orang yang membutuhkan akan menerima daging sembelihan tersebut.

6. Tradisi Apitan dari Jawa Tengah

Beberapa daerah Jawa Tengan selalu merayakan tradisi Apitan ketika menyambut perayaan Idul Adha. Nama lainnya antara lain Sedekah Bumi Apitan dan Tradisi Merti Bumi.

Pada pelaksanaannya, tumpeng hasil bumi milik masyarakat akan diarak di jalanan. Setelah prosesi selesai, para masyarakat akan berusaha untuk mengambil hasil bumi tersebut.

Baca juga : 10 Amalan Sunnah di Hari Idul Adha Sesuai Anjuran Rasulullah

Tradisi ini juga memiliki makna tersendiri, yaitu sebagai ungkapan rasa syukur terhadap rezeki dan anugerah yang mereka dapatkan dari Yang Maha Kuasa. Hingga saat ini kegiatan tersebut pun masih terus dilestarikan oleh masyarakat.

7. Tradisi Accera Kalompoang dari Gowa

Setelah Hari Raya Idul Adha selesai, masyarakat dari Gowa, Sulawesi Selatan akan melaksanakan tradisi Kalompoang. Prosesi ini cukup unik dan berbeda dengan jenis perayaan dari daerah lain. Hal ini karena pada acara tersebut, orang-orang yang terlibat akan melakukan proses pencucian benda pusaka dari Kerajaan Gowa.

8. Tradisi Gamelan Sekaten dari Surakarta

Tradisi ini dulunya juga merupakan salah satu media untuk menyebarkan agama islam oleh para Wali Songo. Sehingga pada momen perayaan Idul Fitri, Idul Adha, serta Maulid Nabi, Anda dapat menemukannya pada daerah Surakarta.

Pemain Gamelan Sekaten akan memainkannya setelah shalat Idul Adha, sekaligus serentak dengan masyarakat yang menonton sambil mengunyah sirih. Kegiatan ini tujuannya untuk menunjukkan pengharapan agar mereka diberikan kesehatan dan umur yang panjang.

Tidak hanya Indonesia, kaum muslim berbagai negara juga ikut merayakan Idul Adha dengan tradisi masing-masing. Beberapa negara yang ikut memiliki tradisi Idul Adha antara lain Turki, Cina, Maroko, serta Mesir.

1. Apa yang menjadi landasan dalam penetapan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah?

karena kejadian penting yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Pada peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah SWT agar ia menyembelih putra kandungnya sendiri, yaitu Nabi Ismail AS.

2. Bagimana sikap Nabi Ismail AS ketika mendegarkan penyampaian mimpi ayahnya?

Nabi Ismail mengamini dan mengiyakan cerita ayahnya, sehingga dengan kerelaan hati ia menerima perintah Allah SWT untuk menyembelihnya.

3. Siapa yang datang meghampiri Nabi Ibrahim ketika akan menyembelih Nabi Ismail AS?

Malaikat Jibril datang menghampiri ayah dan anak tersebut, lalu menukar Nabi Ismail dengan hewan ternak, yaitu Qurban.

(Visited 27 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us