Bagikan Artikel Ini:

Kesuksesan seorang siswa merupakan kebahagiaan bagi setiap orang tua dan pengajar. Karena itu, motode pembelajaran bagi para siswa terus dikembangkan dan disempurnakan. Bagi Anda yang tertarik dengan proses belajar yang lebih menyenangkan, Anda bisa mencoba metode discovery learning.

Para pengajar acap kali mengalami kesulitan ketika melakukan proses belajar dan mengajar. Kendala yang ada biasanya adalah siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi belajar.

Metode discovery learning sebenarnya merupakan pembelajaran yang mengharuskan siswa dan pengajar untuk sama-sama aktif, agar proses belajar mengajar menjadi semakin baik. Dengan metode ini, siswa bisa belajar secara mandiri, aktif, dan eksploratif.

Apa Itu Discovery Learning?

Discovery LearningPhoto by Santi Vedrí on Unsplash

Jerome Bruner yang berasal dari Amerika merupakan tokoh pertama yang menemukan metode belajar ini. Temuan Bruner ini adalah hal baru yang membuat banyak profesional lain mulai meneliti dan mengembangkannya.

Metode ini berfokus untuk menggunakan seluruh kemampuan para siswa dalam mencari dan menyelidiki setiap materi dari pengajar. Para siswa harus bisa berpikir secara sistematis, kritis, dan logis agar mereka dapat memahami pengetahuan dan keterampilan secara utuh.

Jika metode pembelajaran lainnya hanya berfokus kepada pengajar, discovery learning memiliki fokus kepada para siswa. Proses mencari dan menyelidiki akan memberikan pengalaman langsung dan menjadi pelajaran karena siswa dapat memahami sebuah proses. Bukan hanya tentang hasil.

Dengan begitu metode pembelajaran ini akan membuat siswa untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Dan para siswa diharapkan dapat memaksimalkan potensi diri dengan proses pendidikan ini.

Pendapat Para Ahli Tentang Discovery Learning

discovery-based learningPhoto by Robert Collins on Unsplash

Setelah Jerome Bruner menemukan metode ini, banyak para ahli yang mengembangan metode pembelajaran ini. Berikut beberapa pendapat para ahli.

1. Arends

Richard I. Arends adalah seorang Profesor dan Dekan di Universitas Negeri Connecticut, USA. Beliau berpendapat bahwa pembelajaran pemahaman ini berpusat kepada peserta didik untuk memberikan pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan.

Model metode ini membimbing siswa untuk bisa menyampaikan pemikirannya tentang topik yang sedang ia pelajari.

2. M. Hosnan

Dalam jurnalnya tentang discovery learning, Hosnan menjelaskan bahwa model pembelajaran ini merupakan metode belajar yang aktif. Pasalnya, siswa akan mencari, menyelidiki, dan juga memikirkan hasil dari hal tersebut secara mandiri.

3. Ruseffendi

Selanjutnya, Ruseffendi menyampaikan bahwa metode ini sudah mengatur proses belajar agar siswa dapat mengetahui sebuah ilmu yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Maksudnya, mereka yang menemukan hal baru, baik sebagian atau seluruhnya.

4. Asmui

Baginya, discovery learning mengusung konsep siswa yang aktif dengan cara menemukan sesuatu sendiri. Dengan proses penyelidikan, hasil yang siswa peroleh akan lebih lama tersimpan di dalam memori. Siswa tidak akan dengan mudah melupakan temuannya.

5. Kurniasih, dkk.

Risetnya menyebutkan bahwa metode belajar ini akan berhasil apabila proses pemberian ilmu tidak siswa terima dalam bentuk final. Akan tetapi, siswa harus bisa melakukan riset terlebih dahulu untuk bisa menemukan maksud atau konsep.

Hal tersebut juga harus menggunakan data dan informasi yang siswa peroleh dari proses penyelidikan.

Tujuan Discovery Learning

Semua pengembangan metode pembelajaran pasti memiliki tujuan, tak terkecuali dengan discovery learning. Berikut beberapa tujuan metode discovery learning untuk pendidikan siswa.

1. Membuat Siswa Menjadi Lebih Aktif

Dalam metode belajar penemuan, siswa berkesempatan untuk aktif dalam kegiatan belajar. Maksudnya, siswa tidak hanya menerima apa yang guru berikan. Tapi siswa juga dapat melakukan eksplorasi untuk menambah pemahamannya. Siswa aktif pastinya akan membuat belajar menjadi menyenangkan.

2. Eksplorasi dan Menemukan Sesuatu

Hasil dari aktifnya siswa adalah mereka dapat menemukan sesuatu. Dengan begitu, mereka bisa mempelajari suatu hal atau kondisi yang mungkin sedikit abstrak. Selain itu, siswa dapat membuat rumusan masalah dan juga solusinya sendiri.

Pada akhirnya, metode ini akan menghasilkan siswa yang mampu berpikir sistematis, ilmiah, dan kritis untuk bisa menyelesaikan suatu permasalahan.

3. Melatih Siswa Kerja Sama

Siswa yang belajar dengan metode ini akan mempelajari cara bersosialisasi. Mereka akan berdiskusi dengan teman sebayanya, membagi informasi, dan mendengarkan ide-ide dari temannya untuk menyelesaikan masalah.

Jenis Metode Pembelajaran Discovery

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebenarnya sudah mendukung metode pembelajaran discovery learning. Dalam peraturan Mendikbud No. 22 tahun 2016, standar proses untuk metode pembelajaran ini terbagi menjadi tiga model.

1. Learning Model Melalui Penyelidikan atau Penemuan

Metode pembelajaran ini bermaksud agar siswa dapat memahami konsep atau suatu hubungan melalui proses intuitif. Caranya adalah dengan melibatkan para siswa untuk melakukan observasi, klasifikasi, prediksi, dan penentuan suatu masalah dan hasil.

2. Learning Model Berdasarkan Masalah

Pembelajaran berbasis masalah atau discovery-based learning bertujuan untuk membuat siswa menghasilkan suatu konsep. Konsep tersebut mereka buat berdasarkan cara para siswa memecahkan suatu permasalahan.

3. Learning Model Berdasarkan Proyek

Project-based learning memiliki tujuan untuk mengembangan penilaian suatu proyek yang memiliki basis pembelajaran penemuan.

Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning

Sama halnya dengan metode pembelajaran lainnya, discovery learning juga memiliki tahapan atau proses dari kegiatan belajar yang akan siswa lakukan. Maka di bawah ini terdapat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan metode tersebut.

1. Memberikan Stimulus bagi Para Siswa

Stimulus yang bisa Anda berikan kepada para siswa adalah dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka. Pertanyaan yang Anda tujukan akan mengarahkan para siswa untuk memecahkan suatu masalah. Anda juga bisa menganjurkannya untuk membaca terlebih dahulu sebelum memulai kelas.

Tujuan fase ini adalah untuk membangun rasa penasaran dan keingintahuan terhadap suatu masalah. Dengan begitu, siswa akan bersemangat untuk mencari tahu jawaban atas sebuah permasalahan.

2. Membuat Siswa Melakukan Identifikasi Masalah

Metode belajar ini bertujuan untuk membuat siswa yang mampu berpikir kritis. Maka dari itu, Anda bisa memberikan kesempatan bagi para siswa untuk memberikan pendapatnya dengan melakukan analisis dan mengidentifikasi sebuah masalah.

3. Mengajak Siswa Menghimpun Data

Setelah siswa memberikan analisis sementara, ajak siswa untuk menghimpun data atau informasi sebanyak-banyaknya. Tujuannya adalah untuk menjadi bahan pembuktian apakah analisis yang mereka lakukan sudah benar atau belum.

Sumbernya juga bermacam-macam. Bisa dengan membaca buku, tulisan di internet, mengamati, atau melakukan eksperimen.

4. Mengolah Data dan Informasi

Jika siswa sudah berhasil mengumpulkan informasi yang relevan, waktunya bagi mereka untuk mengolah data. Caranya bisa dengan melakukan wawancara dan berdiskusi agar data tersebut bisa divalidasi.

5. Pembuktian Hipotesa

Setelah data tersebut dianggap valid, Anda dan siswa harus melakukan pemeriksaan terhadap hasilnya. Dengan begitu, hipotesis yang siswa berikan dapat dinyatakan benar atau tidak.

Selain itu, siswa juga berkesempatan untuk memberikan masukan, kritik, serta pertanyaan atas hasil yang siswa lain sampaikan.

6. Generalisasi

Fase ini akan membuat siswa untuk mengambil keputusan atau kesimpulan. Kesimpulan yang diambil merupakan suatu penjelasan tentang permasalahan yang mereka alami. Siswa juga dapat menjelaskan apa yang mereka temui selama melakukan eksperimen dan pengolahan data.

Pada tahap ini, Anda juga bisa memberikan masukan serta saran kepada setiap siswa.

Kelebihan Metode Discovery Learning

Metode discovery learning tentu memiliki beberapa keunggulan khususnya bagi para siswa. Belajar dengan metode ini akan membuat para siswa menjadi aktif dalam kegiatan belajar dan mengajar. Para siswa akan berusaha untuk mengeluarkan kemampuan mereka untuk menghasilkan kesimpulan yang baik.

Discovery learning untuk siswa adalah belajar dengan konsep observing. Maka dari itu, mereka dapat memahami sesuatu dengan baik dan pastinya, mereka tidak akan dengan mudah melupakan pelajaran tersebut.

Discovery learning yang mengharuskan para siswa untuk mengeksplorasi tentu akan membuat mereka merasa puas saat menemukan sesuatu. Dan dengan begitulah, semangat belajar para siswa akan terus meningkat.

Nilai tambah lainnya yang bisa didapatkan adalah kemampuan mereka untuk sharing atau transfer knowledge menjadi lebih mudah. Pasalnya, mereka mengenali dan memahami sendiri apa yang sudah mereka temukan. Dengan begitu, para siswa akan menjadi sosok yang lebih mandiri.

Implementasi Discovery Learning

Contoh implementasi discovery learning kali ini adalah tentang pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi siswa tingkat dasar. Para siswa harus memahami tentang listrik pada lingkungan. Para siswa harus memahami materi ini menggunakan metode discovery learning.

1. Fase Stimulus

Sebelum memulai, Anda bisa memberikan stimulus kepada para siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat fokus kepada topik kelistrikan pada saraf. Caranya adalah dengan memukulkan siku tangan para siswa ke meja.

2. Fase Identifikasi Masalah

Anda bisa memberikan mereka kesempatan untuk melakukan identifikasi terhadap hal yang baru saja terjadi. Pada tahap ini, Anda bisa bertanya apa respon mereka setelah memukulkan sikunya ke meja.

Setelah mengetahui responnya, Anda bisa menanyakan kepada para siswa kenapa siku bisa terasa sakit dan lain sebagainya. Kemudian, mintalah mereka untuk memberikan hipotesis sementara atas permasalahan tersebut.

3. Fase Mengumpulkan Data

Di fase ini, Anda bisa mengajak para siswa untuk mengumpulkan data atau informasi sebanyak-banyaknya agar bisa menjawab pertanyaan sebelumnya.

Caranya cukup mudah. Para siswa bisa membaca buku atau mengamati sebuah gambar yang berkaitan. Data dan informasi yang cukup akan membantu para siswa dalam membuktikan apakah hipotesis sementaranya benar atau salah.

4. Fase Mengolah Data

Para siswa akan melakukan diskusi dengan teman-teman untuk mengolah data yang sudah mereka kumpulkan tentang sel saraf manusia. Bukan hanya itu, para siswa juga harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah diidentifikasi.

5. Fase Pembuktian Hipotesis

Pada fase ini, para siswa harus memeriksa kembali tentang rumusan hipotesa yang mereka buat. Kemudian, para peserta akan mencocokan antara rumusan hipotesis dengan apa yang sudah mereka kumpulkan tentang sel saraf manusia. Setelah itu, akan ditemukan hasil sesuai atau tidak dari hipotesis tersebut.

6. Fase Generalisasi

Para siswa melakukan kesimpulan di fase ini. Mereka akan berdiskusi untuk membuat kesimpulan tentang sistem saraf tubuh yang berprinsip sama dengan listrik. Selain itu, para siswa bisa memberikan contoh lain yang bisa menghasilkan sifat kelistrikan.

Kesimpulan

Belajar dengan metode discovery learning mungkin terdengar baru bagi sebagian orang. Selain itu, muncul anggapan agar siswa memiliki kesiapan secara pikiran untuk bisa memahami sebuah relasi atau hubungan antarkonsep.

Metode ini membutuhkan kesiapan baik siswa maupun pengajar. Pasalnya, setiap pelajaran ditemukan oleh peserta didik dalam proses mencari. Sedangkan guru akan menjadi seorang fasilitator dan pembimbing bagi siswa.

Jika Anda ingin membentuk sebuah karakter yang mampu berpikir kritis, metode ini bisa menjadi solusi yang tepat. Siswa juga akan belajar tentang keterampilan dan emosi. Jadi, apakah Anda tertarik dengan metode discovery learning?

Baca Juga: Mengenal 4 Metode Pembelajaran Daring Yang Efektif – SEKOLAH PRESTASI GLOBAL

Apa Itu Discovery Learning?

Metode discovery learning sebenarnya merupakan pembelajaran yang mengharuskan siswa dan pengajar untuk sama-sama aktif, agar proses belajar mengajar menjadi semakin baik. Dengan metode ini, siswa bisa belajar secara mandiri, aktif, dan eksploratif.

Apa Kelebihan Metode Discovery Learning?

Metode discovery learning tentu memiliki beberapa keunggulan khususnya bagi para siswa. Belajar dengan metode ini akan membuat para siswa menjadi aktif dalam kegiatan belajar dan mengajar. Para siswa akan berusaha untuk mengeluarkan kemampuan mereka untuk menghasilkan kesimpulan yang baik.

Apa itu Fase Stimulus?

Sebelum memulai, Anda bisa memberikan stimulus kepada para siswa. Tujuannya adalah agar siswa dapat fokus kepada topik kelistrikan pada saraf. Caranya adalah dengan memukulkan siku tangan para siswa ke meja.

(Visited 23 times, 1 visits today)
WhatsApp WhatsApp us