Saat ini vaksin Covid-19 tidak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa, melainkan juga sudah diperuntukkan bagi anak-anak. Namun, sebagai orang tua, Anda harus aware mengenai kondisi sang buah hati sebelum proses vaksinasi. Sebab, anak dan remaja dengan 13 kondisi ini tak bisa suntik vaksin Covid-19.

  1. Suhu lebih dari 37,50C
  2. Tekanan darah lebih dari 140/100 mmHg
  3. Anak pernah menjadi penyintas Covid-19
  4. Si Anak pernah contact dengan pasien Covid-19
  5. Memiliki riwayat alergi berat
  6. Mengalami kelainan pembekuan darah atau hemofilia
  7. H-7 vaksinasi, anak demam, pilek, batuk, nyeri menelan. muntah, atau diare
  8. Jarak pelaksanaan vaksin kedua dengan pertama kurang dari satu bulan
  9. H-7 vaksinasi, anak pernah opname karena penyakit komorbid
  10. Imunitas anak terganggu
  11. Anak sedang menjalani sebuah terapi imunosupresan jangka panjang
  12. Diabetes yang tidak terkendali
  13. Melakukan imunisasi lain dengan jarak satu bulan sebelum vaksin

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai 13 kondisi tersebut, Anda bisa menuntaskan untuk membaca artikel ini. Pada artikel ini kami akan membahasnya secara detail.

Sehingga, sebagai orang tua Anda bisa lebih aware dan tidak panik saat teman-teman sang buah hati Anda sudah vaksin, sementara sang buah hati Anda belum.

Penyebab Anak dan Remaja dengan 13 Kondisi ini Tidak Bisa Vaksin

Vaksinasi untuk Anak dan Remaja - Sekolah Prestasi Global

Photo by halfpoint On Envato Elements

Dilansir dari nasional.kontan.co.id, dr Siti Nadia Tarmizi selaku Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan menjelaskan, ada sejumlah penyebab anak-anak gagal suntik vaksin Covid-19. Termasuk juga dalam hal ini remaja. Berikut penjelasan lengkapnya!

1. Suhu Lebih dari 37,50C

Badan dengan suhu tinggi lebih dari 37,50C biasanya sedang dalam kondisi demam. Ini berarti kondisi tubuh sang buah hati sedang tidak baik. Jika Anda paksa untuk vaksin, justru akan membuat sang buah hati drop.

Kami menyarankan Anda untuk tidak menyuruh anak melakukan proses vaksinasi terlebih dahulu. Lebih baik, tunggu hingga demamnya sembuh dan badan benar-benar bugar. Biasanya, minimal satu minggu setelah sembuh, proses vaksinasi bisa dilakukan.

2. Tekanan Darah Lebih dari 140/100 mmHg

Pada kondisi tertentu, anak-anak dan remaja bisa saja mengalami tekanan darah tinggi. Umumnya karena penyakit ginjal bawaan atau turunan, sleep apnea, kelainan bentuk/ fungsi aorta, penyakit paru obstruktif kronis, atau tiroid.

Penderita hipertensi bisa saja mengalami dampak yang lebih signifikan, yaitu sistem kekebalan tubuh cenderung mudah lemah. Sehingga berisiko terinfeksi corona dengan efek buruk atau mati karena infeksi.

Di satu sisi, sebenarnya penderita hipertensi masih bisa vaksin. Hanya saja harus menunggu 5 hingga 10 menit terlebih dahulu. Jika ternyata tekanan darahnya masih tinggi, terpaksa rencana vaksin harus tertunda.

3. Anak Pernah Menjadi Penyintas Covid-19

Sebagai orang tua, tentu ketika sang buah hati pernah menjadi penyintas Covid-19, ada pertanyaan tersendiri di benak Anda. Apakah anak yang pernah menjadi penyintas Covid-19 bisa suntik vaksin?

Jawabannya adalah bisa, namun harus menunggu selama 3 bulan setelah sembuh dari Covid-19. Begitu pun harus dalam kondisi sehat sebelum melakukan vaksin.

Sebab, menurut Prof. Zullies Ikawati, Ph.D selaku Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, penyintas Covid-19 bukanlah termasuk prioritas yang perlu mendapat vaksin. Selama terinfeksi virus, tubuh sudah membangun antibodinya sendiri. Sehingga, kekebalan tubuh anak dalam keadaan baik.

Namun, setelah 3 bulan, kekebalan dalam tubuh anak Anda bisa menurun. Oleh karena itu, perlunya suntikan vaksin agar kekebalan tubuh kembali baik.

4. Si Anak Pernah Contact dengan Pasien Covid-19

Anak Vaksin Covid-19 - Sekolah Prestasi Global

Photo by twenty20photos On Envato Elements

Baik si anak melakukan kontak erat maupun tidak, yang namanya Covid-19 itu mudah menular. Jika merasa demikian, akan lebih baik jangan terburu-buru untuk vaksin. Tunggu lah paling tidak hingga dua minggu.

Begitupun ketika anak Anda akan vaksin, pasti akan di skrining terlebih dahulu oleh petugas. Jika kesehatan anak bagus, tidak ada riwayat penyakit lain yang membahayakan, anak tidak sedang mengalami infeksi Covid-19, maka proses vaksin bisa dilakukan.

5. Memiliki Riwayat Alergi Berat

Alergi yang kami maksud ada bermacam-macam. Bisa dari alergi obat, makanan, hingga alergi berat seperti asma. Anak yang mengalami alergi ringan belum tentu alergi vaksin.

Sementara anak yang mengalami alergi berat lebih baik untuk menunda vaksin hingga kondisi terkontrol dengan baik.

Ini sejalan dengan penjelasan Profesor Iris Rengganis, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, bahwa orang yang memiliki alergi tertentu boleh untuk vaksin.

Pun jika ternyata alergi baru terjadi setelah vaksin dosis satu, maka tidak kami anjurkan untuk vaksin dosis dua.

6. Mengalami Kelainan Pembekuan Darah atau Hemofilia

Hemofilia terjadi akibat kekurangan faktor VII dan IX. Jika anak Anda mengalami kelainan ini, maka lebih baik untuk konsultasi terlebih dahulu kepada ahlinya. Dalam artian, bisa konsultasi ke rumah sakit dan jika memungkinkan untuk vaksin, maka pelaksanaan vaksin di rumah sakit.

7. H-7 Vaksinasi, Anak Demam, Pilek, Batuk, Nyeri Menelan, Muntah, atau Diare

Batuk, pilek, nyeri menelan dan beberapa penyakit di atas seringkali identik dengan gejala terinfeksi Covid-19. Sehingga, ketika anak Anda melakukan vaksin, justru akan membahayakan orang-orang di sekitar yang rentan terpapar virus Covid-19.

Dikutip dari Prevention, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) tidak menyarankan untuk melakukan vaksin apabila kondisinya mengalami gejala tersebut.

Jadi, lebih baik Anda memberi pengertian kepada anak untuk bersabar dan tetap menjaga protokol kesehatan, hingga kondisi tubuh siap untuk vaksin.

8. Jarak Pelaksanaan Vaksin Kedua dengan Pertama Kurang dari Satu Bulan

Menurut hasil penelitian, jika interval jarak pelaksanaan vaksin tidak sesuai jadwal, baik itu mendahului bahkan terlambat, bisa menyebabkan vaksin tidak bekerja secara optimal.

Contohnya dari uji klinis vaksin Sinovac yang ditentukan pada hari ke-28 merupakan angka titer antibodi tertinggi dan akan menurun 7-10 hari kemudian.

9. H-7 Vaksinasi, Anak Pernah Opname karena Penyakit Komorbid

Komorbid adalah kondisi seseorang karena seseorang tersebut menderita dua penyakit atau bahkan lebih dalam waktu yang bersamaan. Umumnya, penyakit ini bersifat kronis dan menahun, seperti kanker.

Jika anak Anda menderita penyakit komorbid, maka kondisi kesehatannya harus mendapat perhatian terlebih dahulu secara keseluruhan oleh dokter dan Anda.

Sebab, dengan kondisi seperti ini riskan mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh. Sementara, agar bisa vaksin, sistem kekebalan tubuh sang buah hati harus bagus.

10. Imunitas Anak Terganggu

Suntik Vaksin Covid-19 Anak dan Remaja - Sekolah Prestasi Global

Photo by TrendsetterImages On Envato Elemets

Prioritas pertama sebelum vaksin adalah imunitas harus bagus. Sebab, jika imun anak tidak bagus dan tetap melakukan vaksin, bisa saja rentan berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh dan interaksi obat.

11. Anak Sedang Menjalani Sebuah Terapi Imunosupresan Jangka Panjang

Jika anak Anda menderita penyakit seperti itu, kami tidak menyarankan untuk melakukan vaksin. Sebab, hal ini riskan terjadi efek samping berupa masalah kesehatan.

Begitupun, jika misal anak Anda turut menggunakan suplemen, maka harus konsultasi terlebih dahulu kepada dokter untuk menghindari interaksi obat.

12. Diabetes yang Tidak Terkendali

Sebagai orang tua tentu Anda merasa ragu untuk menyuruh anak yang menderita diabetes melakukan vaksin. Ini karena merasa diabetes tersebut bisa mempengaruhi kesehatan pada banyak organ penting anak, terutama jantung. Ya, benar. Tetapi itu hanya untuk diabetes yang tidak terkendali.

Selama diabetes yang anak derita masih terkendali, terutama diabetes melitus tipe 1, justru harus segera melakukan vaksin. Tujuannya agar kondisi tubuh tidak semakin parah ketika hal buruk terjadi, seperti terinfeksi Covid-19.

13. Melakukan Imunisasi Lain dengan Jarak Satu Bulan Sebelum Vaksin

Sering kali orang mengartikan imunisasi dan vaksin adalah suatu hal yang sama. Secara tujuan memang sama, yaitu agar bisa meningkatkan daya tahan (imunitas) tubuh terhadap penyakit tertentu. Namun, keduanya memiliki makna yang berbeda.

Imunisasi lebih kepada proses dari dalam tubuh agar anak memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit. Sementara vaksin lebih kepada proses meningkatkan produksi antibodi untuk menangkal penyakit tertentu.

Anak tidak bisa begitu saja mendapat vaksin apabila telah melakukan imunisasi lain satu bulan ke belakang sebelum vaksin. Ini karena ada kekhawatiran imunitas dan vaksin akan bertabrakan. Dampaknya, keduanya tidak bisa bekerja secara optimal di dalam tubuh.

Jadi, itulah kelompok anak dan remaja yang tidak boleh vaksin. Meskipun menurut Joseph Khabbaza, seorang ahli paru-paru yang berasal dari Cleveland Clinik, vaksin bisa menjadi salah satu cara untuk mencapai herd immunity dan sangat efektif dalam melawan mutasi varian virus Corona. Tetapi tetap saja, Anda harus memperhatikan faktor lain.

Kesimpulan

Jika anak mengalami 13 kondisi tersebut, sementara sebagai orang tua Anda terus memaksa anak untuk melakukan vaksin. Takutnya dampak vaksin akan berpengaruh terhadap kesehatan anak. Selama memang masih bisa menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, kami rasa itu akan sangat membantu untuk anak terhindar dari infeksi Covid-19.

Tetapi, sebagai orang tua, Anda juga tidak boleh mengabaikan aturan yang ada. Lakukan skrining kesehatan terlebih dahulu kepada anak, baik itu melalui petugas vaksin publik maupun konsultasi langsung kepada dokter ahlinya di rumah sakit. Jika memungkinkan untuk vaksin, segera ajak anak untuk vaksin.

IDAI sudah menyetujui percepatan pelaksanaan vaksin Covid-19 bagi anak usia 12 hingga 17 tahun, sembari menunggu hasil riset tentang keamanan vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 3 hingga 11 tahun. Selain itu, berdasarkan prinsip kehati-hatian, lebih baik imunisasi dimulai untuk usia 12 hingga 17 tahun.

Untuk syarat vaksin anak dan remaja tidak jauh berbeda dengan orang dewasa. Selain kondisi prima menjadi prioritas utama, juga harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Usia 12 hingga 17 tahun
  • Dosis 3 ug (0,5 ml), penyuntikan intramuskular pada otot deltoid lengan atas, diberikan sebanyak dua kali dengan interval jarak 1 bulan
  • Usia 3 hingga 11 tahun masih menunggu kajian lebih lanjut

Semoga informasi berikut mengenai ‘anak dan remaja dengan kondisi 13 ini tak bisa suntik vaksin bisa menjadi perhatian Anda sebagai orang tua agar lebih aware ya?’ Karena kami yakin, sebagai orang tua sang buah hati, khususnya yang bersekolah di Prestasi Global, pasti Anda selalu update informasi dan taat pada aturan pemerintah.

Baca Juga: Ini Dia yang perlu Ayah Bunda Ketahui, 11 Anjuran IDAI untuk Cegah Anak Terpapar Covid-19

Apa yang membuat anak dan remaja tidak bisa suntik vaksin Covid-19?

Yang membuat anak dan remaja tidak bisa suntik vaksin Covid-19 yaitu ada beberapa kondisi yang harus orang tua lebih perhatikan tentang kondisi anak yang bisa menyebabkan anak dan remaja tidak bisa suntik vaksin Covid-19

Syarat apa saja agar bisa mengikuti suntik Covid-19?

Syaratnya yaitu: 1. Usia 12 hingga 17 tahun 2. Dosis 3 ug (0,5 ml), penyuntikan intramuskular pada otot deltoid lengan atas, diberikan sebanyak dua kali dengan interval jarak 1 bulan 3. Usia 3 hingga 11 tahun masih menunggu kajian lebih lanjut

Mengapa imunitas harus bagus ketika ingin suntik Covid-19?

Karena jika imunitas terganggu vaksin bisa saja rentan berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh dan interaksi tubuh